
Hari pernikahan Anaya dan Steve ada di depan mata. Tiga hari lagi Anaya akan menyandang status sebagai Nyonya Steve. Sejak siang hari Barra sudah disibukkan dengan pembangunan tenda di lapangan bola yang menjadi tempat pernikahan Anaya dan Steve, dan kebetulan pada malam harinya adalah jatah giliran ia melakukan ronda malam.
Sembari menjalankan ronda, ia beserta bapak-bapak satu grup rondanya dan bapak-bapak lain yang rajin kumpul-kumpul dadakan, saat giliran ronda Barra, memutuskan untuk keliling sejenak sambil menengok para pekerja yang sedang menyulap rerumputan hijau lapangan bola kampung yang sudah nampak seperti rumput kelas satu standar sebuah stadion bola ini kini tengah dirubah menjadi lantai sebuah ballroom hotel.
Di sana Barra bertemu dengan Akri yang memang ia tugaskan untuk mengawas para pekerja.
"Gimana Kri lancar?" Tanya Barra singkat pada Akri supir pribadinya yang merangkap menjadi asisten pribadinya sekarang.
"Rebes Tuan, rumput hijau gak akan rusak meskipun diinjak-injak besok saat acara. Kalau pun cuaca tidak bersahabat lantai maupun tenda akan tetap aman dari hujan." Jawab Akri yang membuat Barra manggut-manggut sembari menyesap rokoknya.
"Tuan lagi ronda?" Tanya Akri yang melihat Barra datang bersama para Bapak-bapak hampir satu kampung.
"Iya. Tolong cari abang gerobak nasi goreng, ketoprak dan sate Kri, saya lapar. Sekalian borong rokok di warung dekat rumah mantannya istri saya ya." Perintah Barra pada Akri bersamaan dengan menunjukkan bukti transfer uang untuk memborong rokok di warung itu.
Barra sengaja memborong rokok di warung tersebut meski ada warung yang lebih dekat dari lapangan bola itu. Bukan hanya karena harganya yang sedikit miring, tapi dia memiliki maksud tertentu dibalik pemboronanya di warung itu.
Setali tiga uang, tak hanya ingin memanas-manasi Bowo sang mantan pacar istrinya, dia juga ingin menunjukkan pada kedua keluarga sombong yang rumahnya saling menempel, jika keluarga Abimanyu yang mereka rendahkan selama ini sudah berubah. Barra yakin apa yang ia lakukan akan sampai ditelinga mereka karena Barra paham dengan karakter ibu penjaga warung.
"Siap Tuan," jawab Akri yang langsung melaksanakan perintah Barra.
Bapak-bapak yang melihat Akri pergi, sudah merasa senang, karena ia tahu pasti Akri akan kembali dengan berdus-dus rokok yang mereka inginkan.
"Makan apa malam ini kita Boss?" Tanya salah seorang pria yang seumuran dengan Barra, dia adalah teman dekat Barra dikala ia ronda, Taslim namanya.
Pria yang sehari-harinya menghabiskan waktu dengan beternak seperti Barra saat ini. Taslim adalah keterunan asli daerah ini, tak ayal ia memiliki tanah berhektar-hektar di kampung ini. Tidak oernah ia menjual satu meterpunntanah warisan kedua orang tuanya yang telah tiada. Hidupnya yang cukup sederhana dengan banyaknya pintu kontrakan yang ia miliki cukup untuk ia membiayai kehidupan dia sehari-hari. Taslim teman Barra ini sering disebut Bandar Kontrak dan Juragan Empang.
Taslim sama seperti Barra royal dan dermawan, hanya saja Taslim royal dan dermawan dikegiatan keagamaan sedang Barra apapun momentnya dia akan royal.
"Malam ini saya mau makan nasi goreng, mie goreng, mie rebus, kwetiau, ketoprak, dan sate." Jawab Barra yang seketika itu juga membuat wajah para Bapak-bapak yang sengaja tak makan malam di rumah terlihat sumringah.
"Wehhh... Makan besar kita." Ucap Taslim yang tersenyum senang. Taslim tahu betul jika Barra tak mungkin makan sebanyak itu. Porsi yang ia makan hanya sekedar mencicipi. Teman rondanya itu hanya ingin menyenangkan para Bapak-bapak dikampung ini. Taslim menganggap apa yang dilakukan Barra ini adalah sebuah ibadah.
Dari sudut pandang Taslim sebagai umat muslim yang taat, Barra sudah melakukan hal-hal yang terpuji baik menurut pandangan Allah swt. maupun pandangan hamba-hamba-Nya yang lain. Karena Barra berkesempatan bisa membahagiakan orang lain dengan hartanya.
"Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain.”
Tak butuh waktu lama tukang nasi goreng, ketoprak dan juga sate sudah datang menghampiri mereka meskipun tanpa Akri. Para tukamg dagang itu terlihat bahagia di panggil oleh Akri untuk memenuhi panggilan Barra. Mereka sudah paham jika dagangan mereka akan di borong habis oleh Barra.
Sembari menunggu makanan untuknya siap, Barra terlibat perbincangan serius masalah perikanan dengan Taslim yang juga memiliki empang-empang ikan warisan sang Ayah yang telah tiada.
"Kemarin saya main ke kampung sebelah. Kerumah Pak Haji Madun. Dia beli bibit ikan lele saya."
"Owhh kau antar langsung bibit ikan itu Lim?"
"Iya, subhanallah dia keren sekali Bar. Dia tak seperti kita mengandalkan pelet sebagai umpan makanan ikan-ikan kita sehari-hari. Cara dia berbisnis low budget. Tapi untung besar."
"Owh ya? Memangnya dia pakai apa Lim? Jangan bilang dia pakai tinja ya?"
"Hahaha... tidak Barr. Dia pakai daun talas. Siang hari ikan-ikannya diberi makan daun talas. Dia buat kolam empangnya itu hampir tertutup dengan daun talas. Selain melindungi ikan-ikannya dari panas terik matahari, juga mengenyangkan ikan-ikannya. Di sore harinya saat daun talas itu sudah habis ia baru memberi makan ikan-ikannya dengan pelet kualitas premium."
"Lalu hasil panen ikannya bagaimana? Bagus tidak?"
"Bagus Bar, ikan gurame di empangnya terlihat besar padat berisi. Padahal usianya belum siap panen. Dia memberikan saya satu ikan untuk dicoba dimasak dirumah, dagingnya lebih gurih padahal saya menggorengnya tanpa bumbu, seperti apa yang beliau katakan, dan perlu kamu tahu, saya sudah membudidayakan pohon talas di lahan kosong milik saya yang ada di kampung sebelah." Jawab Taslim panjang lebar.
Sejenak Barra berpikir dan tertarik dengan apa yang dilakukan Taslim, tapi ia tak memiliki lahan lagi untuk membudidayakan pohon talas seperti Taslim.
"Saa tertarik, tapi masalahnya saya tak punya lahan lagi untuk tempat pembudidayanya." Tukas Barra pada Taslim yang langsung menyernyitkan matanya.
"Jangan beli tanah saya, saya tak berniat menjualnya."
"Hahaha... Tak perlu khawatir saya tak akan menyentuh tanah mu barang sejengkal pun, kamu tolong batu saya lagi untuk membujuk Pak Haji Juki agar mau menjual lahannya yang tersisa dua hektar lagi dibelakang rumah mertua saya itu. Kalau kamu bisa menego beliau, saya akan berikan mobil saya yang kamu suka waktu itu." Seru Barra yang membuat Taslim membulat matanya.
"Serius Bar? Wah semangat empat lima ini saya jadinya." Balas Taslim yang tersenyum senang. Ia terlihat bersemangat untuk melobby Pak Haji Juki yang merupakan adik dari almarhum sang Ayah yanh memiliki banyak istri dan juga anak dari pernikahannya yang sudah menembus angka sembilan kali menikah.