My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kosong



"Ka-kau yakin ingin menikahi ku?" Tanya Septi tergagap, yang kini sudah menatap manik mata Alex. Sungguh ia merasa tidak yakin dengan apa yang ia dengar dari bibir pria yang selalu ada di hati dan pikirannya.


"Aku yakin. Tolong ajari aku mencintaimu nanti, Septi." Jawab Alex yang mendaratkan kecupan di bibir Septi. Seolah ingin meyakinkan Septi jika apa yang ia katakan adalah benar.


Alex hanya memberikan sebuah kecupan yang kini membuat Septi menginginkan lebih dari itu, namun Alex malah pergi meninggalkan Septi dan berpura-pura mengambil segelas air dingin di dalam kulkas. Demi menghindari ciuman Septi yang menuntut.


"Kau menghadirkan batasan untuk kita, Alex," gumam Septi di dalam hatinya. Saat ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Septi terus menatap Alex yang terus memandangi gelas kosong yang ada di tangannya.


"Sekarang aku sudah mengerti dan sadar sesadar-sadarnya, jika tak ada ruang dan tak pernah ada ruang di hatimu untuk diriku,Anaya. Sama sekali aku tak memiliki kesempatan dari mu, untuk ku mengisi hari-hari mu dan memiliki hati mu, walau hanya sekejab saja. Baiklah aku hargai keputusan mu, menetaplah dengan hatinya." Gumam Alex di dalam hatinya begitu lirih.


Kosong. Itulah yang kini Alex rasakan kosong dan hampa di hatinya. Sungguh saat ini dia pulang dalam keadaan hati yang tidak baik-baik saja, mengajak Septi menikah memang sudah dipikirkan Alex matang-matang, semenjak ia mendapatkan nasehat dari Shella.


Sementara itu di rumah sakit Barra disibukkan untuk mengurus kondisi asistennya, yang ketika sadar Kevin sangat membutuhkan keberadaan Indri.


Dokter terus memberikan pertolongan pada Kevin yang tak bisa menahan dirinya, sembari menunggu kedatangan Arumi dan Indri ke rumah sakit.


Namun efek obat yang diberikan Karin sungguh tak main-main. Dosis yang Karin berikan melebihi anjuran pakai obat tersebut. Untungnya keadaan organ jantung Kevin sangat sehat, hingga tak sama sekali berpengaruh pada kesehatan jantungnya.


"Hai, Tuan Barra, berapa lama lagi istri ku datang?" Tanya Kevin dengan suara cukup meninggi, ia sudah tak sabar dan sejak tadi terus menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Setahun lagi, istri mu akan datang setahun lagi, kau tahu sendiri jalan ibu hamil itu seperti seekor kura-kura, sangat lamban karena dia membawa gendang yang tak bisa ia lepas." Jawab Barra asal, karena merasa jengah melihat Kevin terus menggibas-gibas pakaiannya dan berteriak tak jelas sejak tadi.


"Arghh.... Aku sudah tak tahan lagi. Indri cepatlah datang." Racau Kevin yang hampir saja membenturkan kepalanya ke dinding rumah sakit.


"Sabar, kau hanya perlu menunggu beberapa jam saja, sedang aku pernah dibuat menunggu kehadiran istri ku hingga berbulan-bulan lamanya." Balas Barra yang mulai kembali sibuk menghubungi istrinya, namun seperti biasa, Arumi bukanlah orang yang suka terus-terusan dihubungi. Hingga panggilannya terus-terusan di tolak oleh sang istri.


"Hai Tuan Barra, itu lain cerita. Kau tidak dalam pengaruh obat seperti diriku. Kau di buat menunggu karena kelakuan mu sendiri, sedangkan aku di jebak."


"Cih. Jangan coba-coba mengingatkan aku pada masa lalu ku. Kevin. Kau ini sok paling menderita, menyebalkan sekali." Umpat Barra kemudian beranjak pergi meninggalkan Kevin yang tak bisa lagi mengontrol kata-katanya.


Saat Barra ingin membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka begitu saja.


Ceklek! Pintu terbuka dan mencium kening Barra.


Brukk! [Suara tubuh Barra terjatuh karena didorong oleh Indri yang meringsek masuk ke dalam menghampiri suaminya,Kevin].


"Aduhh kening dan bokong ku. Ya Tuhan kalian ini benar-benar pasangan suami menyebalkan." Keluh Barra yang menatap tajam keduanya yang langsung saja menyatukan bibir mereka dengan panasnya.


Sewaktu Barra ingin kembali keluar dari ruangan rawat Kevin yang kini menjadi tempat asistennya bergulat dengan sekertaris ini, lagi-lagi keningnya tercium daun pintu.


"Aduhhhh... Siapa lagi ini? Kening ku ya Tuhan." Rintih Barra dengan suara cukup keras.


"Hai, Papi ngapain di sana?" Tanya Arumi tanpa dosa.


"Ngerujak." Jawab Barra asal.


Semenjak kehamilan kedua Arumi ini, Barra memang menjadi pria yang lebih sensitif dan Moody's. Ia gampang marah dan tersinggung.


"Hehehehe.... Kejedot ya?" Tanya Arumi dengan sedikit tertawa.


"Hemm," sahut Barra yang menarik Arumi untuk segera keluar dari ruangan rawat Kevin.


"Aku mau pulang, aku kangen Nathan," ajak Barra pada Arumi yang malah terkekeh geli.


"Kamu, kangen Nathan apa adiknya Nathan Pih?" Tanya Arumi yang melepaskan genggaman tangan Barra dan malah kini memeluk lengan suaminya dengan erat.


"Dua-duanya," jawab Barra dengan senyum tipisnya.


"Hahahaha, pelan-pelan ya, Mami masih hamil muda," ucap Arumi yang terkekeh geli.


Sementara di ruang kerja Steve. Anaya mengadukan perihal pertemuannya dengan Alex. Steve merupakan suami idaman banyak wanita. Dimana ia sangat pandai untuk menempatkan dirinya, ia bisa menjadi apa sajayang dibutuhkan Anaya, hingga Anaya hampir tak membutuhkan siapapun lagi. Karena semuanya ada pada diri Steve.


Saat ini Steve menempatkan dirinya sebagai teman curhat bagi istrinya.


"Baby, sebaiknya kamu jangan terus menghindarinya. Semakin kamu menghindar, semakin dia menganggap di hatimu ini masih ada dia. Berusahalah berdamai dengan dirimu sendiri. Bersikaplah seperti tidak ada yang pernah terjadi pada dirimu dan dia." Pinta Steve yang memberikan saran pada istrinya.


"Apa Om menganggap sama seperti dia? Menganggap diriku masih ada hati dengannya? Oh come on, Om. Aku sudah tidak ada hati dengannya tapi aku memag seperti itu, sulit untuk bersikap biasa saja pada orang yang aku benci." Jawab Anaya yang mencebik bibirnya. Ia merasa Steve meragukan dirinya yang telah melupakan Alex.


"Hei,Baby. Jangan suka berasumsi dan menarik kesimpulan yang salah dari perkataan ku. Aku percaya dengan mu Baby. Aku selalu percaya apapun yang kau katakan padaku. Karena aku sangat mengenalmu. Kau bukanlah wanita yang putih abu-abu saat bicara. Aku hanya menyarankanmu untuk bersikap biasa saja pada dirinya seperti kakakmu, Arumi. Maaf jika kau tersinggung Baby, aku tak bermaksud membanding-bandingkan dirimu dengan kakak mu. Aku hanya sekedar memberikan contoh padamu." Ucap Steve panjang lebar.


"Terima kasih selalu mempercayaiku, Om. Aku akan terus berusaha menjaga kepercayaanmu ini padaku. Aku akan mempertimbangkan saran yang kau berikan padaku Om. Tapi jika aku sulit melakukannya, aku mohon, Om tidak kecewa dan marah padaku." Ucap Anaya dengan mata berkaca-kaca.


"Hai, jangan menangis! Aku takkan pernah memaksamu untuk mengikuti semua kata-kataku. Saranku bisa kau terima dan juga tidak sayang. Jika kau tak menerima saran dan masukkan dariku. Aku sama sekali tidak merasa kecewa dan marah padamu. Jangan pernah melakukan sesuatu yang membuatmu terpaksa dan menderita! Karena aku menikahimu untuk membahagiakanmu bukan untuk membuatmu menderita." Ucap Steve yang membuat Anaya luluh lantah di dalam pelukan Steve yang selalu membuat jantung berdebar-debar.