My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Ngidam Sate



Tanpa mengenal lelah dengan ditemani BinIja, Arumi pergi ke minimarket. Sebenarnya ia sangat keberatan jika harus ditemani Bi Ijah, ia takut Bi Ijah akan mengetahui apa yang akan ia beli.


Namun Arumi yang memiliki pemikiran yang sangat pandai pun, menyuruh Bi Ijah mencari produk suatu pembersih pakaian yang memang tidak tersedia di minimarket tersebut. Disaat Bi Ijah sibuk mencari produk itu, Arumi mendekati seorang kasir dan bicara dengan nada berbisik, ia meminta tolong pada kasir itu untuk memberinya susu ibu hamil rasa coklat sebanyak 4 kardus, masing-masing dari susu itu Arumi minta untuk dibuka kemasan kardusnya, hingga tersisa kemasan plastik yang ada di dalamnya. Untungnya oetugas kasir yag baik hati itu mau melakukannya dan misi mebeli susu pun berhasil.


Malam harinya sebelum ia tidur, seperti biasa Arumi membuat susu untuk dirinya sendiri. Ia membuat susu gelas ketiga bahkan ke empat ketika sudah memastikan Barra sudah tertidur dengan pulas, namun sayang kali ini Barra hanya pura-pura tertidur, karea ia sangat curiga dengan gerakan-gerik Arumi yang suka meninggalnya disaat dia sudah tertidur.


Barra mengikuti langkah kaki Arumi yang berjalan dalam kegelapan. Ia berjalan menuju dapur, membuat secangkir susu untuk dirinya dan mengambil beberapa cemilan di kulkas. Ternyata Barra menyimpulkan jika istrinya itu sedang menahan rasa laparnya dengan meminum susu dan memakan cemilan di dalam kulkas.


"Ternyata ada tikus berkepala hitam setiap malam ya?" Goda Barra yang ikut duduk bersama dengan Arumi.


"Saya lapar, tenaga saya sudah Bapak kuras di atas ranjang tadi," sahut Arumi berbohong, padahal mereka main hanya satu ronde dan itu pun Arumi hanya menerima service yang Barra berikan.


"Ah, benarkah? Kalau begitu, ayo kita makan di luar!" Ajak Barra yang seketika membuat Arumi tersenyum.


"Makan sate ya, saya mau sate ayam boleh Pak?" Ucap Arumi dengan bersemangat. Ternyata ibu hamil yang satu ini sedang mengidam-idamkan makan sate ayam.


Barra menjawab sengan menganggukkan kepalanya, tanda jika ia menyetujui akan ajakan makan sate dari Arumi. Mereka pun bergegas pergi keluar mencari pedagang sate, namun tidak menemukannya.


"Di dekat rumah orang tua saya ada, kita ke sana saja ya, please!" Ucap Arumi memohon dengan wajah yang menggemaskan.


Entah mengapa hati Barra tergerak ingin selalu mengikuti keinginan Arumi belakangan ini, terkecuali keinginan Arumi untuk bercerai. Entah karena rasa takut ditinggalkan atau kehilangan atau pula karena insting seorang suami yang berusaha siaga dengan semua permintaan istrinya yang tengah hamil muda.


Tanpa menjawab ajakan Arumi, Barra yang mengetahui jalan menuju rumah Arumi pun melajukan kendaraannya kearah kediaman Arumi. Arumi tersenyum senang saat mengetahui Barra melajukan kendaraannya menuju kediamannya. Ia menatap wajah Barra dengan tatapan penuh cinta, sedang Barra yang merasa ditatap hanya menarik senyum tipis di bibirnya.


"Makasih, Pak Barra memang terbaik," puji Arumi pada Barra.


"Pasti, saya selalu jadi yang terbaik, terbaik untu semua orang termasuk untuk kamu," sahut Barra dengan narsisnya.


Hahahahaha... [Arumi tertawa lepas untuk pertama kalinya dihadapan Barra.]


Barra tersenyum senang melihat Arumi bisa tertawa lepas bersamanya, tawa yang sangat ia ingin lihat sejak dulu, tepatnya sejak ia mendengar untuk pertama kalinya Arumi tertawa lepas bersama Dokter Alex.


"Akhirnya, aku melihat tawa lepas mu, Arumi. Kamu makin cantik jika tertawa lepas seperti ini. Andaikan saja tak pernah ada Pinkan di hidupku, mungkin aku akan mencintaimu," gumam Barra saat memperhatikan tawa Arumi yang menyenangkan hatinya.


Sedang Arumi di dalam hatinya terus saja bicara pada cabang bayi di dalam rahimnya."Dengarlah Nak, Ayah mu benar-benar narsis sekali, tingkat kepercayaan dirinya cukup tinggi, kamu harus meniru hal baik dari dirnya ya, supaya kelak kamu menjadi orang sukses seperti Ayah mu ini," Arumi bicara sembari mengusap perutnya yang masih terlihat datar itu.


"Pak berhenti! Di situ tempat satenya," ucap Arumi sembari menunjukkan kedai sate dengan jari telunjuknya.


"Ok, kita ke sana, bersabarlah. Siapkan cacing-cacing di perut mu untuk segera menyantap sate keinginanmu itu, ya." Ucap Barra sembari tersenyum kearah Arumi.


"Makasih Pak Barra, cacing-cacing saya sudah siapkan tanki penyimpanannya kok," sahut Arumi, ia membalas senyuman Barra dengan kecupan manis di pipi Barra.


Blushhh! [Barra merasa ada gelenyar aneh saat Arumi mencium dirinya.]


Arumi turun dengan penuh semangat, ia langung saja memesan sate ayam lima puluh tusuk dengan lontongnya untuk dirinya sendiri dan satu porsi sate kamping untuk Barra, karena Barra ingin makan sate kambing. Setelah selesai memesan Arumi mencari tempat untuk dia dan Barra makan di sana.


Entah sebuah kebetulan atau takdir Tuhan, Arumi bertemu dengan Adnan, sang kakak yang juga sedang makan bersama istrinya tanpa putra mereka. Arumi tersenyum saat Adnan tak sengaja melihat dirinya. Namun senyum Arumi tak dibalas apalagi dihiraukan oleh Adnan. Ia malah kembali fokus menyantap sate yang ada di hadapannya.


"Kamu senyum sama siapa? Jangan bilang ada Dokter busuk itu di sini?" Tanya Barra yang baru saja datang dari memarkirkan mobilnya.


Ia terlihat kesal termakan api cemburu saat menghampiri Arumi yang masih berdiri tengah tersenyum begitu manis pada seseorang yang entah siapa.


"Pak Barra, mana ada Dokter Alex di sini, saya hanya tersenyum melihat Kak Adnan, kakak saya yang juga ada di sini." Sanggah Arumi yang memberitahukan kebenarannya atas tuduhan Barra padanya.


"Owhh... Ya sudah ayo kita bergabung bersama dia, kamu harus ingat, tunjukkan kalau kita adalah pasangan yag harmonis," ajak Barra yang sudah menggandeng tangan Arumi. Namun Arumi malah menolaknya.


"Tidak perlu, istrinya tak akan sudi duduk satu meja bersama diri ku Pak, mungkin jika Bapak sendiri duduk di sana, dia masih mau, tapi jika ada saya, lebih baik tidak usah. Jangan ganggu kebahagiaan mereka!" Ucap Arumi dengan lirih, tatapan matanya masih menuju meja Adnan yang pura-pura tak melihat keberadaan adiknya.


"Mbak Arumi, satenya! Mau duduk dimana?" Ucap pelayan toko yang sudah mengenal Arumi. Karena Aruminkerap kali makan sate ayam bersama Anaya di kedai ini.


"Di sini saja Bang, makasih ya," jawab Arumi yang kemudian duduk di kursi kosong, yang letakknya tak jauh dari ia berdiri.


Barra melihat tak menyangka dengan pesanan sate yang Arumi pesen.


"Kamu gak salah pesan sate segini banyak Arumi?


"Nggak salah Pak. Memanganya kenapa? Kedikitan ya?" Tanya Arumi yang malah memancing Barra menertawainya.


"Aish... Kedikitan dari mana, kamu tuh udah melebihi porsi di batas normal tahu. Perutmu pasti akan kekenyangan dan sakit Arumi,"