
Seminggu sudah Barra mengurung Arumi di dalam apartemen. Tak diberinya izin Arumi untuk meninggalkan apartemen dengan alasan apa pun. Barra melakukan seperti itu karena Arumi terus saja meminta cerai darinya.
"Pak, saya mau pergi ke minimarket, ada yang ingin saya beli," ucap Arumi pada Barra yang sedang menyesap sebatang rokok di balkon.
Barra mematikan rokoknya dan berjalan menghampiri Arumi. "Mau beli apa? Biar saya yang belikan." Jawab Barra sembari membenarkan anak rambut Arumi yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Mau beli susu ibu hamil," jawab Arumi dalam hatinya.
Arumi hanya bisa menjawa pertanyaan Barra di dalam hatinya dan mulutnya hanya terdiam di depan mata Barra. Saat ini ia sedang mencoba mencari alasan ataupun cara agar ia tetap bisa keluar dari apartemen untuk membeli susu khusus ibu hamil untuk dirinya dan buah hatinya yang ada di dalam kandungannya .
"Kenapa diam hum? Cuma cari alasan untuk keluar dan kabur, kamu mau meninggalkan saya, mau lari dari saya, iya?" Tanya Barra yang malah menarik pinggang Arumi hingga menempel pada bagian tubuhnya.
"Tidak bukan itu. Saya jenuh, mau keluar Pak. Saya berjanji tidak akan meninggalkan Bapak, sebelum Bapak lebih dahulu meninggalkan saya," jawab Arumi yang mengalungkan kedua lengannya di leher Barra.
Ia berniat menggoda Barra agar diperbolehkan keluar dari unit apartemennya. Sepertinya hanya dengan cara seperti ini Barra akan luluh hatinya dan tidak memenjarakan dirinya lagi seperti ini.
"Kamu mau merayu saya?" Tanya Barra yang melihat kedua lengan Arumi sudah menggelantung di lehernya.
"Tentu saja, saya akan merayu Bapak, sampai Bapak memberikan saya izin untuk keluar." Jawab Arumi yang berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah Barra.
"Saya tidak mudah di rayu dan dibohongi, Arumi. Apa lagi kamu selalu meminta cerai pada saya. Pastinya kamu minta izin keluar untuk lari dan pergi dari hidup saya." Sahut Barra dengan tebakannya.
Kemudian Barra malah menuntun Arumi untuk masuk ke dalam kamarnya. Menggiring tubuh Arumi mendekati ranjag tidurnya.
"Ah, benarkah? Sepertinya Bapak salah menebak apa yang ada di pikiran saya, saya tidak mungkin lari dari hidup Bapak sebelum Bapak mengusir saya, apa untungnya saya lari dari Bapak. Pasti Bapak akan bisa menemukan saya dimana pun persembunyian saya," balas Arumi yang sudah berada di bawah kungkungan Barra.
Barra degan mudah mebaringkan tubuh Arumi yang terlihat pasrah dengannya.
"Saya tidak yakin dengan ucapan mu. Sebelum kamu tanda tangani surat perjanjian pernikahan kita, dan saya akan mengizinkan kamu kembali beraktivitas seperti sedia kala bekerja atau pun berbelanja serta mengeruk uang saya di luar sana jika perlu," timpal Barra lagi, yang selalu memaksa Arumi menandatangani surat perjanjian pernikahan yang Barra buat. Surat perjanjian yang isinya sama sekali tak menguntungkan diri Arumi.
Dimana banyak poin-poin yang tertulis di sana, hanya menguntungkan pihak Barra dan hanya ada satu poin yang menguntungkan wanita malang seperti Arumi, dan itu pun hanya tentang sebuah materi, bukan kasih sayang atau pun perhatian yang selalu didambakan wanita yang tengah hamil muda. Poin dari isi surat perjanjian yang dibuat Barra diantaranya adalah,
Pihak kedua tidak boleh meminta atau pun menuntut cerai pada pihak pertama dengan alasan apa pun.
Pihak kedua tidak boleh mempublikasikan pernikahan atau pun foto kebersamaan mereka melalui media sosial. Apalagi menuntut untuk dicintai oleh pihak pertama.
Pihak pertama maupun pihak kedua harus bersikap layaknya pasangan romantis dan keluarga harmonis di depan keluarga kedua belah pihak apalagi kedua orang tua pihak pertama.
Pihak kedua harus memasang alat kontrasepsi pencegah kehamilan sesegera mungkin. Agar di dalam pernikahan yang akan berlangsung paling lambat hingga lima tahun ini jika kekasih pihak pertama tidak juga kembali, tidak menghadirkan seorang anak yang tidak berdosa dan tidak diinginkan oleh pihak pertama maupun pihak kedua.
Pihak kedua harus membantu pihak pertama dalam mendapatkan kembali kekasih hati pihak pertama, dengan cara apapun.
Pihak kedua harus pergi dengan suka rela ketika kekasih pihak pertama sudah kembali di kehidupan pihak pertama.
Pihak kedua dilarang menuntut hak dan kewajiban apa pun dari pihak pertama. Namun pihak kedua harus menjalankan kewajibannya terhadap pihak pertama tanpa terkecuali.
Seluruh barang-barang yang dibeli saat pernikahan pihak pertama dan pihak kedua berlangsung, akan menjadi milik pihak kedua jika pihak kedua tidak menuntut apa pun keputusan pihak pertama ketika kekasih pihak pertama telah kembali.
Pihak kedua harus mau mengajukan gugatan perceraian saat kekasih pihak pertama telah kembali pada pihak pertama dengan alasan ketidak cocokan daj menjelaskan kepada kedua orang tua pihak pertama dan kedua alasan mengapa pihak kedua menggugat cerai.
"Ok saya akan tanda tangani surat perjanjian itu sekarang, tapi hari ini juga izinkan saya untuk keluar dari unit apartemen ini, saya benar-benar jenuh." Jawab Arumi yang berusaha tidak egois pada calon buah hatinya.
Arumi rela dirugikan oleh Barra, asalkan demi kebaikan calon buah hatinya. Saat ini susu yang akan ia beli adalah sesuatu yang sangat penting untuk kesehatan dan tumbuh kembang cabang bayi di dalam kandungannya dan juga dirinya.
"Bagus, kamu memang wanita yang sangat pintar, senang bekerja sama dengan mu," cetus Barra yang memberikan senyum kemenangan pada Arumi.
Arumi hanya terkekeh geli di dalam hatinya, melihat senyum kemenangan yang diberikan suaminya itu, "Aku mengalah untuk saat ini, membiarkan mu menyakiti dan memporak-porandakan hati ku, tapi aku yakin, aku akan bahagia pada saatnya nanti. Tak perduli dengan bagaimana keadaanmu nanti." Gumam Arumi di dalalm hatinya.
Barra segera mengambil sebuah map yang berisi secarik kertas di dalam laci nakas, dimana surat perjanjian itu ia simpan. Barra yang sudah menandatangani surat yang ia buat terlebih dahulu pun menyodorkan surat itu beserta sebuah pena pada Arumi. Arumi menerimanya dan langsung menandatanganinya.
"Sekarang apa saya sudah boleh pergi?" Tanya Arumi pada Barra yang menyimpan kembali surat itu ke dalam laci nakas.
"Hemm tentu saja boleh, kamu mau ke minimarket bukan? Saya izinkan tapi hanya minimarket yang ada di apartemen ini." Jawab Barra sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya.
"Ok terimakasih, tapi dimana kunci unit apartemen ini?" Tanya Arumi pada Barra.
"Di saku celana saya, kalau mau ambillah!" Jawab Barra, tanpa ragu Arumi pun mengambilnya, meski Barra malah menuntut dirinya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu melayani suami di atas ranjangnya.