My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Mood yang rusak



"Arumi... Arumi...mmmm...Arumi...tolong ambilkan segelas air, suami mu ini haus," panggil Barra yang baru saja bangun.


Ia berteriak memanggil istrinya untuk meminta di ambilkan segelas air minum. Namun panggilannya tak mendapat sahutan dari Arumi. Dengan mata yang masih berat, Barra mulai meraba sisi ranjang tidurnya. Kosong, itulah yang ia dapati.


Tanpa menggunakan sehelai benang pun untuk menutupi juniornya, Barra segera berlari ke kamar mandi untuk mencari Arumi. Perasaannya mulai tak enak, seperti waktu Tuan Brandon membawa Arumi pergi dari apartemennya.


Saat ia tak mendapati Arumi di kamar mandi, Barra segera mengenakan pakaiannya dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Pagi Tuan muda, kami sudah siapkan sarapan untuk Tuan muda," sapa salah satu ketua pelayan yang bernama Panca, tepat di anak tangga terakhir.


"Dimana istriku?" Tanya Barra pada Panca sembari meneguk segelas air putih yang di sediakan oleh Panca.


"Sudah berangkat Tuan," jawab Panca tanpa berterus terang.


"Hemmm... begitu, ternyata dia sudah berangkat, ku kira dia sudah pergi meninggalkan ku." Gumam Barra yang sama sekali tak merasa curiga dengan jawaban setengah-setengah yang diberikan kepala pelayan yang terkenal irit bicara itu.


"Kok sepi, kemana para algojo peliharaan Aki-aki tua itu Pan?" Tanya Barra pada Panca yang setia melayani Barra menikmati sarapan paginya.


"Sedang libur," jawab Panca dengan keiritan bicaranya.


"Mmm...libur, tumben?" Sahut Barra yang telah menyelesaikan sarapannya dengan cepat, karena tiba-tiba saja rasa mual melanda dirinya.


Cepat-cepat Barra berlari ke toilet untuk memuntahkan makanan yang membuatnya mual-mual itu.


"Panca, siapa koki yang memasak makanan pagi ini? Pecat dia! Makanannya sungguh tidak enak!" Teriak Barra saat ia sudah hampir mati lemas di dalam toilet dapur.


"Baik, saya minta izin Nyonya besar dulu, Tuan muda." Sahut Panca yang tidak bisa serta merta mengikuti perkataan anak majikannya ini.


"Panca, tolong bantu aku berdiri! Kaki ku seperti tak bertulang lagi." Perintah Barra dengan suara yang cukup menggelegar.


Panca pun membantu Barra untuk berdiri dan membawanya keluar dari toilet dapur. Barra diberikan segelas lemon tea hangat untuk sedikit memulihkan kondisinya. Seorang juru masak yang mengetahui istri Barra sedang hamil yang berinisiatif membuatkan lemon tea hangat untuk Barra.


Setelah tiga puluh menit beristirahat, dan merasa membaik, Barra segera bergegas membersihkan diri dan pergi ke perusahaan. Sesampainya di perusahaan, ia sudah mendapati Pinkan ada di ruang kerjanya.


"Mau apa kau ke sini, sepagi ini? Mau menghina ku atau mau marah-marah lagi pada ku?" Tanya Barra yang tiba-tiba saja moodnya jelek ketika melihat wajah Pinkan.


"Sayang, kenapa kamu sesensi ini sama aku?Biasanya kamu selalu tidak mempermasalahkan aku mau datang kapan saja? Sebenarnya kamu serius mau memulai hubungan dari awal lagi gak sih sama aku?" Sahut Pinkan yang malah balik bertanya pada Barra.


"Arghhh... hari ini mood ku sedang jelek, datanglah esok hari," usir Barra pada Pinkan. Hal yang tak pernah dilakukan Barra sebelumnya.


"Apa? Apa kamu sedang mengusirku sayang?" Tanya Pinkan yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Barra yang kemarin dengan Barra yang hari ini ia temui sungguh berbeda. Entah kesambet makhluk astral darimana bisa membuat pria yang cinta mati dengannya itu berubah dalam sekejap mata.


"Kamu yakin mengusirku? Jika aku keluar dari pintu ruangan mu, jangan harap aku akan muncul di kehidupanmu lagi." Gertak Pinkan yang tak dihiraukan oleh Barra.


Untuk pertama kalinya Barra mengibaskan tangannya, seperti yang dilakukan dirinya pada orang di sekelilingnya. Pinkan yang mendapatkan perlakukan yang tak menyenangkan baginya pun keluar dari ruangan Barra dengan perasaan yang dongkol. Di dalam hatinya ia terus merutuki Barra.


"Kamu memang pria yang tak bisa aku andalkan. Menyebalkan sekali, kau sudah menghina dan merendahkan ku. Lihat saja aku akan cari pria yang melebihi dirimu, akan ku buat kau menyesal telah memperlakukan ku seperti ini." Ucap Pinkan di dalam hatinya.


Melihat Pinkan keluar dari ruang kerja Barra dengan wajah merengut dan kesal. Indri merasa senang untuk pertama kalinya.


"Rasakan! Akhirnya kau dicampakkan juga kan, Pinkan. Pasti Tuan Barra sudah terpincut dengan pesona Arumi, tapi sayangnya Arumi sudah dibawa pergi oleh Daddymu sendiri. Kamu benar-benar terlambat, Tuan. Harus sedia sabar banyak-banyak, karena pastinya bos menyebalkan seperti mu akan bertingkah aneh-aneh karena ditinggalkan istrimu." Gumam Indri yang sudah mengetahui Arumi dibawa pergi oleh Tuan Brandon.


Pasalnya sebelum meninggalkan negeri ini, Arumi mengirimkan pesan padanya, jika ia tidak akan masuk mulai hari ini, karena akan ikut mertuanya pergi menetap disebuah negara, yang tak dijelaskan dengan detail oleh Arumi. Arumi khawatir Indri akan membocorkannya jika bicara terlalu detail padanya.


Menjelang siang hari, Indri masuk ke ruangan Barra, mengingatkan jika setelah pulang kerja nanti, ia ada janji makan malam bersama Tuan Marco, untuk membicarakan mengenai bisnis mereka yang sudah lama tertunda.


Barra yang kehilangan moodnya sejak pagi tadi hanya iya-iya saja saat di beri informasi oleh Indri. Kemudian hal yang paling dibenci semua orang pun dilakukan oleh Barra, yaitu mengibaskan tangannya saat mengusir seseorang dari ruangannya.


Indri mengumpati Barra di dalam hatinya saat ingin keluar dari ruangan kerja Barra, namun lagi-lagi setelah ia hampir sampai di muka pintu, Barra memanggilnya.


"Indri!"


"Ya, Tuan."


"Tolong panggilkan istriku! Sejak tadi aku tidak melihatnya." Perintah Barra yang membuat Indri terkejut.


"Apa? Dia tadi bilang apa? Tolong panggilkan Arumi? Apa dia benar-benar tidak tahu istrinya itu sudah pergi? Ishh... rumah tangga macam apa ini? Istrinya sudah pergi saja dia tidak tahu." Indri terus saja bermonolog pada dirinya sendiri.


Kenyataan Barra belum mengetahui kepergian Arumi bersama kedua orang tuanya sendiri. Membuat Indri terdiam terpaku di posisinya, lidahnya terasa kelu untuk menjawab sebenarnya Arumi sudah tak bekerja lagi karena dibawa pergi oleh Tuan Besarnya.


"Indri kenapa diam saja? Tolong panggilkan istriku! Apa kamu tuli hum!" Pekik Barra yang mulai emosi karena Indri diam saja.


"Tuan, maaf. Apa Anda tidak mengetahui jika istri Anda, Arumi sudah tidak bekerja lagi mulai hari ini?" Tanya Indri yang ingin memastikan ketidak tahuan Barra mengenai Arumi.


"Apa maksud kamu, Indri?"


"Ma-maksud saya, Arumi sudah berhenti Tuan, dia sudah tak lagi bekerja mulai hari ini." Jawab Indri yang seketika membuat Barra berdiri dari duduknya.


Terkejut, itulah respon Barra saat mengetahui istrinya sudah tak bekerja lagi. Pasalnya, tadi Panca,kepala pelayan yang irit bicara itu memberi tahukan pada dirinya, jika istrinya itu sudah berangkat, yang ia artikan sudah berangkat bekerja.