
"Pak Barra!" Panggil Arumi pada Barra yang masih berada di dalam selimutnya.
"Humm..." sahutnya pelan, yang malah menelungkupkan posisi tidurnya.
"Pak Barra bangun sudah siang," Arumi mengguncangkan tubuh Barra dan terus berusaha membangunkan Barra yang masih bermalas-malasan. Semenjak kepulangan Arumi, Barra memang berubah. Ia.menjadinorang yang malas dan lebih suka melakukan hibernasi.
"Hummm... iya. Cepat sekali sudah siang saja, kenapa kamu sudah pulang? Bukankah jam pulang perusahaanku tepat pukul empat sore." Tanya Barra yang membalikkan tubuhnya menghadap Arumi, matanya mengerjap-ngerjap melihat Arumi yang tengah duduk menatapnya.
Belum sempat Arumi menjawab pertanyaan Barra. Barra sudah melontarkan kembali pertanyaan pada Arumi, saat ia dapati raut wajah berbeda pada istri yang selalu membuatnya tak lagi merasakan insomia.
"Kenapa ekspresi wajah mu seperti itu menatap saya Arumi?" Tanya Barra lagi, ia segera bangun dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang tidurnya.
"Dimana nomor ponsel lama saya, Pak Barra?" Tanya Arumi dengan tangan kanannya yang menengadah pada Barra.
"Jadi karena hal tak penting itu, kamu rela meninggalkan pekerjaan mu hum?" Barra balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Arumi. Gurat kekesalan begitu nampak pada wajah Barra yang baru bangun tidur itu.
"Tidak juga. Dimana nomor ponsel saya Pak? Saya mau nomor ponsel lama saya." Tanya Arumi lagi aedikit memaksa dan tetap menengadahkan tangan kanannya pada Barra.
"Tidak juga berarti iya, Arumi. Kamu tidak akan mendapatkan nomor lama mu. Saya sudah membuangnya. Singkirkan tanganmu, karena saya tak akan pernah memberikannya." Jawab Barra yang kemudian menyingkirkan dengan kasar tangan Arumi dan beranjak dari ranjangnya. Ia keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Arumi terdiam merasakan sakit pada tangannya yang terhempas kasar oleh Barra. Mstanya menatapi tangan kanannya yang terhempas kasar oleh suaminya itu. Baru kali ini, selama pernikahannya dengan Barra, dia mendapatkan kekerasan fisik dari suami yang tak pernah mau belajar untuk mencintainya itu. Suami yang selalu menuntut haknya sebagai suami, namun tak pernah sempurna dalam memberikan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik pada dirinya.
Tak berapa lama Arumi pun keluar dari kamar Barra, ia mencari Barra dan tetap meminta nomor ponsel lamanya itu kembali. Nomor yang menurutnya sangat penting, karena hanya nomor itu yang diketahui keluarganya, terlebih kakaknya Adnan, jauh di lubuk hatinya. Ia masih tetap menunggu waktu dimana sang kakak akan sudi menghubunginya, untuk sekedar menanyakan kabar atau pun meminta maaf padanya. Meskipun itu terasa mustahil terjadi.
"Katakan pada saya! Kenapa nomor telepon itu begitu penting untuk mu hum? Apa kamu ingin melanjutkan hubungan nostalgia mu dengan Dokter busuk itu?" Tanya Barra dengan tatapan tajamnya. Kecemburuan dan kebenciannya pada Alex membuatnya semarah ini pada Arumi.
"Iya, nomor itu begitu penting dan berharga untuk saya, Pak. Saya hanya ingin nomor itu dikembalikan. Tolong Pak kembalikan nomor sim card saya," ucap Arumi sembari memohon.
"Lepas Pak! Sakit." Rintih Arumi yang kesakitan karena Barra terlalu kuat mencengkram rahangnya.
"Tidak akan saya lepaskan. Ingat Arumi, meskipun saya tak mengakui dan menyembunyikan pernikahan kita ini. Kamu tetap istri saya. Jaga batasan mu dengan Dokter busuk itu. Saya tidak suka dikhianati!" Ucap Barra lagi dengan nada menekan Arumi dan melepaskan cengkraman tangannya di rahang Arumi dengan kasar, hingga wajah Arumi berpaling ke arah samping dengan kasarnya. Sakit. Tentu saja sakit, tak hanya fisik.tapi juga hati Arumi.
"Kenapa saya harus menjaga batasan, sedangkan Bapak tidak? Kenapa hanya Bapak yang boleh tidak suka dikhianati, sedang saya tidak? Kenapa Dokter Alex tak boleh menghubungi saya, sedangkan setiap malam sebelum tidur, Bapak selalu berusaha menghubungi Pinkan. Wanita yang sudah menjadi seorang Ratu di hati Bapak itu? Kenapa saya harus mengerti perasaan Bapak, sedang Bapak tidak pernah mau mengerti perasaan saya. Sadarkah Bapak selalu menyakiti perasaan saya? Hati istri mana yang tidak sakit ketika suaminya mencumbuinya tapi kerap kali menyebut nama wanita lain, wanita murahan yang sudah jelas-jelas mengkhianati dirinya hanya karena uang." Tutur Arumi dengan titian air mata yang sudah membasahi pipinya.
Plak! [Sebuah tamparan mendarat di pipi Arumi].
Barra yang tak terima Pinkan dihina oleh Arumi pun melayangkan sebuah pukulan di pipi putih mulus Arumi. Sebuah tamparan keras yang di dapati Arumi, membuat wanita malang ini tersenyum dalam kepedihannya.
"Tutup mulut kotor mu itu Arumi. Kamu tak berhak menilai kekasihku seperti itu. Dia tak seperti yang kamu ucapkan. Dia itu wanita terhormat, tidak seperti dirimu. Wanita hina yang mau-maunya dinikahi, meskipun tau tak akan pernah dicintai oleh suaminya. Jika saja saya ini bukan atasanmu, dan juga tak sekaya ini, tak akan mungkin kamu mau menikah dengan saya. Pasti kamu menikah dengan saya karena uang, demi kenyamanan yang ingin kamu rasakan seperti saat ini." Ucap Barra dengan kalimat yang menusuk relung hati Arumi.
Arumi hanya bisa menundukkan kepalanya, mendengarkan ucapan Barra yang benar-benar merendahkan dirinya sebagai seorang istri dan wanita. Melihat Arumi hanya diam saja, Barra kembali melajukkan ucapannya yang menyakitkan hati Arumi.
"Jangan berharap lebih dari pernikahan ini Arumi! Kamu hanya saya anggap sebagai penawaran penyakit yang saya derita, dan juga sekedar patner ranjang saya, yang halal untuk saya sentuh. Dan ingat sampai kapan pun saya tidak akan sudi memiliki keturunan dari rahim wanita busuk seperti dirimu. Sepertinya ucapan ibu mantan kekasih mu itu sangat benar. Kenapa saya terlalu bodoh dan baru menyadarinya sekarang." Ucap Barra yang kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Arumi yang berdiri mematung dengan wajahnya yang masih menunduk.
Bi Ijah yang sejak tadi berdiri di dapur, hanya bisa diam menatap penuh rasa iba ke arah Arumi.
"Aku yang salah, aku yang terlalu banyak berharap dari dirinya, aku yang terlalu bodoh terbuai dengan semua kebaikannya. Sadarlah Arumi, tak akan ada tempat dimana seseorang akan menerima keberadaanmu. Aku ini wanita hina. Ya wanita yang terlalu hina dan tak pantas untuk dicintai. Mungkin kesendirian akan membuat hidupku tenang nantinya." Gumam Arumi di dalam hatinya.
Arumi masih berdiri ditempat yang sama, menatap pintu kamar Barra dengan tatapan nanar.
"Baiklah Pak Barra, saya akan membenarkan perkataan Anda pada saya, saya ini wanita hina, wanita murahan yang mau menikah dengan Anda hanya karena uang. Mulai hari ini saya akan mengeruk uang Anda." Ucap Arumi yang kemudian kembali mengambil tasnya di sofa. Ia kembali pergi meninggalkan apartemen. Ia memutuskan untuk pergi ke Mall atau pun Bank, ia akan mengeruk habis-habisan uang yang ada di dalam kartu blackcard milik Barra.
Di dalam perjalanan, Arumi terus saja memikirkan semua perkataan Indri padanya. Dari mulai jangan bekerja menggunakan hati dengan Barra, hingga rasa keram perut yang akan hilang jika ia pulang nanti.