My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kemarahan Arabella



Sementara itu di mansion utama. Tuan Brandon tengah berbincang-bincang hangat bersama besannya, siapa lagi jika bukan Abimanyu. Mereka berdua terus berbagi cerita tentang Barra yang menjadi topik perbincangan mereka sejak semalam, tepat saat Tuan Brandon dan rombongannya datang ke Indonesia.


Kedatangan mereka lebih awal dilakukan karena Arumi sangat menginginkan makan bubur langganannya. Apalagi perut Arumi sering mengalami kontraksi palsu saat ini, padahal kehamilannya masih berusia tiga puluh empat minggu. Meski pun dokter yang menangani kehamilan Arumi melarang Arumi untuk melakukan penerbangan namun Arumi tetap memaksa dan sikap Arumi yang berubah seperti Barra yang tak bisa di cegah karena ia juga berkeinginan melahirkan di negaranya sendiri pun membuat Tuan Brandon mengabulkan permintaan Arumi yang cukup ekstrem ini.


Kini tanpa mereka ketahui, Barra ingin membawa Arabella dan Adnan ke New York, dan saat ini mereka sedang menikmati menu sarapan mereka di salah satu restauran milik keluarga mereka yang membuka cabang di Bandara, sebelum mereka melakukan perjalanan jauh dan cukup panjang nanti.


Jika Barra di sana sedang memakan kroket sebagai menu sarapannya, di mansion Arumi sedang makan bubur ayam langganannya. Ibu hamil ini sudah menghabiskan tiga mangkok bubur ayam yang anehnya tak membuatnya kenyang sedikit pun, saat ini ia sedang melahap bubur ayam mangkuk ke empatnya.


Sementara di restauran Barra merasa ada yang aneh dengan lidahnya, ia memakan kroket tapi mulutnya merasa sedang memakan bubur ayam langganan Arumi yang sering ia makan bersama Adnan, keduanya tetap memakan bubur ayam yang selalu mengobati rasa kerinduan mereka pada Arumi juga pada Anaya yang di rasakan oleh Adnan, meski mereka berdua sudah menghabiskan sarapan masakan Arabella sebelumnya. Adnan yang terus memperhatikan Barra yang mengecap-ngecap makanan di mulutnya pun akhirnya bertanya pada Barra.


"Kenapa Bar? Gak enakkah? Enakan sarapan nasi uduk semur jengkol Ibu ya? Selera lidah mu sudah berubah hahahaba..." Tanya Adnan mengejek sembari menghabiskan kroket kelimanya.


"Ini kroket kok rasanya kaya bubur ayam di lidah ku sih ya." Jawab Barra yang membuat Arabella dan Adnan tertawa sejenak.


"Hahaha... masa kok bisa? Benar-benar sudah ngaco lidah mu itu. Mana bisa begitu. Lidah mu konslet kebanyakan marah-marah itu. Kualat sama pelayan tadi." Balas Adnan dengan tawanya yang tak kunjung berhenti.


"Ahhh... tidak ada kaitannya dengan itu. Jangan suka mengait-ngaitkan deh Kak! Kau ini bisa saja mancing-mancing ibu marah pada ku." Sahut Barra yang ogah untuk minta maaf. Karena ia tahu Adnan menggiring Arabella untuk menyuruh dirinya minta maaf pada pelayan yang ia marahi itu.


Karena melihat mulai ada bibit-bibit keributan lagi. Arabella mulai mengeluarkan tanduknya. "Ibu bilang apa pada kalian, kalau makan gak boleh apa?" Tanya Arabella dengan mata membola dan suara yang menekan.


"Gak boleh ngobrol." Jawab keduanya dengan kompak seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.


"Itu kalian tahu, kenapa kalian lakukan, humm?"


"Lupa Bu. Karena lupa gak ingat." Jawab keduanya dengan kompak, seperti jawaban yang biasa mereka lontarkan. Sudah hapal di luar kepala.


"Ya, pantas saja, omongan ibu sering kalian lupakan. Jadi nasib kalian ya seperti ini, ditinggal istri-istri kalian." Jawab Arabella yang mengena dihati keduanya. Adnan dan Barra seketika diam dan menunduk, mereka memilih diam dan menghabiskan makanan tanpa boleh ada yang tersisa sedikit pun karena Arabella pasti akan memarahi mereka walau hanya tersisa nasi satu titik saja.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, ketiganya segera naik ke dalam pesawat, karena pesawat mereka akan segera berangkat. Namun saat Barra hendak duduk di kursinya. Tiba-tiba saja Barra berteriak histeris kesakitan. Membuat semua orang panik, terlebih Adnan dan Arabella.


"Kenapa Nak? Kamu kenapa?" Tanya Arabella dengan wajah khawatirnya.


"Bar, kenapa hoy? Jangan mati dulu hoy!" Tanya Adnan yang menepuk-nepuk bahu Barra yang sedang merunduk kesakitan.


"Aaaaa.... sakit sekali perut ku Bu... Aaaa... Kak tolong aku, seperti ada yang menendang-nendang ingin keluar" teriak Barra mengaduh kesakitan.


"Apan yang nendang-nendang? Tuyul? Hah, ada tuyul di perutmu, Bar? Serem kali hah.." sahut Adnan tak kalah heboh dari Barra yang kesakitan.


Seketika itu juga demi kebaikan bersama Barra diturunkan kembali dari cabin pesawat dengan dibantu para medis, begitu oula dengan Arabella dan Adnan. Penerbangan mereka pun benar-benar dibatalkan. Adnan mengurus barang-barang mereka yang juga di turunkan dari bagasi pesawat, sedangkan Arabella terus mengikuti para medis yang membawa Barra ke sebuah klinik kesehatan yang ada di dalam bandara.


Di dalam klinik Barra terus saja mengerang ke sakitan, Arabella sudah banjir air mata melihat menantunya seperti ini. Rasa khawatir, cemas dan sedih menjadi satu, apalagi tak ada sosok suami di sampingnya membuat ia makin kebingungan.


"Sabar Nak, tahan sedikit ya, sebentar lagi sakitnya pasti akan hilang." Ucap Arabella berusaha menenangkan Barra, namun ucapan Arabella tak bisa menenangkan rasa sakit yang Barra alami saat ini.


"Barra bertahanlah! Kuatkan dirimu, sebentar lagi kamu akan punya anak. Jangan biarkan anakmu lahir tanpa dirimu nak!"


"Tapi perutku sakit sekali Bu. Ibu jangan bicara seperti itu, aku masih hidup bu, belum mau mati." Balas Barra yang tak merasa berkurang sakitnya, meski seorang dokter telah memberikan obat pengurang rasa sakit pada dirinya.


Melihat kondisi Barra yang tidak memungkinkan, dengan segera Dokter klinik melarikan Barra ke rumah sakit terdekat. Sementara itu di mansion utama Anaya heboh bukan kepalang saat melihat ketuban Arumi pecah saat Arumi sedang santai memakan bubur mangkuk ke limanya.


"Kak, air ketuban mu!" Pekik Anaya yang ditanggapi santai oleh Arumi karena ia sama sekali tak merasakan sakit.


"Aaaaa.....rumi kamu akan segera melahirkan! Kenapa kamu masih makan saja?" Pekik Miranda tak kalah hebohnya.


Mendengar keduanya berteriak, Tuan Brandon dan Abimanyu segera menghampiri mereka yang berada di ruang makan. Betapa terkejutnya mereka melihat cairan ketuban Arumi yang sudah pecah dan Arumi yang tetap santai memakan buburnya.


Dengan cepat Abimanyu menghampiri putrinya dan mengambil mangkuk dari tangan putrinya itu. Sementara Tuan Brandon sudah memerintah Steve untuk menyediakan mobil untuk membawa Arumi ke rumah sakit terdekat.


Tepat di lobby UGD masih di dalam mobil, tanpa mengejang Arumi dibantu Anaya melahirkan seorang putra dengan mudahnya. Ia sama sekali tak merasakan sakit setengah mati saat proses melahirkan. Sementara itu sebelum Arumi berhasil melahirkan putranya, di dalam IGD rumah sakit yang sama. Barra berteriak sekuat tenaga hingga suaranya kini tak tersisa lagi, ia merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari perutnya.


Jangan tanya bagaimana penampilan Adnan saat ini. Penampilan dia sudah sangat berantakan karena Barra terus saja memukulnya, menjambak rambutnya, bajunya pun Barra tarik hingga robek compang camping. Salah dia sungguh salah bersikap baik untuk menenangkan rasa sakit yang diderita adik ipar laknutnya itu.


Setelah melewati rasa sakit setengah mati dalam beberapa menit. Tiba-tiba saja rasa sakit yang dirasakan Barra hilang begitu saja. Dokter pun terheran-heran karenanya.


"Barra, jangan-jangan kau ini kena santet pelayan itu. Makanya hati-hati kalau bersikap!" Ucap Adnan yang menakut-nakuti Barra.


"Arghhh... mana ada santet menyantet Kak. Kau ini terlalu banyak menonton film horor jadi begini." Balas Barra yang masih berbaring di Brankar rumah sakit.


"Yehh... dikasih tahu. Kalau gak ngeyel gak hidup ya kau ini."


Arabella yang kembali melihat keributan keduanya pun tersenyum. Baginya jika Barra sudah bisa berdebat dengan Adnan tandanya Barra sudah baik saja. Arabella yang ingin buang air kecil pun akhirnya meninggalkan bilik perawatan Barra di IGD, sewaktu ia ingin keluar dari ruang IGD. Berapa terkejutnya dirinya melihat kedua anaknya dan suaminya tengaj berjalan menuju pintu ruang IGD.


"Ayah, Arumi, Anaya...!" Panggil Arabella dengan mata yang membola sempurna.


Deg!!! [Jantung mereka berempat serasa ingin berhenti berdetak].


"Ayah kau dalam masalah besar," cicit Anaya yang segera menundukkan pandangannya dari Arabella. Ia sudah tahu jika Arabella sudah dalam mode mengamuk ia tak akan peduli dimana pun ia berada.


"Arghhh... kenapa kebetulan ini bisa terjadi." Cicit Abimanyu yang juga menundukkan pandangannya.


Sementara Arumi hanya bisa cengengesan, melihat ketakutan adik dan Ayahnya pada ibunya yang sudah membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tak takut sedikitpun dimarahi sang ibu, karena ini adalah hal biasa baginya. Terlalu sering dimarahi membuat ia sudah kebal dengan amarah Arabella.


"AYAH!!! INIKAH YANG KAU BILANG KOTA SURABAYA HAH?? SEMINAR APA YANG KAU DATANGI SEKARANG HAH?? BAGUS YA, PANDAI KALI KAU INI BERBOHONG PADAKU!! SUDAH BOSAN HIDUP KAU RUPANYA!! SUDAH SIAP KAU TIDUR SENDIRIAN RUPANYA!! MACAM-MACAM KAU MAIN RAHASIA-RAHASIAAN DENGAN KU YA!!" Pekik Arabella yang langsung membuat kegaduhan.


Mendengar Arabella marah-marah di luar IGD. Adnan dan Barra segera berlarian keluar, Barra melepas jarum infus yang menempel di pergelangan tanganya, tak perduli dengan darah yang mengalir cukup deras dari tangannya. Baginya Arabella adalah orang yang penting bagi hidupnya setelah kedua orang tua dan juga istrinya meninggalkan dirinya atas kebodohannya.