
Seorang dokter muda yang memiliki wajah yang tampan dan rupawan, baru saja selesai menjalani tugas sosialnya.
Kini dokter tersebut berjalan dengan rasa lelahnya menyusuri lorong apartemennya dengan membawa berapa buah tangan untuk sang putra yang sangat dirindukan olehnya.
Ceklek!
Pintu apartemen terbuka.
Suasana apartemen terlihat sepi dan gelap. Tirai jendela masih dibiarkan tertutup meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12.00 siang.
"Riski...Riski..." Pekik Alex yang sudah merasa curiga, jika Septi telah membawa Riski pergi dari apartemennya.
Alex membuka seluruh tirai jendela, ia selusuri setiap ruangan di apartemennya. Nihil. Kedua sosok yang ia cari sama sekali tak ia temukan.
"Si4l, pantas saja. Dia tak bisa aku hubungi. Ternyata kau pergi." Umpat Alex.
Kini ia terduduk lemas di atas sofa. Menutup kedua matanya dengan lengan kekar miliknya.
"Aku tak akan mencari kalian, tidak akan. Kalian yang memilih untuk pergi dariku." Gumam Alex yang terlihat sangat letih dengan semua ini.
Sementara itu, di tempat yang berbeda kini Septi tengah menemui teman lamanya, yang merupakan wanita di masa lalu Steve. Niat hati ingin mengajak teman lamanya ini bekerja sama, namun usahanya harus terpatahkan.
"Sorry Sep, bukan gue gak mau, tapi gue gak mau cari masalah sama Kak Steve. Lo gak kenal dia Sep, dia itu kaki tangan pengusaha yang berpengaruh di negeri ini." Tolak Teman lama Septi yang terus saja menggelengkan kepalanya sejak ia tahu rencana buruk Septi untuk Steve dan keluarga kecilnya.
"Dia sekarang gak lagi jadi asistennya Tuan Brandon, Beb. Dia udah jadi asistennya mantan laki gue." Ucap Septi yang masih berusaha memfollow up temannya ini.
"Iya, tuh lo tahu."
"Dan ini lebih gila lagi. Sorry banget, gue kira lo cuma mau ajak ketemu gue buat temu kangen atau hanya sekekdar ngobrol-ngobrol, karena kita udah lama gak ketemu dan komunikasi. Tapi ternyata lo punya niat jelek sama mantan gue. Serius gue mau dibayar berapa pun sama lo, gue gak mau Sep. Karena gak cuma nyawa gue yang jadi taruhannya tapi juga keluarga gue. Mereka itu orang-orang besar dan berpengaruh Sep. Lo jangan main-main. Mending lo lupain dendam lo." Tolak mantan Steve yang sangat mengenal bagimana Steve dan lingkungan kerja Steve.
Mereka berpisah bukan karena ada orang ketiga atau tak saling mencintai lagi, tapi karena kekasih Steve ini tak bisa mengimbangi Steve dengan pekerjaannya.
Septi kembali ke kediamannya dengan membawa kegagalan memfollow up mantan kekasih Steve. Begitu pula dengan Pinkan yang mendatangi kediaman Tati dengan membawa cerita gegalannya dan pengusiran yang dilakukan Barra padanya.
Tati benar-benar murka mendapatkan berita kegagalan dari keponakan dan menantunya.
"Kalian bagaimana sih hah? Kenapa tidak becus!" Tati berdiri dan mengomel pada kedua wanita yang tengah duduk di ruang keluarga bersama dengannya.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan Barra jika sama sekali tak bisa melakukan pendekatan pada dia, Pinkan." Omel Tati pada Pinkan yang sejak tadi terus menundukkan pandangannya, karena terus dicaci maki oleh Tati.
"Maaf Tante, aku akan berusaha lagi nanti." Jawab Pinkan dengan suara lemahnya.
"Nanti-nanti kapan hah? Kau ini harus bergerak cepat. Memang kau pikir harta peninggalan Ingo bisa bertahan lama dengan gaya hidupmu yang mewah ini hah?" Omel Tati yang masih menginginkan Pinkan mendapatkan pria kaya untuk menopang kehidupan borjunya.
"Iya Tante, secepatnya, aku akan mencari cara mendapatkan Barra kembali danmemisahkan mereka." Jawab Pinkan dengan keterpaksa.
Entah, bagiamana nasib dirinya kedepannya nanti, jika masih memaksakan diri untuk masuk kembali kehidupan Barra yang sudah menolak dirinya mentah-mentah.
"Dan kamu Septi! Mami gak mau tahu, bagaimana caranya kamu harus rayu teman kamu itu, untuk ikut apa maunya Mami. Camkan itu baik-baik!" Perintah Tati sekan tak mau dibantah oleh menantunya.