My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Karena menu Catring



Hari-hari pun berlalu, Adnan sudah terbiasa dengan rutinitasnya memimpin perusahaan milik adik iparnya yang memilih hidup dengan kesederhanaan versi Barra. Disaat malam hari setelah makan malam, Adnan sering terlibat pembicaraan serius mengenai perusahaan yang kini ia pimpin dengan Barra dan juga Steve. Kadang pula Kevin bertandang ke kediaman Abimanyu pun ikut berbincang serius mengenai perusahaan dengan mereka.


Banyak keputusan yang Adnan ambil setelah melakukan kompromi terlebih dahulu dengan Barra dan kedua orang itu. Alhasil dibawah kepemimpinan Adnan, perusahaan Napoleon menduduki peringkat pertama perusahaan terkuat di negara ini. Banyak orang salut terhadap cara kepemimpinan Adnan. Meskipun mereka tahu ada campur tangan Barra dibelakangnya. Karana gaya Adnan memimpin perusahaan sangat mirip dengan cara Barra saat memimpin perusahaannya saat itu.


Saat ini pernikahan Anaya dan Steve pun tinggal menghitung hari. Bukannya sibuk menyiapkan pernikahan adik iparnya. Barra malah sibuk membangun empang-empang baru setelah ia membebaskan berapa hektar lahan kosong di belakang rumah mertuanya. Ia juga tengah membangun sebuah paviliun untuk ia tempati bersama Arumi dan putranya Nathan di belakang rumah utama Abimanyu.


Asal mu asal Barra membangun sebuah paviliun dibelakang rumah Abimanyu adalah karena Abimanyu sudah mengusir Barra dan Arumi berkali-kali untuk pindah dari kediamannya. Jujur tak hanya Arumi yang cemburu dengan kedekatan Barra dan Ibunya. Begitu pula dengan Abimanyu. Apalagi Abimanyu sudah sangat pusing menghadapi keributan yang sering ditimbulkan anak, menantu dan calon menantunya setiap hari.


Penampakan koyo cabe di kepala Abimanyu yang sering kali terlihat, bukannya membuat anak menantu dan calon menantunya sadar dan tidak memancing keributan. Ini malah semakin menjadi-jadi. Seperti hari ini, dimana Arabella tengah memeilih menu catring untuk acara resepsi pernikahan Anaya dan Steve yang akan dilangsungkan di lapangan sepak bola yang berada di dekat kediaman Arumi.


Anaya, Barra dan juga Adnan berdebat dengan menu makanan yang ditawarkan staff catring yang mendatangi kediaman mereka.


"Yang nikah siapa sih, kenapa kalian berdua ikutan repot-repot milih menu?" Cerocos Anaya yang langsung di sahuti oleh Adnan.


"Hai, Anaya memang kamu yang nikah, tapi tamu-tamu undangan mu kebanyakan itu rekan bisnis kami, jadi jangan bikin malu." Cetus Adnan yang tak mau kalah.


"Betul," tambah Barra yang sejak tadi hanya bisa bicara betal-betul saja.


"Hah, sapa suruh ngundang mereka, lagi pula mana mereka mau datang di pernikahan yang diadakan dilapangan Bola perkampungan. Bukankah tidak selevel dengan mereka." Seru Anaya yang meragukan kedatangan orang-orang elit di pernikahannya.


"Mereka pasti datang, kalau tidak datang. Kak Adnan, ratakan saja bisnis mereka esok harinya. Beri ultimatum seperti itu pada tamu undangan kita ya." Cetus Barra.


Seketika pemilik catring jadi keringat dingin mendengarnya. Ia kira datang menawarkan catring pada keluarga biasa ternyata keluarga berkuasa berkedok sederhana.


"Dasar sok kuasa!" Celutuk Anaya.


"Memang?" Sahut Adnan.


"Kau keberatan bocil hum?" Tanya Barra yang menatap serius wajah Anaya.


"Kalau iya bagaimana Kak?" Tantang Anaya yang membuat kedua laki-laki dihadapannya menyilangkan kedua tangan mereka di dada mereka masing-masing.


"Bagaimana Kak? Adik kesayangan mu menantang kita." Tanya Barra yang memainkan matanya pada Adnan.


"Ceburin ke empang." Jawab Adnan yang langsung disetujui oleh Barra.


"Ayah, Ibu tolong Naya.. Kakak ishh..." pekik Anaya meronta saat ia di angkat Adnan dan Barra ke halaman belakang dan byurrrr... Anaya jatuh ke dalam empang.


"Astaghfirullahaladzim. ADNAN BARRA! Ya Allah. Kalian berdua ini. Benar-benar keterlaluan." Pekik Abimanyu yang masih menggunakan sarung, kaos kaki dan juga koyo di bagian kanan kiri kepalanya. Ia tengah meriang, merindukan kasih sayang Arabella yang terlalu lama mengabaikannya dan harus menghadapi dua pria dewasa yang tingkat kejahilannya Benar-benar diluar batas.


"Ayah lihat! Mereka berdua jahat pada ku." Adu Anaya yang sudah basah kuyup dan tubuhnya di penuhi lumpur.


"Tidak Ayah, dia duluan kami hanya membalasnya." Ucap Adnan yang pandai membela diri.


"Arghhh.... terserahlah apa kata kalian." Sahut Abimanyu yang tak mau mendengar penjelasan atau pun pembelaan dari Adnan maupun Barra.


"Syukurin di kacangain weee..." ledek Anaya pada Adnan sembari menjulurkan lidah dan menggoyangkan bokongnya ke arah Adnan dan juga Barra.


"BARRA, ADNAN!!" Pekik Abimanyu lagi. Ia memanggil nama keduanya seakan meminta anak dan menantunya untuk diam.


"Iya Ayah, ini udah diem kok." Sahut Adnan sembari merapatkan mulutnya. Sementara tak menyahuti panggilan mertuanya. Ia kebih memilih merapatkan mulutnya tanpa kata-kata.


"Anaya naik Nak! Ayah tak bisa membantu mu, Ayah masih meriang." Perintah Adnan pada Anaya yang masih berdiri di dalam empang.


Anaya pun berjalan sekuat tenaga dan merangkak naik dengan tubuh basah penuh lumpur.


"ANAYA!"Pekik Arumi sembari menggendong Nathan yang muncul dari arah dapur.


Arumi sudah membayangkan betapa sulitnya mencuci baju Anaya yang kotor dan dipenuhi dengan lumpur. Semenjak kembali ke keluarganya dan tidak bekerja, tugas Arumi di rumah ini adalah mencuci dan mensetrika pakaian.


Anaya yang paham dengan maksud pekikan suara sang Kakak pun langsung saja, mengadukan tingkah suami kakaknya itu dengan Kak Adnan.


"Marahi saja suami mu dan Kak Adnan, mereka yang melemparku ke empang." Adu Anaya yang seketika membuat mata Arumi melotot, seperti ingin keluar dari cangkangnya.


Adnan dan Barra tidak terlalu memperhatikan Arumi yang mereka pikir tak akan berani marah pada mereka. Keduanya malah asyik melihat Anaya yang tengah kesulitan naik ke atas. Mereka sangat terhibur dengan kesulitan Anaya saat ini.


"Gak bisa naik dia hahaha..." ucap Adnan pada Barra.


"Betul hahaha... katanya jagoan naik dari empang aja gak bisa." Sahut Barra yang ikut tertawa.


Huumm [Suara Arumi mendengus kesal ke arah Barra dan Adnan yang sedang tertawa di pinggir Empang, ia sangat kesal di acuhkan oleh suaminya itu].


Melihat ada pukulan kasur rotan yang menggantung di dinding luar dapur. Arumi segera mengambilnya. Ia berjalan menghampiri kedua pria dewasa itu sembari menggendong Nathan. Dan tiba-tiba saja kedua pria itu mengerang kesakitan saat pukulan kasur rotan itu mendarat di bokong mereka secara bergantian dan bertubi-tubi.


"Aduh ampun sakit sayang," rintih Barra yang tak dipedulikan Arumi.


"Arumi udah sakit aduh...," rintih Adnan yang juga mendapat pukulan dari sang adik.


Melihat Maminya memukuli Papi dan Omnya. Nathan yang ada di dalam gendongan Arumi malah tertawa geli untuk pertama kalinya.


"Nathan suka Mami pukulin Papi sama Om? Ok sayang Mami pukul mereka ya. Kenakalan mereka akan buat Mami lama meninggalkan mu karena harys mencuci baju kotor Ante mu itu Nak." Ucap Arumi pada Nathan yang terus tertawa.


"Lanjut Kak, jangan kasih jeda, jangan kasih ampun mereka. Hiaaaatss..." ucap Anaya yang sudah naik kedaratan. Ia langsung saja menindih Adnan dan memeluk tubuh kakaknya hingga ikut terkena lumpur seperti dirinya.


"Aaaa... Anaya jangan dekat-dekat kamu bau... sudah bau lumpur mulut mu itu bau jengkol gak hilanga-hilang." Ucap Adnan yang terus menghindar dari mulut Anaya yang terus saja sengaja mengeluarkan bau naga dari mulutnya.


Disaat mereka dalam keseruan tiba-tiba Arabella datang memanggil Barra.


"Barra, tugas mu!" Pekik Arabella tanpa perduli menantunya tengah kesakitan karena di pukuli oleh putrinya.


Ia memanggil menantunya untuk membayar seluruh catring yang dipesan untuk pernikahan Anaya dan Steve. Jangan tanya apakah Steve sudah memberikan uang seserahannya pada Arabella apa belum. Tentu saja sudah, namun uang seserahan itu sudah dibagi tiga oleh Anaya. Untuk ibunya 50 persen, dirinya tiga puluh persen dan 20 persennya lagi untuk Arumi. Ibu dan anak ini kompak untuk meminta didanai semua kebutuhan pernikahan pada Barra dan juga Adnan. Ini bentuk dari kesepakatan untuk belajar bersikap materialistis masal dari sekarang.