My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Hamil



Alex duduk termenung di ruang tunggu IGD sebuah rumah sakit. Dia membawa Arumi ke rumah sakit terdekat dari taman yang mereka kunjungi, tak lebih dari tiga ratus meter dari taman, rumah sakit itu berada. Tentunya bukan rumah sakit tempat Alex bekerja.


Alex tersenyum getir, mengetahui Arumi tengah berbadan dua. Ada seorang anak diantara Arumi dan suaminya. Pergulatan batin yang cukup sengit kini Alex rasakan. Sepertinya ia tak sampai hati untuk bersikap egois, memisahkan Arumi dan suaminya. Ia tak ingin mengorbankan perasaan seorang anak tak berdosa karena rasa cinta matinya terhadap Arumi.


"Tuan, istri Anda sudah sadar," ucap seorang perawat yang memberitahukan kondisi Arumi pada Alex.


Alex segera beranjak dari kursi duduknya, ia berjalan menghampiri Arumi dengan langkah gontai dan beratnya. Tak mudah baginya untuk mematahkan hatinya pada cinta pertamanya itu.


"Arumi, apa yang kamu rasakan saat ini?" Tanya Alex pada Arumi yang menatap kosong langit-langit rumah sakit.


"Sedih, hanya itu." Jawab Arumi dengan suara lirihnya. Baru saja seorang Dokter yang mengobservasi dirinya, mengatakan jika kini dirinya tengah berbadan dua.


"Kenapa harus sedih, bukannya seharusnya kamu bahagia?" Tanya Alex yang malah membuat Arumi menitikan air mata dalam diamnya.


Pertanyaan Alex membuatnya ingat akan kata-kata Barra yang tak menginginkan keturunan yang lahir dari rahim wanita busuk seperti dirinya.


"Kenapa calon anakku harus bernasib sama seperti ku Lex, tak diinginkan?"


Deg! [Pertanyaan Arumi membuat jantung Alex ingin berhenti, ia terenyuh dengan pertanyaan Arumi].


"Kamu bilang apa barusan Arumi?" Tanya Alex yang meyakinkan lagi pertanyaan Arumi barusan.


"Kenapa calon anakku harus bernasib sama seperti ku Lex, tak diinginkan? Bayi dalam kandunganku ini tak diinginkan oleh Ayahnya. Dia tak ingin memiliki anak dari rahim wanita busuk seperti aku. Suami ku tak pernah sedikit pun mencintai aku, Lex. Dia hanya menganggap diriku sebagai panter ranjangnya. Dia sangat mencintai kekasihnya yang sudah jelas pergi dan mengkhianatinya." Ucap Arumi yang akhirnya menceritakan masalah rumah tangganya pada Alex.


Deg [Jantung Alex kembali tersentak mendengar penuturan Arumi].


Alex merasa kakinya seakan tak bertulang mendengar ucapan Arumi yang menyayat hatinya. Ia segera berpegangan pada brankar yang ditempatkan Arumi berbaring di atasnya, tumpahlah air mata Alex mendengar penderitaan wanita yang dicintainya.


"Arumi..." Cicit Alex memanggil Arumi yang sedikit meremas perut datarnya.


Alex menggenggam tangan Arumi, agar tak menyakiti dirinya dan calon bayinya.


"Dia tak bersalah, jangan sakiti dia!" Ucap Alex saat ia menggenggam tangan Arumi.


"Dia akan bernasib sama seperti ku, Lex. Aku mau pergi Lex, aku mau pergi menghilang dari hidupnya, aku tak mau anak ini merasakan pahitnya penolakan dari Ayahnya sendiri." Ucap Arumi sembari menatap mata Alex.


"Semudah itu kamu bicara Lex, apa kamu tidak berpikir bagaimana kedua orang tua mu nanti menolak anak ku dan diriku." Sanggah Arumi masih dengan senyum getirnya.


"Kita tak perlu menikah Arumi, aku tak akan pernah merebut mu dari dirinya. Jangan pernah berpikir terlalu jauh. Meskipun kita tidak menikah, aku akan menjadi sosok ayah untuk anak mu nanti. Tak perduli bagaimana respon kedua orang tua ku nantinya. Jika suamimu melepas mu, aku akan memperjuangkan mu. Aku bukan pria seperti Bowo, Arumi. Akan ku pertaruhkan jiwa dan ragaku untuk mu, jika memang takdir ingin kita bersatu." Ucap Alex dengan tulus.


Setelah kondisi Arumi membaik, dokter mengizinkan Arumi untuk pulang. Alex kembali mengantar Arumi ke taman, guna mengambil kendaraannya. Sebelum sampai di taman, Arumi diajak makan terlebih dahulu oleh Alex. Karena ia mendengar dengan jelas, suara cacing-cacing Arumi sudah berteriak minta diberi makan.


"Kamu harus rajin minum vitamin ini, dan juga minum susu ibu hamil. Nutrisi mu harus terjaga, agar bayi mu tetap sehat dan kuat seperti ibunya," ucap Alex saat menyodorkan sebuah susu hangat yang ia buat sendiri dan menunjukkan vitamin yang harus ia minum.sebelum tidur nanti.


Sewaktu Arumi sedang makan, Alex pergi sejenak meninggalkan Arumi. Ia pergi membeli susu ibu hamil dengan perasa coklat di mini market terdekat. Kemudian ia meminta air hangat pada pemilik kedai untuk membuat susu hangat untu Arumi.


"Humm, terima kasih Pak Dokter." Jawab Arumi yang menerima susu itu dan meneguknya hingga habis.


Alex mengikuti mobil Arumi hingga masuk ke dalam sebuah apartemen elit di pusat kota. Tak sekedar ingin tahu dimana Arumi tinggal tapi juga ingin memastikan kondisi Arumi baik-baik saja.


Sesampainya di unit apartemen, ia segera pergi ke dapur meletakkan susu yang di belikan Alex ke dalam wadah toples. Sebelumnya ia sudah membuang kardus pembungkus susu itu di tempat sampah parkiran. Selesai memasukkan susu ke dalam wadahnya, Arumi segera meminum vitamin yang diberikan Dokter padanya tadi.


Setelah kegiatan di dapurnya selesai, ia segera masuk ke dalam kamarnya, membersihkan diri dan pergi tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Ia tak memperdulikan keberadaan suaminya ada dimana.


Dengan sekejap, mata lelah Arumi pun terpejam, Barra yang sejak tadi ada di dalam kamarnya dan mendengar suara berisik di dapur pun, sudah mengetahui jika istrinya itu sudah kembali.


Barra keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Arumi, ia membuka pintu dengan perlahan, ia berjalan dengan mengendap-endap saat ia dapati istrinya sudah tertidur masih dengan rambut yang basah.


"Bisa-bisanya kamu tidur dengan rambut sebasah ini, dasar pemalas! Bukannya dikeringkan dulu! Kamu bisa sakit jika punya kebiasaan buruk seperti ini." ucap Barra yang sudah ada di atas ranjang Arumi.


Ia berbaring di samping sang istri. Seperti biasa. Ia tak akan bisa tidur jika tidak ada Arumi di sisinya. Bisa dibayangkan nanti, ketika Arumi pergi meninggalkan dia. Betapa dia akan tersiksa tanpa Arumi di sisinya.


Pagi pun datang, sinar sang fajar menyapa lembut wajah Arumi yang tidur begitu pulasnya tadi malam, hingga ia bangun kesiangan seperti ini. Bukannya buru-buru bangun untuk menyiapkan sarapan. Arumi malah terlihat begitu santai.


Saat ia ingin merubah posisi tidurnya. Arumi malah melihat sebuah tangan besar tengah melingkar di pinggangnya. Telapak tangan yang kemarin telah mengukir luka di wajahnya, kini berada tepat di atas perutnya. Arumi mengambil telapak tangan Barra itu, kemudian menggerakkan telapak tangan itu di atas permukaan kulit perutnya.


"Anakku sayang, ini tangan Ayahmu nak, kamu akan berkesempatan merasakan belaian tangan Ayahmu, hingga saatnya nanti kita akan pergi meninggalkan dia yang tak menginginkan kehadiran kita di dalam hidupnya sayang, kita akan selalu mendoakan semoga Ayahmu bahagia dengan kekasih yang sangat dicintai olehnya itu." Ucap Arumi di dalam hatinya saat menggerakkan tangan Barra di atas perutnya.