
"Aku tinggal di apartemen ini bersama Daddy dan Mommy. Om Steve." Jawab Riski dengan suaranya yang sangat menggemaskan. Rupanya anak kandung Alex ini menyukai sikap Steve yang ramah padanya.
Anaya menarik kedua alisnya ketika mendengar jawaban anak kecil yang selama ini ia anggap sebagai keponakannya, dan tarikan kedua alis Anaya itu ternyata diperhatikan oleh manik mata Alex.
"Kau pasti sudah berpikir yang tidak-tidak pada ku, Nay." Cicit Alex yang menebak Anaya sudah berpikir buruk tentangnya.
"Hah, mereka sudah tinggal bersama? Luar biasa Kak Septi." Gumam Anaya di dalam hatinya.
"Oh, kamu tinggal di sini juga ternyata. Kapan-kapan jika Om ada waktu kosong, kita akan bermain lagi ya Son. Sayangnya pagi ini Om dan Tante harus bekerja dulu. Bye... Son." Ucap Steve sembari melambaikan tangannya ke arah Riski, kemudian membawa pergi Anaya dalam genggaman tangannya.
Alex menatap sedih punggung Anaya yang dibawa pergi oleh Steve menjauh dari dirinya.
Bolehkah untuk kali ini Alex beranggapan, jika Tuhan kembali bersikap tidak adil padanya? Membiarkan orang lain merebut wanita yang dicintainya sebanyak dua kali. Apakah manusia seperti dirinya tidak berhak untuk bahagia. Dan bolehkah dia beranggapan jika Tuhan terlalu kejam padanya dengan takdir cinta yang begitu pahit yang harus ia jalani.
"Om kapan rumah kita selesai direnovasi?" Tanya Anaya saat dalam perjalanan menuju perusahaan.
"Kenapa? Tumben sekali kamu menanyakan hal ini." Steve malah balik bertanya pada Anaya dari balik kemudinya.
"Om mau jawaban aku jujur atau bohong?" Jawab Anaya yang malah memberi pilihan pada Steve.
Tawa Steve pecah, saat ia mendengar pilihan yang diberikan sang istri padanya. Jika orang normal akan memilih ingin mendengar jawaban jujur dari istrinya, namun berbeda dengan Steve, dia ingin mendengar jawaban bohong dari istrinya terlebih dahulu.
"Kamu lucu Baby. Kamu mau aku memilih begitu humm?" Ucap Steve sembari melirik sebentar wajah menggemaskan sang istri yang duduk manis di sampingnya.
Anaya hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari mengembangkan kedua pipinya agar terlihat chubby.
"Oke baiklah. Aku memilih ingin mendengar jawaban bohongmu Baby. Katakanlah kebohongan apa yang akan kau berikan padaku." Ucap Steve yang tak bisa melepaskan senyum menggelitik dari wajahnya.
"Aku hanya ingin sekedar tahu sampai mana proses pembangunan rumah masa depan kita, Om."
"Huummm... Hanya inikah jawaban bohong yang kamu berikan pada ku, Baby?"
Anaya mengangguk dan Steve malah mengusap lembut rambut Anaya dengan tangan kirinya.
"Lalu jika itu adalah jawaban bohongmu, bagaimana dengan jawaban jujur mu Baby?"tanya Steve yang sudah memarkirkan mobilnya di dalam basement.
Anaya menatap wajah suaminya lebih dalam. Sebelum ia mengatakan sejujurnya dengan apa yang ia rasakan kini. Tiba-tiba Anaya memeluk tubuh kekar suaminya dan menangis tersedu-sedu di sana.
Anaya mengurai pelukannya dengan Steve. Ia kembali menatap dalam manik mata sang suami.
"Om Kau adalah suamiku, pelindungku, cintaku dan masa depanku. Dia adalah masa laluku. Jujur. masih ada rasa ini tersimpan di hatiku, masih ada rasa ini untuknya, walaupun hanya sedikit. Namun sisa rasa ini yang hanya sedikit, sungguh sangat menyiksa batinku. Aku tak mau melihatnya, apalagi bertemu dengannya. Bisakah kau bawa aku pergi kemanapun, asal aku tak melihatnya lagi?" Ungkap Anaya jujur pada suaminya.
Steve terdiam, mencerna semua kata-kata yang diutarakan sang istri padanya. Kini ia menatap dalam manik mata sang istri, sebelum ia menjawab apa yang diinginkan sang istri darinya.
"Yakinkan aku jika kau mencintaiku, Baby!" Pinta Steve yang ternyata selama ini ia meragukan perasaan Anaya terhadapnya.
"Aku tak bisa meyakinkan perasaan cintaku padamu, Om. Karena aku tak tahu bagaimana cara meyakinkan dirimu. Aku hanya bisa menyerahkan hidupku padamu dan aku tak mau kehilanganmu walau hanya sesaat." Ucap Anaya yang tanpa sadar sudah meyakinkan perasaan cintanya terhadap Steve.
Steve yang lebih dewasa dari Anaya. Ia yang sudah memiliki banyak pengalaman dengan cinta. Dapat mengetahui sedalam apa Anaya mencintai dan membutuhkan dirinya di dalam hidup istrinya itu.
"Aku akan membawamu pulang ke rumahku, yang dulu aku tinggali sebelum menikah denganmu. Tapi sebelumnya, aku akan izin terlebih dahulu dengan kedua orang tuamu. Meskipun aku memiliki hak penuh atas dirimu, tapi aku harus menghargai kedua orang tuamu, aku perlu bicara dengan mereka, sebelum aku membawamu pergi dari mereka, Baby." Jawab Steve.
Anaya kembali memeluk Steve.
"Om, kau adalah jodoh paket lengkap yang dikirimkan Tuhan untukku." Ucap Anaya dalam pelukan Steve.
Sementara itu Alex. Setelah pertemuannya dengan Anaya yang tak disengaja. Membuat dirinya terlihat murung. Pekerjaannya sebagai seorang dokter membuatnya harus tetap fokus, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di jam pulangnya, Alex memilih untuk menepikan kendaraannya di sebuah tepi danau yang ada di pinggiran kota, tak jauh dari gedung rumah sakit di mana ia bekerja. Ia duduk di depan kap mobilnya, ditemani sebotol minuman keras di tangannya.
Sesekali dia berteriak, sesekali dia bersenandung, sesekali ia menangis dan sesekali ia tertawa dan kemudian terdiam, sunyi senyap seperti hatinya yang terasa hampa kini. Kini ia seperti dokter muda yang dalam keadaan depresi, karena takdir cintanya begitu kelam.
Malam ini Alex kembali saat tengah malam. Saat di mana keadaan Apartemen yang sudah sangat sunyi, bahkan lampu-lampu sudah dimatikan. Tanpa peduli Septi masih ada di apartemennya atau tidak, Alex berjalan menuju kamarnya.
Setibanya di kamar suasana berbeda ia dapatkan, lampu kamar tidurnya memang telah dipadamkan namun televisi dibiarkan menyala begitu saja. Rupanya putranya ini kembali meniduri kamar pribadinya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Alex memperhatikan lekat-lekat wajah Rizki yang terlihat begitu damai saat tertidur. Entah mengapa hanya melihat wajah putranya ini, ia mendapatkan rasa kedamaian dalam hidupnya. Alex yang lelah pun akhirnya ikut bergabung bersama Rizky dengan posisi tidur sembari memeluk putranya itu.
Sementara itu di unit apartemen Adnan, Steve tengah berbicara serius dengan kedua orang tua Anaya dan juga Adnan. Setelah sebelumnya Steve memastikan Anaya untuk meminum vitamin dan juga minum susu ibu hamil kemudian membiarkan dia tertidur di kamar terlebih dahulu.
"Ayah Ibu kedatanganku kemari ingin menyampaikan keinginan istriku untuk tidak tinggal di apartemen ini lagi." Ucap Steve yang membuat ketiga lawan bicaranya terkejut. Mereka membulatkan matanya dan merubah posisi duduknya untuk mendengar penjelasan Steve lebih lanjut.
"Ada angin apa yang membuat kalian ingin pindah dari Apartemen ini nak?" Tanya Abimanyu pada menantunya.