My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Penyatuan pertama



Klek!! [Suara pengait br* Arumi yang terbuka].


Arumi menatap Barra dari pantulan cermin meja riasnya. Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu tengah menatap punggungnya yang baru saja ia lepas pengait br* yang dikenakan istrinya.


Arumi membiarkan Barra menyentuh bagian punggungnya dengan jemari suaminya itu. Ia sama sekali tak melarang suaminya itu menyentuh dirinya. Meski ia harus melawan sensi geli yang kini ia rasakan.


"Jika saya menginginkan mu saat ini, apa kamu akan melayani saya, Arumi?" Tanya Barra yang sangat menginginkan haknya sebagai seorang suami, sembari melepaskan seluruh Br* yang masih melekat di tubuh Arumi.


"Lakukanlah Pak, jika Bapak menginginkannya." Ucap Arumi yang mulai memejamkan matanya, ketika Barra sudah menyesap curug lehernya sebelum mendengar jawaban dari Arumi.


"Kemarilah!" Ajak Barra yang menggandeng tangan Arumi mendekati ranjang tidur mereka.


Barra memperhatikan wajah Arumi yang terlihat begitu pasrah di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi, hingga kedua wajah mereka berhadapan tanpa sebuah jarak. Arumi dapat merasakan hembusan nafas Barra yang memburu karena begitu menginginkan dirinya. Lalu dengan tangannya, Barra menuntut kedua tangan Arumi untuk melingkar di lehernya.


Barra menempelkan bibirnya dengan bibir Arumi. Ia biarkan bibirnya itu hanya menempel beberapa saat di bibir Arumi yang begitu harum mewangi. Ia ingin mengetahui apakah Arumi pernah memiliki pengalaman berciuman dengan orang lain selain dirinya.


Arumi hanya diam dan menerima sentuhan Barra pada bibirnya, tanpa melakukan apapun. Yang ia lakukan kini hanya memejamkan matanya saja. Ia sedang mencoba mengendalikan dirinya yang bergemetar, takut dan khawatir dengan apa yang dilakukan Barra setelah ini.


Sedangkan Barra yang melihat Arumi hanya diam dan memejamkan mata, dapat menarik kesimpulan, jika istrinya ini tak punya pengalaman berciuman dengan pria lain, selain dirinya. Kemarin saja, sewaktu ia mencium bibir Arumi di tempat cuci pakaian dan juga di depan Pak Penghulu, Arumi tampak kaku dan tak membalas ciuman dari dirinya.


"Sesaat lagi aku akan memakan mu, hingga kamu menjerit menyebut nama ku, Arumi istriku," gumam Barra yang tersenyum senang.


Sesaat kemudian, Barra menyerang bibir kenyal Arumi yang sudah menjadi candu baginya. Serangan Barra begitu bringas dan brutal. Ia menyesap bibir bagian atas dan bawah Arumi secara bergantian. Arumi hanya menikmati apa yang dilakukan Barra pada bibirnya yang sudah kelu karena terus disesap oleh suaminya itu.


Lagi dan lagi Barra harus menggigit bagian bibir Arumi agar rongga mulut istrinya yang harum mewangi itu terbuka, saat rongga mulut Arumi sudah terbuka, Barra mulai memasukkan lidahnya yang terus menari-nari di dalam rongga mulut Arumi.


Tak hanya tangannya yang bekerja, kedua tangan Barra pun mulai menjelajahi bagian tubuh Arumi. Tangan dan kakinya mulai bekerja sama untuk melepas, celana segitiga berenda bunga-bunga itu. Setelah terlepas, Barra meremas bokong Arumi dengan gemas hingga ia melenguh.


"Mmmmphhh...."


"Balas ciuman saya, saya bukan sedang bercinta dengan boneka bukan?" Ucap Barra yang sesaat melepaskan pangutannya.


Kembali Barra menyesap bibir Arumi dan Arumi mulai membalas sesapan demi sesapan yang dilakukan Barra padanya. Terasa kaku memang, karena ini adalah pengalaman pertama Arumi melakukannya.


Barra semakin brutal menciumi bibir Arumi dan Arumi berusaha terus mengimbangi ciuman yang diberikan Barra padanya. Barra tak melepaskan ciuman di bibir Arumi, hingga ia merasa Arumi tak lagi kaku membalas ciuman mautnya.


"Kamu cukup pintar Arumi, cepat sekali kamu bisa mengimbangi serangan ku," ucap Barra ketika melepas pangutan dibibir Arumi.


"Saya memang wanita yang pintar, dan dapat belajar lebih cepat dari orang-orang kebanyakan, tapi sayangnya saya tidak cukup pintar untuk membuat Anda mencintai saya," balas Arumi yang membuat Barra tersenyum dengan membuang pandangannya sejenak lalu, kembali menatap Arumi.


"Tak selama ber.cinta dengan lawan jenismu harus menggunakan cinta dan hati mu, Arumi. Banyak orang di luar sana melakukannya tanpa cinta, maka bercintalah dengan saya tanpa rasa itu," sahut Barra yang berkata tanpa di pikir terlebih dahulu.


Arumi tersenyum getir mendengar ucapan suaminya itu, kata-kata Barra sama saja menyamakan dirinya seperti wanita murahan yang menjajakan dirinya hanya demi uang. Uang yang mereka pergunakan untuk bertahan dari hidup yang sangat keras dan kejam ini.


"Saya akan menjadi seorang pela.cur yang halal untuk Pak Barra sentuh, asal jangan campuri kehidupan saya di luar dari ranjang kita ini. Seperti saya yang tak akan mencampuri urusan Pak Barra dengan wanita yang sangat Pak Barra cintai." Ucap Arumi yang tanpa rasa malu lagi mencium bibir Barra dengan ganasnya.


Barra mulai hanyut dalam permainan bibir Arumi yang mulai lihai memainkan bibir dan lidahnya. Barra melepaskan ciumannya di bibir Arumi, bibir Barra kini beralih menciumi bagian leher jenjang Arumi.


"Eum..." Arumi melenguh untuk kesekian kalinya, akibat sengatan dan sesapan mulut Barra yang membuat tanda kepemilikan di sana.


"Ahhh..." kembali Arumi melenguh ketika bibir dan lidah Barra bermain dibagian bukit kembar milik Arumi yang terlihat padat, kenyal dan menantang.


Sungguh ini adalah sensasi yang pertama Arumi rasakan, ketika Barra memainkan lidahnya di pucuk salah satu bukit milik Arumi dan satu tangan Barra yang lain, meremas gemas salah satu bukit yang tidak ia sesap itu. Kepala Arumi mendongak, ia berdesis, menjambak rambut Barra dan sedikit menekannya agar Barra tak berhenti melakukannya. Tak puas dengan bukit yang satu ini, Barra kembali bermain dengan bukit yang satunya lagi, hingga ia puas bermain-main di sana.


"Eughh.... Pak Barra," rintih Arumi dengan suara seksinya yang terdengar begitu merdu di telinga Barra.


Rintihan Arumi makin membuat Barra menggila, Barra mendorong tubuh Arumi hingga terjatuh di atas ranjang. Ia segera membuka semua helai pakaian yang menutupi bagian tubuhnya. Setelah semua terlepas. Barra mengungkung Arumi dalam dekapannya.


"Saya akan membuat kamu puas, lalu tugas mu selanjutnya adalah puaskan saya," ucap Barra sebelum berselancar di tubuh indah istrinya.


"Ahhh..." Arumi terus melenguh ketika seluruh bagian tubuhnya dikecup oleh Barra, tanpa terkecuali, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, tanpa rasa jijik, Barra sampai memasukan jempol kaki milik Arumi ke dalam mulutnya dan mengulumnya sesaat. Tubuh Arumi terus mengelinjang merasa kegelian dengan semua sentuhan Barra padanya.


Tak puas sampai di situ, kembali Barra melakukan hal yang bagi Arumi sangat menjijikan, Barra mengecup bahkan menjilati daerah inti miliknya.


"Stop jangan, ini menjijikan!" Ucap Arumi yang menahan aksi Barra di area intinya.


"Tidak, ini tidak menjijikan, kamu bisa ketagihan setelah merasakannya nanti." Balas Barra yang kemudian memainkan kembali lidahnya di dalam sana.


Arumi begitu frustrasi menerima sentuhan lidah Barra yang menari-nari dan menyesap bagian intinya. Barra berhenti bermain-main di sana sampai sebuah cairan berhasil keluar dari bagian inti Arumi.


"Akhhh.... Pak Barra." Lenguh panjang Arumi memanggil nama suaminya, nafasnya tersengal-sengal karena menikmati sensasi yang luar biasa ini. Ia merasa di bawa terbang ke langit ke tujuh.


Setelah melihat nafas Arumi kembali teratur, Barra terlihat ingin memulai kembali permainan panas mereka. Kali ini tidak dengan lidah araupun jemarinya, tapi melainkan menggunakan alat tempurnya yang sudah on fire.


"Saya akan segera memulainya, ini akan sedikit sakit di awal, tapi kamu akan menyukainya setelah ini." Ucap Barra yang sudah mulai menuntun miliknya masuk ke dalam bagian inti milik Arumi.


"Ah... sa-kit Pak," rintih Arumi saat milik Barra memaksa masuk ke dalam miliknya yang masih tersegel rapat. Arumi mencakar bahu Barra hingga Barra mendesis perih di area bahunya


"Stupid, dia benar-benar masih perawan," gumam Barra di dalam hatinya. Ketika melihat cairan berwarna merah keluar dari milik Arumi.


"Aaa... berhenti dulu, izinkan saya menghirup udara sejenak, ini sungguh sangat menyakitkan." Ucap Arumi dengan suara rintihannya


Barra memberikan waktu sejenak pada Arumi yang kemudian langsung memompa tubuh Arumi dengan ritme pelan hingga cepat. Lenguahan demi lenguhan terdengar di seluruh bagian unit apartemen mereka. Karena kamar Arumi memang tidak di pasang peredam suara.


Bi Ijah sampai menutup telinganya, agar tidak mendengar suara lenguahan keduanya. Pagi itu adalah pagi yang indah bagi keduanya. Mereka melakukan penyatuan bersama sebagai sepasang suami istri, meski melakukannya tanpa dasar cinta.