My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Seninya tinggal bersama



Di paviliun Adnan dan Zeline. Adnan terus memanjakan istrinya.


"Sayang, kamu duduk aja biar aku yang cuci piring!" Perintah Adnan pada Zeline, yang ingin mencuci bekas piring makan keduanya dan juga perabotan dapur yang telah ia gunakan saat memasak tadi.


Adnan rupanya tidak ingin membiarkan Zeline terlalu capek melakukan pekerjaan rumah sebelum bekerja.


Sejak mengetahui kehamilan Zeline, Adnan menjadi pria yang sangat rajin. Ia mulai banyak menghandle pekerjaan rumah, mulai dari mencuci baju,membersihkan rumah dan terkecuali memasak. Karena Adnan masih sering mabuk ketika mencium beberapa menu masakan.


"Memes aku ini cuman hamil bukan lagi sakit kronis, jadi tolong ya cuci piring itu hal yang mudah. Tolong jamgam terlalu memanjakan aku." Protes Zeline pada Adnan.


"Iya hamil itu memang bukan sakit kronis, Aku bukannya mau memanjakan kamu. Tapi kamu lagi hamil anak aku loh! Jadi kamu harus nurut sama aku. Pokoknya kamu nggak boleh capek-capek." Ucap Adnan tegas hingga membuat Zaini semakin merengut.


"Emangnya kenapa kalau lagi hamil anak kamu?" Tanya Zeline masih tetap mempermasalahkan ketidak bolehan dirinya melakukan sesuatu kegiatan yang memang menjadi rutinitas dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga.


"Ya kalau kamu lagi hamil anak aku, kamu itu akan menjadi ratu selama sembilan bulan." Jawab Adnan dengan bangganya akan menjadikan Zeline ratu selama sembilan bulan.


"Terus kalau anaknya udah lahir aku dilepehin gitu nggak dijadiin ratu lagi?" Sahut Zeline yang terlihat sewot dengan pemikirannya.


"Ya gak juga," balas Adnan sedikit kikuk.


Rupanya ia sudah menyadari jika dirinya salah bicara dengan istrinya yang sangat kritis dalam berkaya-kata.


"Gak juga berarti iya dong, hah?" Sahut Zeline lagi sambil berkacak pinggang.


Nafas Zeline sudah naik turun, rupanya pagi ini Adnan akan mendapat sarapan tambahan dari Zeline. Ya sarapan tambahan omelan dari istrinya.


Saat Zeline sedang menarik nafas panjang untuk bersiap mengomel tiba-tiba Arabella datang dengan wajah yang tak bersahabat ke paviliun putranya yang tidak terkunci.


Lagi-lagi Adnan mendapat lirikan tajam dari Zeline.


"Kok Ibu bisa masuk? Kamu gak kunci kan pintunya semalam hah? Kebiasaan banget sih? Kalau ada maling gimana? Iya kalau barang yang diambil, kalau akunya yang di ambil gimana?"


Omel Zeline dengan nada bicaranya yang sangat melengking, hingga membuat Arabella menutup kedua telinganya, karena merasa gendang telinganya mau pecah, mendengar suara cempreng menantu perempuannya satu-satunya ini.


"Maaf lupa, aku gak ingat, udah malam banget aku ngantuk. Kalau kamu diambil orang ya aku nikah lagi-lah." Jawab Adnan keceplosan.


"Oh bagus ya, niat ya mau nikah lagi. Bu denger tuh Bu, anak ibu ngomong apa. Macam-macam dia Bu. Kurang apa Zeline bu?" Adu Zeline pada ibu mertuanya.


"Hei Adnan, kamu jangan sok kegantengan ya! Kamu kalau mau nikah lagi langkahin dulu mayat ibu. Kamu tuh harus ingat punya dua adik perempuan. Kamu mau suami adik kamu, kaya kamu kaya gini hah?" Omel Arabella yang langsung saja menjewer daun telinga Adnan.


"Ampun Bu... ampun... Keceplosan Bu, Adnan, maaf. Lagi ibu ngapain sih selalu belain Zeline, Zeline itu menantu bu. Anak ibu itu Adnan." Protes Adnan sembari mengusap daun telinganya yang pedas dan panas di jewer ibunya.


"Karena ibu sama-sama perempuan dengan Zeline. Ibu kalau jadi Zeline juga gak akan terima kamu gituin."


"Cih, ibu. Terus gimana dengan Barra dan Steve yang selalu ibu bela-belain. Kayanya ibu lebih bela menantu daripada anak sendiri. Tega ibu." Protes Adnan yang menjadi awal perdebatan antara ibu dan anak.


"Kaya ibu gak jadiin ayah pembantu aja. Bearti ibu salah satu pelopor istri-istri tak tahu diri. Pantas saja Arumi dan Anaya begitu, orang ibunya ajah begitu."


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi Adnan.


Bukannya sedih atau bagaimana, Adnan malah makin menantang emosi Arabella.


"Kok ditamparnya cuma sebelah bu, satu lagi dong!" Pinta Adnan dengan nada bicara meledek.


Semakin hari, tingkah Adnan semakin menyebalkan semenjak kehamilan Zeline. Ada-ada tingkahnya dan kata-katanya yang membuat orang naik pitam tanpa terkecuali termasuk Tuan Antoni, Ayah mertuanya.


Jika saja Adnan bukanlah menantunya, mungkin tubuhnya sudah ia berikan ke salah satu binatang peliharaannya. Karena saking menyebalkan sikap dan sifat menantunya ini.


"Malas!! Buang-buang tenaga saja. Ibu benar-benar jadi malas sama kamu, Adnan. Ibu ke sini tadinya mau menegur kalian berdua. Kenapa kalian berdua berkomplot membuat Barra dan Arumi bertengkar hah."


"Itu Mas Adnan yang suruh bu. Manas-manasin Arumi tentang Pinkan." Zeline buru-buru cuci tangan karena tahu, hukuman akan segera dicetuskan.


Kembali Adnan mendapatkan lirikan tajam dari Arabella.


"Aku lagi, aku lagi... Terus aja Zeeeellllllll... Salahain aku...." Pekik Adnan cukup keras, hingga suara pekikannya sampai ke kediaman Steve dan Anaya.


"Om cepat berangkat yuk! Pasti Ibu udah kepaviliun kak Adnan. Marah-marah dan Kak Zeline cuci tangan nyalahin Kak Adnan." Ajak Anaya yang sudah rapi mengenakan pakain kerjanya, begitu pula dengan Steve.


Keduanya memang jarang sarapan di rumah, terkecuali giliran mereka menyiapkan sarapan untuk Arabella dan Abimanyu yang sudah di jadwalkan. Sedang hari libur sabtu dan minggu mereka bebas untuk tidak membuatkan sarapan untuk keduanya. Karena semenjal kemabali tinggal di perkampungan ini, keduanya selalu jalan pagi di hari sabtu dan minggu.


"Ayo! Kita sarapan bubur di depan sana saja ya sayang." Ucap Steve yang mengiyakan ajakan istrinya.


Keduanya segera berlari kecil. Bekerja sama untuk melarikan diri. Anaya membuka pintu gerbang yang sudah dibuka kunci gemboknya oleh Abimanyu yang pergi ke Mesjid subuh tadi, dan Steve segera berlari ke arah mobilnya yang sudah di panaskan subuh tadi ketika pulang dari Masjid bersama Abimanyu.


Saat mobil Steve sudah keluar dari halaman kediaman mereka. Anaya segera menutup pintu pagar dengan perlahan, hingga tak menimbulkan bunyi sama sekali.


Setelah pintu tertutup sempurna Anaya langsung kabur ke pintu mobil suaminya. Saat mobil sudah meninggalkan rumah. Keduanya terkikik geli karena bisa terbebas dari omelan Arabella pagi ini.


"Hahahaha, Om akhirnya kita bisa berhasil kabur juga. Seninya tinggal bareng mereka kaya gini om, kocak banget hahahaha.."


"Iya, tapi cukup mendebarkan kalau gak berhasil dobel omelan pasti kita dapatkan sayang."


"Iya Om benar, ini semua karena menantu emas ibu, siapa lagi kalau bukan si Kak Barra Berre." Sahut Anaya yang terlihat kesal tak hilang-hilang dengan Barra.


"