My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tak bisa menemui



"Hay Boy, senang berkenalan dengan mu." Sapa Steve pada Rizki. Dengan dituntun Arabella, Rizky mencium punggung tangan Steve.


"Aku juga Om, senang berkenalan dengan om Steve." Balas Rizki dengan senyum ramah yang menggemaskan.


Usai mencium punggung tangan Steve, Arabella menuntun Rizky dengan tangan kirinya untuk mendekati Zeline, yang duduk diantara Anaya dan juga Arumi. Di dalam pikiran Rizky kecil, ia akan dituntun mendekati Arumi, Sang tante yang hampir tidak pernah ia temui. Namun belum sampai langkah kaki kecilnya mendekati Arumi. Arabella meminta Rizki untuk mencium punggung tangan Zeline terlebih dahulu.


"Rizky sayang, Salim dulu sama mami Zeline, Nak!"perintah arabella kepada cucunya.


"Mami Zeline?? Mami Zeline itu siapa Nek?" Tanya Rizky kecil yang tidak mengenal siapa yang dimaksud oleh neneknya.


"Mami Zeline itu adalah istri papi mu, nak. Sekarang Rizki punya dua Mami. Yang duduk diantara tante Arumi dan juga tante Anaya adalah Mami Zeline, mami baru untuk Rizki."terang Arabella pada cucunya yang terlihat masih belum mengerti.


Terang saja Rizki belum mengerti karena usianya masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Dia masih belum mengerti arti kata perceraian dan memiliki Mami baru.


"Hai, Riski." Sapa Zeline yang terlihat kaku menyapa Riski.


Sikap kaku Zeline ini bukan berarti ia tak menerima keberadaan dan kehadiran Rizki sekarang, tapi dia memang tidak pernah berhubungan dengan anak kecil sebelumnya.


"Hai, Mami." Riski balas menyapa dengan memanggil Zeline pertama kalinya dengan sebutan Mami. Rupanya anak ini sangat pintar dan penurut.


Hati Zeline merasa terhenyuh ketika ada anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan Mami. Tiba-tiba saja Zeline merentangkan tangannya, meminta Rizki anak sambungnya itu, untuk masuk ke dalam pelukannya.


Rizky yang mengerti jika Zeline meminta dipeluk olehnya pun menjatuhkan tubuh mungilnya di dalam pelukan Zeline. Zeline mengusap kepala anak sambungnya dengan penuh kasih sayang dan memeluknya dengan erat.


Adnan dan Barra yang sudah selesai mengangkat jaring, ikut bergabung dengan mereka yang berada di saung. Adnan bukannya senang melihat Zelin dekat dengan Rizky putranya. Ia malah terlihat tidak suka dan tatapannnya lebih terlihat cemburu pada anak kecil yang merupakan anaknya itu.


"Hei, Kak. Dia putramu sendiri. Jangan menatapnya seperti dia adalah pria dewasa yang sedang kau cemburui." Tegur Barra pada Adnan.


"Dewasa atau anak kecil tetap saja dia itu seorang pria." Balas Adnan dengan tatapan tak sukanya terhadap Barra.


"Cih. Posesif sekali kau. Kenapa dengan Nathan kau tak secemburu ini? Mengapa dengan putramu sendiri kau cemburu? Kau ini benar-benar aneh." Cetus Brara dengan pertanyaannya, yang membuat Adnan kembali berpikir dengan perasaannya selama ini pada putranya sendiri yang ia anggap seperti orang asing.


Meski sudah mengetahui jika Rizki datang bersama dengan maminya yaitu Septi anggota keluarga Abimanyu sama sekali tidak ada yang berniat untuk membukakan pintu.


Abimanyu yang melihat tak ada pergerakan satupun dari anggota keluarganya pun akhirnya memutuskan untuk menerima tamu yang tak diundang oleh keluarganya itu, bahkan bukan hanya tak diundang tapi tak diharapkan kedatangannya lagi di rumah tersebut.


"Ayah mau ke mana?" Tanya Arabella saat suaminya melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah melewati pintu belakang.


"Membukakan pintu untuk Septi, Bu." Jawab Abimanyu yang menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arah sang istri.


"Tidak ada yang harus pergi karena kedatangannya Bu. Jika ibu dan yang lainnya tidak mau menemuinya biarkan ayah saja yang menemuinya. Ayah ingin tahu untuk apa tujuan kedatangannya ke sini." Jawab Abimanyu yang kemudian melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah.


Saat Abimanyu sudah dekat dengan pintu depan rumahnya, ia mendengar dengan jelas jika mantan menantunya itu tengah menggerutu, karena cukup lama tidak dibukakan pintu oleh keluarga mantan suaminya.


"Ughhtt... Sudah miskin sombong sekali membuka pintu saja lama." Grup to Septian didengar oleh Abimanyu.


Ceklek [Suara pintu rumah Abimanyu terbuka]


"Ayah!" Cicit Septi memanggil nama sang mantan mertua.


Senyum kaku ditampilkan Abimanyu saat mendengar Septi memanggil namanya. Bukannya menyuruh mantan menantunya masuk Abimanyu malah tetap berdiri di ambang pintu tanpa mempersilahkan Septi untuk masuk.


"Ada perlu apa nak Septi datang ke sini?" Tanya Abimanyu langsung pada intinya.


"Ayah, apa mas Adnan ada di rumah?" Jawab Septi yang balik bertanya pada Abimanyu.


"Adnan ada di rumah bersama istrinya. Untuk apa lagi kau ingin menemuinya? Tolong jangan rusak kebahagiaan putraku! Biarkan Adnan hidup bahagia dengan istrinya yang sekarang." Jawab Abimanyu dengan suara yang tegas.


Jawaban Abimanyu ini sedikit mencubit hati Septi. Kedatangannya dianggap oleh mantan mertuanya sebagai perusak rumah tangga mantan suaminya.


"Ayah aku datang ke sini tidak ada niat untuk merusak rumah tangga mas Adnan tapi aku datang ke sini karena ada perlu dengan dia. Bolehkah aku masuk ke dalam rumah dan menunggunya untuk bicara?"


"Jika ada yang ingin kamu bicarakan pada Adnan sampaikan saja pada ayah ayah akan menyampaikannya pada Adnan. Tolong jaga perasaan istri Adnan sekarang mungkin dia tidak suka dengan kehadiranmu, seperti dirimu yang tak suka dengan kehadiran Arumi di rumah ini, saat kamu menjadi menantu di keluarga ini." Ujar Abimanyu yang kembali menusuk perasaan Septi.


"Ayah aku ingin bicara empat mata dengan mas Adnan tidak bisa diwakilkan tolong pahami aku kali ini saja ayah." Pinta Septi yang seakan merendahkan dirinya kali ini pada mantan mertuanya. Ia menatap Abimanyu dengan tatapan memohon namun Abimanyu tetap pada pendiriannya ia tetap tak memberikan izin untuk Septi masuk ke dalam rumahnya ataupun menemui Adnan.


"Sudah cukup bertahun-tahun keluargaku memahami keinginanmu dan sekarang tidak ada kewajiban bagi keluargaku untuk memahamimu, jika kedatanganmu terus memaksa lebih baik kau pergi dari sini." Tolak Abimanyu yang berujung mengusir kehadiran Septi di kediamannya.


Septi terperangah dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya, tiga kali sudah hati Septi tersayat-sayat dengan kata-kata tenang dan sopan, namun menyakitkan dari mulut mantan mertuanya, yang ia anggap baik dahulu. Sungguh Septi tak menyangka jika mantan mertuanya ini bisa berkata menyakitkan pada dirinya.


"Baiklah ayah jika aku tidak diperkenankan untuk bertemu dengan mas Adnan, tolong panggilkan putraku aku akan membawanya pulang."pinta Septi yang malah kembali mendapatkan jawaban yang menyakitkan dari Abimanyu.


"Silahkan bawa putramu pulang toh cucuku bukan hanya putramu saja. Ayah tidak habis pikir denganmu. Mengapa kamu sangat tega menjauhkan kami dengan putramu? Mungkin masih bisa dikatakan wajar jika kamu menjauhkan kami dengan putramu, tapi anehnya kamu juga menjauhkan Rizki dengan Adnan, tidak sadarkah kamu jika Adnan merasa asing dengan putranya sendiri? Sebenarnya apakah Rizki itu anak kandung Adnan, jika sikapmu seperti ini pada Adnan?"


Deg! Seketika jantung Septi rasanya ingin berhenti berdetak mendengar perkataan mantan mertuanya yang menanyakan apakah benar Rizki itu anak atau bukan.