
Genap lima puluh hari setelah Arumi melahirkan seorang generasi penerus untuk perusahaan Napoleon. Tuan Brandon membuat acara resepsi pernikahan yang sudah basi untuk digelar. Ia membuat acara resepsi penikahan atas permintaan sang putra yang ingin mengumumkan pada dunia, jika dirinya kini telah memiliki seorang istri dan juga seorang putra yang akan meneruskan kejayaan perusahaan Napoleon.
Di acara resepsi itu pula, Barra mengumumkan pada para tamu undangan dan juga awak media, jika dirinya mengangkat Adnan sang kakak ipar sebagai seorang CEO di perusahaan milik keluarganya yang ia pimpin selama ini, ia juga mengangkat Steve sebagai asistem CEO, yang akan membantu Adnan memimpin perusahaan miliknya. Ia mengangkat kedua orang itu tanpa kompromi terlebih dahulu dengan sang Daddy.
Tuan Brandon yang terkejut dengan apa yang dilakukan sang putra hanya bisa tertawa renyah sembari menikmati kebodohannya saat ini.
"Dasar anak kurang---" umpat Tuan Brando yang belum sempat selesai dan harus terhenti karena mendapatkan tatapan mematikan dari Miranda.
"Kurang apa anak mu itu, Dad hum?" Tanya Miranda dengan matanya yang membola.
"Hehehe...gak Mom, anakmu cuma kurang kasih sayang Daddy. Bukan begitu Mommy?" Jawab Tuan Brandon yang mencari amannya saja saat ini. Bersilat lidah untuk saat ini adalah hal yang terbaik. Ia tak ingin bernasib sama seperti besannya. Diacuhkan, diabaikan dan bahkan dimusuhi dengan istrinya hingga detik ini.
Sementara itu Kevin dan Indri yang mendengar Barra telah menunjuk Adnan sebagai seorang CEO dan Steve sebagai wakil CEO merasa sangat bahagia. Karena itu artinya tanggung jawab perusahaan akan di pegang penuh oleh kedua orang itu, kini saatnya mereka untuk bersantai dan melakukan program memiliki keturunan kembali tanpa di ganggu oleh Barra yang asal main perintah tanpa melihat situasi dan kondisi mereka.
Sedangkan Anaya dan Steve hanya tertunduk lemas, mendengarkan ocehan Barra yang seakan membuat mereka ingin muntah seketika. Iya, mereka ingin muntah dengan penderitaan yang sebentar lagi akan mereka hadapi. Penderitaan yang tak akan berhenti dibuat oleh Barra dan juga Adnan di ke depannya nanti.
Seandainya saja waktu dapat di ulang, mereka tak ingin ikut campur dengan permasalahan rumah tangga Barra dan Arumi. Mereka berdua sadar betul kini Barra, Adnan dan juga sang Ibu Arabella tengah melancarkan aksi balas dendam pada mereka.
"Sepertinya mereka akan bersenang-senang di atas penderitaan kita, lihatlah ibu mu begitu bahagia begitu juga Kakak mu. Ini pertama kalinya aku mendapatkan posisi kerja yang tak mengairahkan." Keluh Steve yang setia berdiri di samping Anaya. Ia tertunduk lemas, menyadarkan kepalanya di bahu Anaya.
Anaya yang mendengar keluhan calon suaminya, membuat dirinya naik pitam, ingin ia segera membogem mentah wajah kakak ipar menyebalkannya itu. Namun apa daya ia tak punya keberanian seperti dulu lagi, karena sang Ibu ada di pihak Barra.
"Dia sudah bosan hidup sepertinya, awas saja kau juragan empang. Lihat saja pembalasanku. Aku akan membalas mu dengan cara yang lebih licik dari dirimu." Geram Anaya sembari meremas pegangan stroller bayi milik putra Arumi dan Barra. Nathan Putra Barra Wijaya.
Hampir semua media televisi menyiarkan resepsi pernikahan pebisnis terkemuka tanah air ini. Jutaan orang menyaksikan acara resepsi pernikahan Barra dan Arumi yang super megah. Di sebuah rumah mewah seorang wanita menatap layar televisi dengan tatapan menyesal.
Ya wanita itu tengah di rundung rasa penyesalan terdalam dan terbesar dalam hidupnya. Andai saja ia tak mengusir Adnan dan tidak mau diceraikan oleh Adnan, pastinya kini ia berada di tengah-tengah mereka, dalam euforia pesta resepsi pernikahan mewah Barra dan Arumi. Tentunya, derajatnya di antara teman sosialitanya akan naik, karena memiliki adik ipar yang kaya raya dan terkenal.
Namun nasi sudah menjadi bubur, ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Adnan pun sudah mengacuhkan dirinya, setelah ia telah menghina habis-habisan ketika Adnan berusaha tetap menuaikan kewajibannya sebagai seorang Ayah yaitu menafkahi Riski, putra semata wayang dari pernikahan mereka.
Septi menangis tersedu-sedu, ia tak menyangka perceraiannua dengan Adnan akan membuatnya merasa menyesal sedalam ini, padahal awalnya ia berpikir Adnan-lah yang akan menyesal telah menceraikan dirinya. Sementara Pinkan yang juga menyaksikan siaran televisi mengenai pernikahan Barra hanya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ternyata dia sudah bisa move on dariku. Baguslah. Dengan begitu tak akan ada lagi yang menjadi penghalang sepak terjang ku." Gumam Pinkan yang sudah ingin mencari mangsa baru, untuk ia jadikan mesin cetak uangnya selanjutnya bagi dirinya dan juga sang Tante, karena bagi Tantenya, Ingo masih kurang kaya dan mapan untuk menunjang kehidupan gelamor mereka.
Selesai acara resepsi, keluarga besar Barra memutuskan untuk menginap di sebuah Villa di daerah puncak. Villa milik Tuan Brandon yang terlihat mewah dan terawat baik dari luar maupun dari dalam, meski bisa dikatakan Villa itu sudah cukup berumur.
Byurrrr! [Suara Steve yang di lempar ke dalam kolam renang oleh Barra dan juga Adnan]
Jangan tanyakan lagi bagaimana tatapan Anaya terhadap dua manusia menyebalkan bagi dirinya itu. Barra yang masih berjongkok melihat Steve kedinginan di dalam kolam langsung saja di tendang bokongnya oleh Anaya sekuat tenaga, hingga ia terjatuh ke dalam kolam renang juga. Begitu pula dengan Adnan yang sedang asyik-asyiknya menertawakan Barra yang terjatuh karena tendangan maut sang adik. Ia pun mendapatkan sepakan mematikan dari Anaya.
"Aaaaaaaa...." pekik Adnan saat ia terjatuh ke dalam kolam renang dan byurrrr. Ia basah kuyup dibuat Anaya.
Steve tersenyum senang, melihat Anaya selalu membelanya. Ia sengaja tak membela dirinya sendiri, hanya karena ia ingin tahu seberapa dalam kesungguhan cinta Anaya terhadap dirinya. Ia khawatir rasa yang selama ini Anaya berikan padanya hanya sebuah pelarian dari rasa kecewanya terhadap dokter tampan itu.
"Om, bisakah Om jangan terlalu pasrah dengan dua makhluk menyebalkan ini hah? Semakin Om lemah, mereka akan terus membully mu, Om." Omel Anaya yang berdiri tepat di bibir kolam.
Tanpa Anaya sadari Arabella sudah ada di belakang dirinya, diikuti dengan Abimanyu yang mengekori langkah sang istri.
"Dorrr..." Arabella mengagetkan Anaya tengah marah-marah pada Steve. Anaya yang terkejut pun akhirnya terjatuh ke dalam kolam renang pula. Steve segera menghampiri Anaya yang kurang pandai berenang. Steve menggendong Anaya karena kedalaman kolam renang ini hampir mencapai dua meter. Sedangkan tinggi Anaya hanya 160 centimeter.
"IBU!!! Ibu keterlaluan!" Pekik Anaya yang kini berada di dalam gedongan Steve.
"Hei... siapa yang lebih keterlaluan kamu atau Ibu. Sudah berani-beraninya membohongi Ibu dan menyembunyikan kakak mu." Balas Arabella dengan senjata paling jitunya yang seketika membuat Anaya diam seluruh bahasa.
Bugh!!! [Satu tendangan dalam air mendarat pada junior milik Barra yang sebenarnya siap beraksi malam ini].
Anaya meluapkan kekesalannya pada sang ibu langsung pada Barra. Si biang kerok dalam permasalahan ini.
"Aaaaanaya....mmmmppphhh si4l pisang raja ku." Rintih Barra dengan ekspresi wajah menahan sakit yang luar biasa.
"Kenapa Bar?" Tanya Adnan dengan wajah pura-pura khawatir.
Di dalam hati Adnan begitu senang bukan kepalang, melihat Barra kesakitan akibat ulah sang adik. Jika junior Barra sakit pasti dia tak akan jadi tempur bersama Arumi malam ini, dan itu artinya Barra akan menemani kesendiriannya malam ini. Karena di Villa ini hanya dirinya yang tak memiliki pasangan.
"Pisang ku ditendang Anaya, Kak." Jawab Barra dengan suara yang masih menahan sakit.
"Rasakan! Lanjutkan puasa mu malam ini Kakak ipar ku tersayang hahahaha....." seru Anaya dengan tawa kemenangannya. Steve dan Adnan hanya bisa mengulum senyum. Ia tak berani tertawa lepas di depan Barra.
"Arghhh.... Anaya awas Kau ughhh...." umpat Barra sembari memukul air dengan sekencang-kencangnya.
"Bawa aku ke pinggir kolam Om, aku tak mau berubah menjadi Mermaid hanya karena bergabung dengan juragan empang di kolam ini." Pinta Anaya pada Steve dan Steve pun menuruti permintaan Anaya, ia menggendong Anaya hingga ke bibir kolam.
Abimanyu yang melihat kelakuan anak dan menantunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah kapan mereka akan berdamai. Jika Arabella sebagai seorang ibu tidak bisa bersikap netral dan malah berada di salah satu kubu diantara mereka.