My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Mengetahui keberadaan Arumi



Pagi ini tidak seperti pagi pada hari biasanya. Barra sudah rapih dengan setelan kerjanya. Abimanyu menatap tak suka dengan penampilan Barra pagi ini. Ia terus saja melirik penampilan Barra dari atas hingga ke bawah.


"Ayah, kenapa melihat ku seperti itu? Apa ada yang aneh?" Tanya Barra sembari menarik kursi meja makan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Abimanyu singkat, ia masih tak melepaskan tatapan matanya pada Barra.


"Kerja Ayah, hari ini Barra ada meeting penting dengan Tuan Marco." Jawab Barra yang membuat Abimanyu manggut-manggut seperti orang yang sudah paham.


"Ohh kamu mau meeting. Lantas bagaimana dengan ikan-ikan Ayah? Siapa yang akan memberi makan ikan-ikan Ayah nanti jika kamu bekerja sepagi ini?" Tanya Abimanyu yang membuat Barra segera melirik ke arah Adnan.


Barra seakan meminta bantuan pada kakak iparnya itu. Namun Adnan tetaplah Adnan, dia selalu tak bisa diandalkan ketika Barra membutuhkannya. Adnan malah terlihat cuek dan memilih sibuk menyantap sarapan paginya.


"Kak," panggil Barra, dengan bermain mata dan kakinya menyenggol kaki Adnan yang duduk di depannya. Adnan pura-pura tuli, tak mendengar panggilan Barra dan berusaha menahan sakit ketika tulang kering kakinya di tendang oleh Barra.


"Ummppphhh... adik ipar si4lan." Umpat Adnan saat menahan sakit di tulang kering kakinya.


"Rasakan, itulah akibat jika tak mau membantuku," gumam Barra yang geram, saat melihat ekpresi kesakitan Adnan.


"TERUSIN...terusin saja. Anggap saja Ibu dan Ayah tidak ada. Kalian ini kerjaannya ribut terus." Geram Arabella yang sejak tadi memperhatikan anak dan menantunya yang selalu jadi Tom and Jerry.


"Adnan gak ribut kok Bu, dari tadi Adnan diem saja. Makan masakan ibu yang enak ini." Adnan berusaha membela dirinya dan bersikap layaknya penjilat ulung.


"Ya, kamu memang gak ribut. Tapi sikap diam mu ini memancing keributan." Sahut Arabella yang seakan membela Barra, menantu kesayangannya, dibandingkan dirinya yang merupakan putranya sendiri. Melihat dirinya dibela sang ibu mertua, Barra tersenyum senang. Hal ini membuat Adnan sedih dan langsung mengajukan protes pada Arabella.


"Bu, kenapa Ibu bela dia? Aku ini anak mu Bu. Bela aku Bu." Protes Adnan dengan ekspresinya yang seperti anak kecil minta dibelikan es cream.


"Brisik! Rumah ini kenapa jadi brisik semenjak kedatangan kalian berdua? Dulu ada Anaya dan Arumi tak sebrisik ini." Protes Abimanyu yang malah membuat Arabella membulatkan matanya pada sang suami.


"Terang saja suasana di rumah ini jadi brisik, karena Ayahlah biang keroknya." Sahut Arabella yang tidak suka dengan protesan Abimanyu.


"Loh kok Ibu sebut Ayah biang kerok? Memangnya Ayah lakukan apa bu?"


"Ya semua keributan di rumah ini awal muasalnya dari Ayah. Sudah tahu Barra harus bekerja hari ini, Ayah masih mentingin ikan-ikan Ayah. Kalau hanya memberi makan ikan, bisa ibu lakukan. Dulu juga ibu yang lakukan. Memangnya siapa?" Sahut Arabella yang masih membela Barra.


"Kau bela dia lagi, aku ini suami mu. Pesona ku benar-benar pudar dimata mu, sayang." Cicit Abimanyu di dalam hatinya. Ternyata tak hanya Adnan yang cemburu dengan Barra, Abimanyu pun juga merasakannya.


"Ayah kan hanya tak ingin Ibu lelah saja, kalau punya menantu bisa bantu pekerjaan ibu, kenapa tidak bu?"


"Tapi menantu mu itu punya tanggung jawab yang besar Ayah. Dia itu pemimpin perusahaan bukan pimpinan kolam empang Ayah----" Jawab Arabella yang belum selesai karena tawa Adnan yang pecah membuat Arabella berhenti bicara.


"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Arabella dengan wajah judesnya.


"Tidak bu. Tidak." Jawab Adnan cepat, ia segera menundukkan pandangannya.


Begitu pula dengan Barra yang sejak tadi sudah meneunduk dan berusaha menelan makanan paginya meski sulit di tengah perselisihan di pagi ini. Jika sarapan yang dibuat Arabella tak ia habis, dapat dipastikan ia tak akan bisa berangkat bekerja.


Setelah drama di meja makan. Akhirnya Barra tetap bisa bekerja pagi ini dan melepaskan tanggung jawabnya dari tugas yang diberikan Ayah mertuanya pada dirinya. Namun tetap saja, saat ia lolos dari tugas yang satu, Abimanyu tak kehilangan akal untuk menjerat Barra dengan tugas yang lainnya. Ia mengizinkan Barra bekerja asal dengan satu syarat yang membuat hidup Barra mengalami kesulitan. Bagaimana tidak Abimanyu minta di antar ke tempat kerjanya oleh Barra. Barra akan bertemu Tuan Marco di Jakarta Utara, sedang ia harus mengantar Abimanyu ke Bogor. Sedang tempat tinggal mereka ada di Jakarta Timur.


"Tumben sekali Anda telat Tuan Barra?" Tanya Tuan Marco dengan senyum penuh arti pada Barra.


Wajahnya tetap terlihat ramah, meski pun mereka pernah berkelahi karena seorang wanita beragenda seperti Pinkan.


"Ah, maaf Tuan Maco, saya harus mengantar mertua saya ke tempat kerjanya dulu tadi." Jawab Barra jujur. Kini sekecil apapun tentang Arumi, Barra terus mengakuinya tanpa rasa malu.


"Owh... begitu ya. Ternyata Anda menantu yang sangat baik rupanya ya." Ucap Tuan Marco yang sedikit memuji Barra.


"Hahaha... ternyata Anda pandai memuji ya Tuan Marco, pantas saja Anda begitu mudah mendapatkan perempuan itu dulu." Balas Barra yang masih mengingat sosok Pinkan.


"Hahaha... saya tidak pernah memuji dia, dia yang datang sendiri menawarkan diri pada saya. Kucing mana yang tak menolak diberi ikan hum? Tapi si4lnya saya, ikan yang saya dapatkan ternyata asli tapi palsu, palsu tapi asli Hahaha... tolong lupakan! Itu adalah masa lalu dari kebodohan saya, ini aib yang harus kita tutupi bersama bukan?" Sahut Tuan Marco yang terus menertawai kebodohannya sendiri.


Tak jauh dari Tuan Marco, Barra pun ikut tertawa, ia juga menertawai kebodohannya.


"Saya dengar dia sudah menikah dengan Ingo, salah satu pengusaha otomotif." Ucap Barra yang malah membahas Pinkan bukan bisnis mereka.


Jujur kedua asisten dari kedua Tuan muda ini, yang duduk tepat di samping mereka bersama sekertaris mereka sangat merasa kesal. Karena kedua Tuan muda mereka sudah membuang-buang waktu untuk menceritakan perempuan yang tak penting. Perempuan yang pernah membuat hidup mereka susah dan kesulitan.


"Ya, saya datang diacara pernikahannya. Dia memberikan undangan penikahannya secara langsung pada saya, mungkin begitu pula pada Anda, Tuan Barra. Bukab begitu?" Jawab Tuan Marco.


"Ya, dia mengantarkan undangannya tapi saya tak mau menemuinya. Sepertinya dia sengaja ingin menunjukkan pada barisan para mantannya, jika dia bisa mendapatkan pria lain yang dia pandang lebih dari kita." Balas Barra dengan isi pemikirannya.


"Ya sepertinya begitu. Oh iya, ngomong-ngomong. Saya sampai lupa untuk memberikan selamat pada Anda, sebentar lagi Anda akan segera menjadi seorang Ayah bukan?"


"Bagaimana Anda tahu istri saya sedang hamil, Tuan Marco?" Tanya Barra dengan raut wajah yang serius menatap manik mata Tuan Marco. Pasalnya tidak ada satupun rekan bisnisnya yang tahu tentang kehamilan Arumi.


"Tentu saya tahu, karena saya bertemu dengan kedua orang tua Anda, saat mereka mengantar istri Anda untuk melakukan pemeriksaan kehamilan rutin istri Anda di salah satu rumah sakit ternama di New York, dan saya pun pernah dua kali mampir ke salah satu mansion keluarga Anda di Meadow Lane." Jawab Tuan Marco yang membuat Barra tersenyum senang. Dia sudah mengetahui dimana Arumi berada saat ini.


"Tunggu aku sayang, aku akan segera datang menyusul mu." Gumam Barra di dalam hatinya yang berbunga-bunga telah mengetahui tempat persembunyian Arumi.