My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Barra vs Adnan



Plak! [Pukul Arabella pada punggung menantunya].


"Aduh ibu sakit," rintih Barra sembari mengusap punggungnya yang terasa pedas.


"Sudah ibu bilang berkali-kali, ganti baju dulu baru turun ke empang, kamu tidak merasakan bagaimana susahnya mencuci baju kotormu itu hah." Omel Arabella pada menantunya.


"Buang saja, kalau susah di cuci Bu." Balas Barra dengan gampangnya.


"Hah, buang-buang! Memangnya beli itu tidak pakai uang. Sudah Ibu dan Ayah katakan di sini kamu harus hidup prihatin kalau tidak suka, sana pulang ke rumah mu." Omel Arabella yang berujung mengusir menantunya.


Barra langsung kalang kabut dan memohon maaf pada ibu mertuanya.


"Ibu, maaf. Jangan usir aku! Aku tak bisa hidup tanpa kalian. Maafkan aku ya. Ini semua karena Kak Adnan, dia lagi-lagi mencuri ikan bakar ku. Jadi aku harus menangkap ikan lagi untuk di masak ibu untuk makan malam kita. Dia menghabiskan semuanya termasuk ikan untuk Ayah." Ucap Barra yang duduk di bawah kaki Arabella.


Tak hanya minta maaf, Barra juga mengadu pada Arabella. Ya. Sekarang Barra adalah sosok pria pengadu domba yang sangat handal. Sontak saja ucapan Barra membuat Arabella makin marah.


"Cepat tangkap ikannya, dan siangi jangan lupa! Biar urusan Kakak mu Adnan, ibu yang urus." Ucap Arabella sebelum meninggalkan Barra.


"Hahaha...rasakan!" Ucap Barra tertawa penuh kemenangan sembari menyerok ikan di dalam empang.


"Ayo rakyat-rakyat perikanan ku, bekerja samalah kalian denganku. Serahkan diri kalian pada diriku yang sudah lapar ini." Gumam Barra pada ikan-ikan di dalam empang.


Sementara itu Arabella masuk ke dalam rumah sembari meneriaki putra sulungnya.


"ADNAN!!" Pekik Arabella tiada henti, sementara Adnan malah asyik menonton acara televisi dan mengabaikan panggilan Ibunya.


"Bagus ya, tidur-tiduran di sini, sementara adik ipar mu baru pulang kerja sibuk menangkap ikan untuk makan malam nanti di empang." Cerocos Arabella yang baru menemukan putranya.


"Ibu ku yang cantik, kenapa marah-marah dengan putra mu ini hum?" Tanya Adnan yang bangkit dari sofa dan memeluk tubuh Arabella.


"Diam kau perayu ulung!" Arabella menjewer telinga putranya hingga Adnan memekik kesakitan.


Arabella menarik telinga anaknya hingga ke halaman belakang dimana Barra tengah menangkap ikan dengan kemeja putihnya yang sudah kotor dan bau amis.


"Kamu lihat baju putih yang dikenakan oleh adik ipar mu itu!" Tunjuk Arabella dengan jemarinyanke arah Barra.


"Lihat bu."


"Setelah Barra selesai menyiangi ikan, cuci baju adik ipar mu itu! Ibu tidak mau mencuci baju putih yang kotor itu." Perintah Arabella pada Adnan.


Adnan mendengus kesal, "Suruh saja dia cucu sendiri Bu," protes Adnan yang malah mendapat lirikan tajam dari Arabella.


"Kamu mau mencucinya atau jangan tinggal di rumah ini. Pergi saja kembali kerumah istrimu itu!" Usir Arabella yang membuat Adnan merengek meminta maaf seperti Barra agar tidak diusir ibunya.


Adnan memang sudah satu minggu kembali ke rumah ini. Ia akhirnya tak tahan terus menerus direndahkan dan diatur hidupnya oleh sang istri, Septi. Mendapatkan perhiasan sebagai modal usaha dari Arumi membuat Adnan sadar jika adiknya sangat perduli pada hidupnya.


"Makanya kerjakan!" Perintah Arabella yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Adnan.


"Iya ibu baiklah." Jawab Adnan.


Arabella pun meninggalkan putranya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan bumbu untuk membakar ikan kembali.


"Hei, bos tengil. Cepat buka baju mu! Aku akan mencucinya." Pekik Adnan yang memanggil Barra.


Barra datang menghampiri Adnan dengan membawa ember dan saringan ikan. Ia membuka kemeja putihnya dan melemparnya kearah Adnan.


"Buka celananya juga!" Pinta Adnan dan Barra pun membukanya di depan Adnan. Untungnya Barra sudah terbiasa mengenakan celana boxer sekarang. Jadi ia tak malu membuka celana panjang yang ia kenakan di depan kakak iparnya itu.


Kediaman Abimanyu saat ini bertambah ramai semenjak Adnan kembali ke rumah ini. Ramai akan keributan antara Barra dan Adnan yang tak pernah ada habisnya. Kembalinya Adnan kerumah ini tak membuat Abimanyu merasa sedih dengan rumah tangga sang putra. Ia malah senang akhirnya Adnan bisa mengambil sikap tegas pada istri dan keluarga istrinya yang tak pernah berhenti merendahkan keluarganya.


Di halaman belakang dua pria ini terlihat sibuk, yang satu sibuk menyiangi ikan dan yang satu sibuk membersihkan pakaian Barra yang terkena lumpur dari empang.


"Apa kau sudah berhenti mencari keberadaan adikku?" Tanya Adnan pada Barra yang sedang sibuk dengan ikan tangkapannya.


"Tidak mungkin aku berhenti, aku masih berusaha terus mencarinya." Jawab Barra dengan tangannya yang sudah mahir menyiangi ikan.


"Cih, buktinya kau santai-santai saja di sini. Menikmati hidup bersama kedua orang tua ku."


"Hei, adikmu itu dibawa kabur kedua orang tua ku, bukan kabur sendirian. Syarat agar aku bisa menemui adikmu ya seperti ini, memangnya aku yang sibuk mengurus ikan kau kira sedang bersantai hah? Seumur hidup aku tak pernah mengerjakan pekerjaan berat seperti ini. Asal kau tahu saja itu." Balas Barra sembari mengacungkan kapak pada Adnan.


"Dasar anak manja." Umpat Adnan sembari menyikati kemeja putih milik Barra.


"Kalau aku anak manja, kau ini apa Kakak lak.nat iya?" Balas Barra yang sudah mulai ingin ribut kembali dengan Adnan.


Suara perdebatan mereka di dengar oleh Arabella yang sedang menyiapkan bumbu-bumbu di dapur. Untuk menghentikan perdebatan mereka. Arabella melempar panci bekas ke arah mereka.


Gomprang! [Suara panci jatuh tepat di hadapan mereka]. Seketika mulut mereka terdiam dan langsung mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing dengan hening.


"Ya Tuhan, cepatlah kembalikan istriku. Sebelum aku kena serangan jantung karena ibu mertuaku sering kali melempar panci pada ku." Gumam Barra di dalam hatinya.


Memang sudah kebiasaan Arabella melempar panci jika ia melihat Barra berdebat dengan Adnan ataupun suaminya Abimanyu. Barra sering berdebat masalah ikan dengan Abimanyu, karena Abimanyu selalu mencari kesalahannya saat melakukan pemijahan pada ikan-ikan mereka.


"Sial benar hidupku, kenapa aku diciptakan menjadi lelaki lemah seperti ini, di rumah mertua aku habis dimarahi dan salah terus dimata istri dan mertuaku. Disini Ibuku tak pernah mau membela diriku dihadapan adik iparku yang sok kuasa ini." Gumam Adnan di dalam hatinya sembari menyikat baju Barra dengan sekuat tenaga.


"Kalau bajuku sampai robek, aku sih tidak masalah, tapi ibu akan memarahi mu. Hahaha..." ledek Barra pada Adnan.


Barra yang sudah selesai menyiangi ikan pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Sementara Adnan yang belum selesai hanya bisa teriak sekencang-kencangnya meluapkan kekesalannya.