
Kini Barra duduk di atas sofa sembari memangku tubuh mungil Arumi. Arumi tersenyum sembari menatap wajah tampan suaminya.
Bagi Arumi tak ada pria yang lebih tampan selain suaminya, meskipun ia di hadapkan dengan aktor favoritnya Jo In-sung, ia akan tetap memilih suaminya. Karena hanya Barra yang halal di sentuh oleh dirinya.
"Mau sampai kapan Mami melihat Papi seperti itu hum?" Tanya Barra sembari melemparkan senyum menggodanya.
"Sampai hati Mami puas memandangi wajah tampan Papi." Jawab Arumi yang berhasil memecahkan tawa Barra.
"Apa benar menurut Mami, Papi ini tampan hum?" Tanya Barra lagi sembari menoel hidung mancung ke dalam milik Arumi.
"Tentu saja benar. Bagi Mami, Papi adalah pangeran berkuda yang sangat tampan untuk Mami. Sangat tampan dan sangat cocok untuk memperbaiki keturunan hidung Mami ini." Jawab Arumi yang kembali membuat Barra tertawa.
Arumi terus menarik-narik hidungnya agar lebih mancung ke luar. Hal ini makin membuat Barra gemas pada istrinya ini.
Barra menyingkirkan tangan Arumi yang sibuk menarik-narik hidungnya. Kemudian menarik Arumi ke dalam pelukannya, dikecupnya dengan cepat bibir mungil favorit Barra itu.
"Mami, kenapa kamu sangat lucu dan menggemaskan, ingin sekali Papi memakan mu sekarang." Ucap Barra yang sedikit menggigit hidung istrinya.
Arumi mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat suaminya, hal ini dianggap sebagai lampu hijau untuk Barra. Barra kembali menyambar bibir Arumi dan mulai mereeemas kuat kedua bokong Arumi. Hingga Arumi dibuat melenguh
Hal sederhana yang dilakukan Barra saat ini mampu membuat tubuhnya berdesir hebat dan meminta sentuhan lebih dari suaminya.
Arumi menarik tengkuk Barra, agar tak melepaskan pangutan buas bibir mereka, decapan penyatuan bibir yang begitu panas memecahkan keheningan unit apartemen mereka. Begitu pula dengan Barra. Tangannya tak berhenti bergerak, mengabsen seluruh lekuk tubuh istrinya.
Arumi merasa melayang keawang-awang ketika beberapa jemari Barra masuk ke dalam miliknya, dengan bibirnya yang terus menyesap bagian pucuk bukitnya yang menegang.
Arumi memekik tertahan, matanya memejam sesaat menahan nikmatnya sentuhan Barra, ia menggigit bibirnya sendiri dengan satu tangan yang terus menekan kepala Barra, agar lebih dalam lagi menyesap puncak dari bukit kenyal miliknya.
Arumi benar-benar terangsang dengan apa yang dilakukan suaminya. Nafas Arumi semakin memburu saat ia hampir sampai pada ritik puncak kenikmatannya.
"Gigit lebih keras lagi Papihhhhh!" Pinta Arumi dengan suara mendayu-dayu.
Begitu pula dengan tangannya yang meminta Barra lebih cepat bergerak di bawah sana.
"Papi..."
"Ya Mami, panggillah terus sayang,"
"Papihhh....Mamiihhhhh.... aaaa... ya...mmmmphhhh," lenguh panjang Arumi setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Sudah hum? Apa cukup sampai di sini saja?" Tanya Barra dengen senyum menggodanya.
Arumi menggeleng dan turun dari pangkuan Barra. Ia membantu Barra melepaskan celana kerja yang masih melekat pada tubuhnya.
Arumi mengeluarkan sesuatu yang sudah menegang dan menegak dengan sempurna di balik celana sejak tadi.
Ia memasukkan milik suaminya itu tanpa ragu ke dalam bibirnya yang mungil, hingga masuk sampai ke rongga mulutnya.
Arumi memaju mundurkan kepalanya, memberikan sesapan, gigitan kenikmatan yang dirasakan Barra kini.
Barra berkali-kali dibuat memejamkan mata oleh Arumi yang terus memberikan sensasi nikmat pada dirinya. Gerakkan maju mundur Arumi semakin lama semakin cepat, hingga Barra merasakan sesuatu yang ingin tumpah di dalam mulut mungil milik istrinya.
"Ya...Mami... lebih dalam lagiihhhh...Aaaaaaaah." lenguh Barra sembari menekan kepala Arumi.
Barra menyemburkan miliknya di dalam rongga mulut Arumi. Barra tersenyum puas, ketika Arumi menelan semburannya hingga habis tak tersisa.
"Kita lanjut Mih?"
"Hemmm..." jawab Arumi.
Keduanya melepaskan seluruh sisa pakaian yang melekat di tubuhnya masing-masing.
Kembali Arumi naik di atas pangkuan Barra.
"Oh ya, mulut Papi manis sekali memuji Mamihhhh mmmmppph..." sahut Arumi yang terus naik turun di atas milik Barra.
"Iya, apa lagi gerakan liar kamu ini Mih, bikin aku merasa tambah nikmat," balas Barra.
Barra mulai menuntun gerakan pinggul Arumi agar lebih cepat dari sebelumnya. Arumi pun semakin cepat bergerak, ia tak berhenti melenguh dan meneriaki nama suaminya.
"Terus Mamihhhh, ini benar-benar nikmat. Jangan berhenti sayang! Tahan sebentar lagi." ucap Barra terus mengerang dengan nafas yang memburu. Barra begitu menikmati permainan mereka yang dipimpin oleh istrinya.
Hingga pelepasan itu akhirnya datang dengan dasyatnya, dan seketika itu pula tubuh Arumi lemas, terjatuh ke dalam dada bidang Barra yang berpeluh keringat dengan debaran jantung yang masih memompa lebih cepat dari biasanya.
"Kamu sangat luar biasa Mami. Papi sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan Papi lagi! Papi sangat takut Mami tinggalin Papi lagi." Ucap Barra dengan lirih.
Barra melirik sendu wajah Arumi yang bersandar di dada bidangnya. Ia makin memeluk sangat erat tubuh Arumi, hingga Arumi merasa kesulitan bernafas.
"Papi, lepas! Meluknya biasa aja. Mami gak bisa nafas. Memangnya Mami mau kemana? Mami gak akan kemana-mana. Mami akan tetap di sini sama Papi." Jawab Arumi, tersenyum sambil mendongakkan wajahnya menatap suaminya yang terlihat sendu dan berkaca-kaca.
"Papi nangis?" Tanya Arumi sembari mengusap kelopak mata suaminya yang berkaca-kaca.
"Nggak cuma kelilipan," kilah Barra, tersenyum getir pada Arumi.
"Oh... kelilipan," ucap Arum yang kini melingkarkan lengan tangannya di leher Barra.
"Hemmm, kelilipan." Ucap Barra meyakinkan kilahnya.
"Mami kira Papi nangis, sedih karena takut kehilangan Mami." Ucap Arumi, ia menatap dalam manik mata suaminya.
"Mami senang Papi menangis ya, hum?"
"Tidak juga,"
"Tidak juga berarti iya."
"Hahaha... benarkah tidak juga berarti iya? Kenapa akhir-akhir ini Papi terlihat meragu dan takut kehilangan Mami? Padahal Mami adalah milik Papi."
"Apa dihati Mami ada pria lain selain Papi, Kak Adnan dan Ayah?" Kini Barra menatap Arumi dengan tatapan serius.
Sedangkan Arumi yang di tatap malah tersenyum menggoda sembari membelai wajah Barra. Memainkan bibir Barra dengan jemarinya.
"Jawab Mih!" Pinta Barra yang kembali memdesak Arumi untuk menjawab.
"Tentu ada Pih, Mami sangat mencintai dia. Separuh jiwa Mami ada padanya, Mami tak bisa jika harus memilih Papi dan dia. Karena bagi Mami, dia adalah segalanya. Papi dan dia sama-sama penting di hidup Mami. Jadi maafkan Mami kalau Mami mendua." Jawab Arumi yang kemudian memeluk tubuh Barra.
Barra memanas mendengar jawaban Arumi yang terkesan ambigu dan membuat Barra salah paham. Arumi tersenyum geli dan berusaha kuat menahan tawanya, mendengar derup jantung Barra yang terdengar termakan apo cemburu. Barra melepaskan pelukkan Arumi dengan kasar.
"Jangan peluk-peluk! Katakan siapa pria itu Mih. Pantas saja Papi selalu takut kehilangan Mami, ternyata Mami memang menduakan Papi. Tak hanya perasaan istri saja yang tajam, tapi suami juga." Ucap Barra dengan tatapan tajam.
Alih-alih segera menjawab Arumi malah tersenyum melihat Barra marah termakan kecemburuannya.
"Jangan ketawa Mih! Papi lagi serius. Cepat katakan siapa nama pria yang menjadi saingan Papi." Paksa Barra yang makin membuat Arumi terus tersenyum geli melihat ekpresi kecemburuan suaminya.
"MAMI JAWAB!!" Bentak Barra pada Arumi.
Bukannya sedih dibentak suaminya, Arumi malah memeluk tubuh suaminya.
"Pria itu adalah_______, adalah___ Nathan putra kita. Belahan jiwa Mami yang sangat Mami sayangi Pih." Bisik Arumi yang akan langsung mendapatkan serangan kedua dari Barra.
"Nakal!!! Berani-beraninya Mami meledek Papi. Seperti Mami harus dihukum." Ucap Barra.
Ia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar pribadi mereka, melanjutkan permainan season kedua mereka sore ini.
"