My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kesepakatan Barra dan Adnan



"Mau sampai kapan kamu tinggal di sini Adnan? Kamu tidak ingin pulang kerumah? Pasti anak dan istrimu sudah mencari dan menunggu mu pulang." Ucap Abimanyu setelah selesai makan malamnya.


"Aku tak akan pulang lagi ke rumah itu Ayah, aku sudah mengajukan gugatan cerai, tinggal menunggu jadwal persidangan." Tanggap Adnan dengan santainya sembari menyeruput es teh manis buatan Barra.


Ya Barra membuatkan es teh manis untuknya sebagai ucapan terima kasih sudah mencuci kemeja putihnya hingga bersih.


"Owhh, jadi itu akhir keputusan mu Adnan?" Tanya Abimanyu memastikan.


"Iya itu keputusan final ku Ayah. Aku sudah tidak tahan lagi. Sekarang aku akan memulai hidup dan karirku dari nol lagi. Praktis setelah aku mengajukan gugatan cerai pada Septi hari ini, aku sudah tak bekerja lagi pada mereka." Jawab Adnan dengan tenangnya.


Terlihat ia sudah benar-benar membuat keputusan yang tepat bagi hidupnya. "Lantas apa langkah selanjutnya untuk hidupmu jika kamu tidak bekerja? Pekerjaan budidaya ikan Ayah sudah di urus oleh Barra, jadi carilah pekerjaan lainnya, agar kamu tetap bisa menjalankan kewajibanmu untuk menafkahi putramu dari Septi." Tanya Abimanyu dan sekaligus mengingatkan putranya.


"Aku sedang mencoba berpikir, mau mencari kerja atau membuka sebuah usaha baru." Jawab Adnan yang kini terlihat bingung.


Tadinya memang ia ingin mengurus ikan-ikan ternak ayahnya, namun Ayahnya sudah bicara seperti itu, dia harus berpikir keras lagi untuk merancang masa depannya.


"Jika aku boleh aku bicara dan memberi usul, bekerjalah di salah satu supermarket milik keluarga ku. Kak Adnan bisa langsung bekerja mulai esok hari. Kebetulan pemimpin supermarket milik ku, sudah masuk masa pensiun dan belum ada yang menggantikannya." Usul Barra pada Adnan yang membuat Adnan tersenyum.


"Sepertinya kamu kaya sekali, semuanya kamu miliki, hanya adikku saja yang belum kamu miliki hahahaha..." sahut Adnan yang malah mengejek Barra.


"Aku ini berniat baik pada mu Kakak ipar, kenapa kamu seperti meledekku hah. Tentu saja aku ini adalah pemilik mutlak atas adikmu, hanya saja ia sedang dibawa pergi oleh kedua orang tua ku." Ucap Barra dengan berapi-api pada awalnya dan mulai meredup dan menunduk karena sedih di kalimat terakhirnya.


"Bersemangatlah. Adikku pasti kembali, karena kau sudah banyak berubah, walaupun masih saja menyebalkan." Balas Adnan sembari memukul pundak Barra dengan sekencang-kecangnya.


"Sakit! Bisakah lebih kencang lagi!" Sindir Barra yang membuat Adnan tersenyum.


"Dengan senang hati." Balas Adnan yang sudah siap memukul kembali Barra.


"ADNAN BARRA!!" Pekik Arabella dengan tatapan mautnya. Ia sudah siap-siap mengeluarkan tanduknya jika mereka berkelahi di depan mata dirinya.


"Hehehehe... kita bercanda kok Bu, gak serius." Ucap Barra dan Adnan dengan kompak.


"Terserah! Rapikan meja makan ini. Ibu lelah. Cuci piringnya jangn lupa durinya buang ke tong sampah dengan benar." Balas Arabella yang kemudian pergi mencuci tangan dan masuk ke kamar.


"Arghhh... sepertinya Ayah juga lelah hari ini, tak dapat duduk di kereta. Ayah ingin tidur lebih awal."


Tuing! [Barra dan Adnan saling bertukar pandangan satu sama lain].


"Kau yang mencuci aku yang membilas!" Perintah Adnan pada Barra dan Barra pun hanya bisa mengiyakan sembari mendengus sebal.


"Ya, Tuhan. Hidup macam apa ini. Hidup tanpa istri begitu berat. Tolong ampuni aku Arumi, cepatlah kembali." Gumam Barra di dalam hatinya. Ia begitu lirih membayangkan hidupnya saat ini. Kehidupan yang ia jalani benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan terdahulunya.


Keesokan harinya saat ia sedang memberi makan ikan Barra menghampiri Arabella yang sedang menyiangi sayuran untuk makan siang dan juga makan malam.


"Bu, kemarin aku mencari ibu, ingin memberitahukan kabar istriku." Ucap Barra pada Arabella.


"Istriku baik-baik saja, katanya calon anakku berjenis kelamin laki-laki Bu. Dia sering menendang perut Arumi saat malam hari, katanya baru bisa tenang jika kedua orang tua ku mengelus perutnya." Jawab Barra dengan bersemangat.


"Ah benarkah? Jangan-jangan calon anak mu sedang merindukan mu Nak! Cepat cari dia dan bawa pulang dia, ibu sangat merindukannya."


"Aku terus berusaha bu, meski Daddy terus menutup jalan ku untuk menemukannya. Sebenarnya Steve calon menantu ibu tahu dimana istriku. Karena Anaya ada bersama dengan dia dan Arumi."


"Ya, kamu benar Nak. Steve mamang tahu dimana Arumi disembunyikan tapi dia tidak bisa ibu hubungi. Nomornya tidak aktif,"


"Sepertinya dia sengaja melakukannya bu, pasti Aki-aki tua bangka itu yang menyuruhnya, tapi seharusnya ia pikirkan bagaimana perasaan ibu. Dia itu calon menantu yang tak bisa memahami hati ibu mertuanya." Barra mulai memprovokasi ibu mertuanya agar bersekutu dengannya. Barra sangat dendam dengan Steve yang tak mau diajak kerja sama untuk memberi tahukan dimana keberadaan Arumi dengan kedua orang tuanya


"Kamu benar Nak, nanti jika dia sudah menjadi menantu ibu, ibu akan membalasnya, dan kamu harus mau membantu ibu."


"Tentu Bu. Aku akan selalu membantu ibu."


"Cih, menantu penjilat." Ucap Adnan yang baru datang entah darimana.


Ternyata obrolan antara ibu mertua dan menantunya itu di dengar oleh Adnan sejak awal .


"Aku ini bukan penjilat, jangan sembarangan bicara kau." Protes Barra yang ingin meninju Adnan namun tidak jadi karena mendapat tatapan tajam dari Arabella.


"Kalau kalian mau balas dendam dengan Steve, aku pun akan ikut bersekutu dengan kalian. Dia itu jadi calon adik ipar kaku dan sombong sekali. Dia sering menjauhkan aku dari adikku sendiri. Padahalkan aku ini kakak kandungnya, masa mau peluk dan cium saja tidak boleh. Ishhh keterlaluan dan menyebalkan sekali dia." Ucap Adnan yang mengingat bagaimana Steve selalu menjadi penghalang dirinya dan Anaya.


Padahal untuk menemui Anaya butuh perjuangan keras darinya. Karena istrinya tak pernah mengizinkan dirinya untuk menemui saudaranya ataupun orang tuanya tanpa dirinya. Saat pergi bersama untuk ngobrol bersama pun Septi selalu membatasinya.


"Kalau begitu kita sepakat ya?" Tanya Barra yang mengulurkan tangan pada Adnan untuk berjabat tangan. Adnan pun menerimanya dan berjabat tangan dengan Barra.


"Lawan kita berat Barra, Anaya tak mungkin memukuli ku karena aku kakaknya, tapi dia pasti menghabisi mu karena menyentuh arjunanya. Ingat kau pernah masuk rumah sakit hingga berkali-kali karena dirinya." Bisik Adnan di telinga Barra.


"Aku sudah banyak berlatih, kali ini aku tidak akan kalah dari dirinya." Balas Barra dengan sombongnya.


"Hilih,,,, buktikan saja nanti." Ucap Adnan tidak yakin.


"Hei, kalian bicarakan apa?" Tanya Arabella pada anak dan menantunya.


"Tidak ada bu, kami tidak bicara apa-apa." Kilah keduanya dengan kompak seperti biasanya.


"Kalian main rahasia-rahasiaan sama ibu. Baiklah. Barra selesaikan pekerjaan mu, jangan sampai ayah marah-marah karena ketidak becusanmu mengurus ikan. Adnan bantu ibu kupasin bawang. Tiba-tiba ibu lelah sekali dan mengantuk." Ucap Arabella yang memberikan keranjang bawang dan pisau pada Adnan.


"Terimalah nasib kita yang jadi pecundang dihadapan mereka." Ucap Adnan pada Barra sembari mengupas bawang merah yang membuat mata Adnan berlinang air mata.


"Cengeng sekali baru disuruh ngupas bawang kau sudah menangis kakak ipar." Ledek Barra yang dihadiahi lemparan bawang oleh Adnan.


Keduanya pun tertawa menikmati tugas tak biasa yang diberikan Arabella dan Abimanyu pada mereka.