
Tepat pukul 11.00 siang di perusahaan Napoleon. Seorang wanita berparas cantik dengan pakaian seksinya mendatangi perusahaan milik mantan kekasihnya.
Wanita dari masa lalu Barra ini datang dengan rasa penuh percaya diri, tanpa perduli dengan keberadaan istri Barra yang bekerja di perusahaan yang sama dengan pria yang masih bertahta di hati Pinkan.
Ya, wanita berparas cantik yang datang ke perusahaan Napoleon adalah Pinkan mantan kekasih Barra.
Tanpa mendatangi resepsionis terlebih dahulu Pinkan melenggang masuk ke lorong lift untuk naik ke lantai paling atas dimana ruangan kerja Barra berada.
Para karyawan yang ada di lantai dasar tidak melakukan pencekalan atas kedatangan Pinkan karena mengenal siapa Pinkan, dan selain itu mereka tidak berani melakukannya karena takut mendapatkan amarah dari Tuan mudanya.
Tuk...tuk...tuk...
[Suara derap sepatu Pinkan memecahkan keheningan lorong ruang kerja Barra]
Sontak suara derap sepatu Pinkan membuat ketiga ibu hamil ini melirik ke arah Pinkan.
"Kok dia bisa masuk?" Tanya Indri.
"Mau ngapain tuh nenek sihir?" Tanya Zeline.
"Siap-siap tidur di luar kamu Pih, kalau kamu masih ngeladenin janda gatel ini." Gerutu Arumi tanpa menjawab pertanyaan Indri atau pun Zeline.
"Kalian sedang lihat apa? Siapa janda gatel yang kau maksud Arumi? Apa aku" Tanya Pinkan yang ternyata mendengar gerutuan Arumi, dengan nada bicara yang ramah dan senyum manisnya yang terlihat sangat memuakan ketiga ibu hamil ini. Karena terlihat begitu dipaksakan.
"Ya Allah, mimpi apa semalam bisa ketemu ulet keket hari ini. Amit-amit cabang bayi," ucap Indri sembari mengusap perutnya buncitnya yang sebentar lagi akan siap launching. Tak lupa ia membuang pandangannya agar tak melihat wujud ulat keket yang ia maksud.
Zeline yang menyimak dan memperhatikan Indri pun, akhirnya ikut-ikutan mengusap perutnya yang masih datar.
"Ahh, iya-ya. Mommy harus ikuti apa yang dilakukan Aunty mu sayang, agar kamu tidak terkontaminasi makhluk gaib dihadapan kita. Amit-amit cabang bayi, piuh...piuhh..."
Pinkan yang tahu keduanya terlihat jijik padanya sama sekali tidak perduli. Ia masih memberikan senyum terbaiknya pada kedua wanita hamil itu. Kemudian tanpa rasa malunya, ia langsung saja bertanya pada Arumi., Tentang keberadaan Barra.
"Suamimu ada Arumi?"
Arumi yang terus saja menatap jutek wanita yang berniat memporak-poranda rumah tangganya. Tersenyum kecut saat ia mendengar pertanyaan Pinkan yang mencari suaminya.
"Ada. Untuk apa kamu ke sini? Siapa yang mengizinkan mu untuk masuk ke perusahaan suamiku?" Jawab Arumi sinis.
Kali ini Pinkan tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Arumi padanya. Di hati kecilnya bertanya mengapa dia harus menjawabnya pertanyaan receh istri matan kekasihnya ini, yang ia yakini pasti Arumi sebenarnya cukup pintar untuk tahu maksud dan tujuannya mendatangi perusahaan mantan kekasihnya ini.
"Ck, untuk apa aku ke sini? Pertanyaan macam apa yang kau lontarkan pada ku, Arumi? Tentunya kau tahu aku datang ke sini untuk menemui suamimu. Makanya aku menanyakan apa dia ada pada mu. Jika kau bertanya siapa yang mengizinkan aku masuk ke perusahaan ini, tentu saja suami mu." Jawab Pinkan dengan senyum meremehkan Arumi.
"Cih, tidak mungkin Suamiku mengizinkan mu masuk ke perusahaan ini, kau pintar sekali mengada-ada Pinkan. Tolong pergilah! Suamiku sedang sibuk. Aku yakin kedatanganmu hanya untuk mengganggunya saja."
Arumi beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Pinkan. Ia seakan ingin menghadang Pinkan yang memaksakan dirinya untuk masuk keruangan kerja suaminya.
"Uekkkk..." Indri dan Zeline sama-sama memuntahkan sesuatu saat mendengarkan ucapan Pinkan yang terlalu percaya diri.
"Kau ini tidak punya kaca di rumah heh? Sepercaya ini kau bicara pada Arumi, akan merebut Barra darinya." Sarkas Indri yang sangat tidak suka dengan Pinkan.
"Aku bukannya tidak punya kaca, Indri. Tapi seharusnya Arumi-lah yang mengaca diri, jika ia tak pantas mendampingi seorang Barra." Balas Pinkan yang menghina telak rivalnya.
"Perempuan tak tahu diri, beraninya kau hicara seperti itu pada adik iparku." Ucap Zeline yang tahu-tahunya sudah berada diantara Arumi dan Pinkan.
Zeline langsung saja menjambak-jambak rambut panjang Pinkan yang sengaja dibiarkan tergerai.
"Aaaaaa.... Sakit sekali! Lepaskan aku Zeline! Kau ini tak berubah masih saja bar-bar dan giila." Pekik Pinkan yang berusaha melepaskan jambakan tangan Zeline pada rambutnya.
Zeline menarik tubuh Pinkan hingga pinkan terjatuh, dan saat Pinkan terjatuh itulah, Zeline langsung menindihnya dan mencakar-cakar wajah Pinkan yang tebal dengan riasan.
Zeline berhenti sejenak memukuli dan mencakari Pinkan hanya untuk melihat penampakan kukunya.
"Jiahhh.... Berapa lapis dempul wajahmu ini Pinkan? Kau benar-benar wanita bertopeng!" Hina Zeline yang kembali memukuli dan mencakar-cakar Pinkan yang berada di bawah tubuhnya.
Bukannya memisahkan Arumi malah terperangah dengan apa yang dilakukan Zeline pada Pinkan, sementara Indri terus menyemangati Zeline untuk terus mememukuli wanita yang sangat ia benci sejak dulu kala.
Suara teriakan Indri yang menyemangati Zeline, terdengar sampai ke dalam ruangan Barra, di mana Adnan dan juga Barra sedang mendiskusikan sebuah proyek pekerjaan yang sedag mereka garap bersama.
"Mereka bertiga sedang apa? Kenapa berisik sekali?" Tanya Barra yang begitu jelas mendengar Indri terus berteriak-teriak menyemangati Zeline.
"Aku tidak tahu, tapi kenapa suara Indri terus menyemangati istriku, seakan istriku sedang bertarung? Apa jangan-jangan mereka melanjutkan pertengkaran mereka di rumah tadi di sini?" Adnan malah balik bertanya dengan prasangkanya.
Arumi dan Zeline memang bertengkar di rumah pagi tadi. Seperti hubungan keluarga pada umumnya, tidak mungkin akur terus menerus, pasti akan ada perdebatan dan perselisihan.
Perselisihan dan keributan mereka berawal dari tingkah konyol suami-suami mereka yang tidak mau kalah di mata Arabella.
Di keluarga besar Abimanyu yang menjadi primadona para lelaki di keluarga itu adalah Arabella. Mereka saling berlomba-lomba mengambil hati Arabella. Bukan mengambil hati para istri-istri mereka.
Keributan ini di mulai karena Adnan yang tak mau sama sekali di salahkan dalam masalah apapun termasuk masalah keributan antara Arumi dan Barra pagi ini. Padahal otak dari segala keributan di keluarga itu ada pada dirinya dan juga Anaya, yang pagi ini berhasil kabur menyelamatkan diri.
Baik Arumi dan Zeline saling melindungi dan membela suami mereka masing-masing. Arumi terus menyalahkan Adnan dan begitu pula sebaliknya Zeline juga menyalahkan Barra.
Meskipun mereka berdebat cukup sengit tadi pagi. Namun keduanya kembali berbaikan setelah di damaikan oleh Abimanyu, yang selalu menjadi penengah di kala ada keributan.
Kedua pria tampan itu segera bergegas keluar demi mengetahui keributan apa yang terjadi di luar ruang kerja Barra.
"Ya ampun Zeline!" Ucap Adnan yang terlihat shock dengan apa yang dilakukan istrinya.