
Arumi yang menepikan mobilnya tepat di depan mesin anjungan tunai, segera turun dan masuk ke dalam. Ia mengeluarkan kartu yang diberikan Barra tadi dengan tangan yag gemetar. Ia seperti seorang istri yang akan merampok uang suaminya.
Ia memasukan kartu Black card itu dan menekan pin yang diberikan Barra melalui pesan singkat. Arumi masuk ke menu transaksi transfer, ia memasukan nomor rekeningnya sendiri dan nominal transfer yang tak tanggung-tanggung, ia mentransfer lebih dari sepuluh milyar rupiah. Saat transaksi berhasil, bukannya senang ia malah menangis sejadi-jadinya.
"Akulah perempuan murahan yang kamu sebut itu Pak Barra. Bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini, termasuk pelayanan dan rasa sakit yang kau torehkan dihatiku." Ucap Arumi dalam hatinya saat ia menangis di depan mesin anjungan tunai yang ia gunakan.
Seketika itu juga, ia menjadi pusat perhatian semua orang, seorang ibu-ibu yang cukup berumur menghampiri Arumi dan memeluk Arumi.
"Tabahkan hati mu, Nak. Seberapa sakit diri mu sekarang, tetaplah menjadi diri mu sendiri. Jangan melakukan sesuatu dilandasi oleh emosi dan amarah yang berapi-api. Berusahalah untuk kuat, karena cobaan yang kau hadapi tak lebih besar dari cobaan hidup orang-orang diluar sana." Kata Ibu-ibu itu saat memeluk tubuh Arumi, ibu-ibu yang tak dikenal itu memeluk Arumi hingga tangis Arumi benar-benar reda.
"Terima kasih bu, terima kasih atas pelukan ibu yang sangat berarti untuk saya." Ucap Arumi, dengan air mata yang masih berlinang.
"Sama-sama Nak, siapa nama mu Nak?" Tanya ibu itu dengan mata yang menatap sendu wajah Arumi.
Tangan tuanya meraba pelipis mata Arumi yang terlihat memar, dengan sklera bagian mata kirinya memerah, seperti ada darah yang menggumpa di sana. Tak hanya itu ibu yang tak diketahui namanya pun meraba jiplakan tangan Barra di pipi kiri Arumi, hingga sudut bibir Arumi terlihat pecah dan terluka.
Satu tamparan dari tangan besar Barra yang diberikan Barra tadi, merupakan pukulan yang sekuat tenaga Barra keluarkan di wajah mungil Arumi, hingga menorehkan banyak luka di sana.
"Arumi, nama saya Arumi bu," jawab Arumi yang tak lepas menatap manik mata ibu yang berdiri dihadapannya.
"Obati luka mu Nak, andaikan ibu tak sedang buru-buru, mungkin ibu akan mengobati mu dan bersedia mendengarkan keluh kesah mu. Kamu butuh seseorang yang bersedia menjadi pendengar mu. Maafkan Ibu, sekarang ibu harus pergi. Jaga dirimu baik-baik Arumi." Ucap Ibu yang tak menyebutkan namanya itu, lalu mencium kening Arumi dengan penuh kasih, lalu ibu itu pun berlalu pergi meninggalkan Arumi.
Arumi pun pergi meninggalkan mesin anjungan tunai itu dan kembali ke mobilnya. Aksi Arumi mengeruk uang Barra tak sampai di situ. Ia pergi sebuah Mall elit, yang menjual perhiasan berlian ternama dengan harga selangit.
"Saya cari satu set perhiasan berlian yang terbaik di toko ini." Ucap Arumi pada salah satu staff toko perhiasan itu
Kini Arumi mengenakan kaca mata hitam agar tak ada orang lain melihat lagi luka di area matanya. Ia juga menutupi sedikit memar di pipi sebelah kirinya dengan rambutnya yang sengaja ia gerai.
"Baik Nona," ucap staff itu yang segera memberikan tiga pilihan pada Arumi.
Arumi tak mau memilih, ketika pelayan itu memberikan pilihan Arumi berkata akan membeli ketiganya. Lagi-lagi Arumi membayar ketiga perhiasan mewah yang harganya mencapai belasan milyar itu menggunakan kartu Black card tanpa limit yang diberikan suaminya itu.
Sementara Arumi mengeruk uang Barra, Barra yang sudah merasa tenang keluar kamar dan mencari keberadaan Arumi. Ia ingin minta maaf atas kekhilafannya tadi. Dicarinya Arumi kesetiap sudut ruang, tak ia dapati istrinya dimana pun.
"Kamu marah dan merampokku, lakukanlah! Luapkan marah mu." Ucap Barra yang duduk di sofa ruang televisi.
Setelah puas mengeruk uang Barra dengan mentransfer dan membeli perhiasan dalam jumlah banyak. Arumi pergi ke sebuah GraPARI, ia mengurus nomor ponselnya yang dihilangkan Barra. Tak butuh waktu lama, Arumi mendapatkan nomor lamanya kembali.
Saat nomor ponselnya menyala, langsung saja ada suara deringan telepon dari Alex, yang sejak tadi membuntuti dirinya, sejak di anjungan tunai. Ia melihat jelas wanita yang dicintainya tengah tersakiti dan bersedih. Arumi segera mengangkatnya
"Hallo Lex,"
"Aku duduk tepat di belakang mu, Arumi," ucap Alex yang memberitahu keberadaan dirinya pada Arumi.
Ucapan Alex ini membuat Arumi menoleh kebelakang dan benar, ia dapati Aex tersenyum padanya.
"Sepertinya kamu butuh teman untuk bersandar, aku siap, bersandarlah di bahuku." Ucap Alex yang membuat tangis Arumi pecah dan berlari ke arahnya.
"Alex, hiks... " Cicit Arumi yang tak dapat berkata-kata, ia hanya bisa menangis dan menangis saja.
Setelah tangis Arumi reda, keduanya pergi dengan mobil masing-masing ke taman yang berada di dekat sekolah mereka dulu, sekolah yang kini menjadi tempat Anaya adik Arumi menimba ilmu.
Bukan tanpa alasan mereka memilih tempat ini, selain tempat ini memiliki sejuta kenangan mereka berdua di masa SMA, Arumi pun ingin menemui sang adik.
Lagi-lagi Arumi tidak menceritakan masalah rumah tangganya, ia memilih diam dan menyimpannya semdiri. Sedangkan Alex yang menghargai keputusan Arumi yang tak mau menceritakan masalah rumah tangganya pada dirinya pun tidak berusaha mencari tahu atau pun bertanya. Ia yakin suatu saat nanti, Arumi akan menceritakan padanya.
Arumi malah sibuk menceritakan tentang cita-cita adiknya, Anaya. Ia malah serius menanyakan pada Alex, bersediakah dia jika suatu hari nanti, Arumi akan meminta dirinya untuk mengantarkan mereka ke New York, tempat dimana dahulu Alex menuntut ilmu ke Dokterannya disana. Karena kemungkinan Aruminakan membiayai pendidikan Anaya di sanan menggunakan uang suaminya yang ia rampok tadi. Alex yang sangat mencintai Arumi, tak bisa menolak ajakan dari wanita yang sangat spesial dihatinya itu.
"Aku akan mengantar dan kalau perpu menemani kalian di sana nanti," ucap Alex dengan senyum manis diakhir ucapannya.
Tak butuh waktu lama, Anaya datang dengan motor matic tua milik Arumi. Sesampainya Anaya di taman itu, wajahnya yang semula cemberut tiba-tiba sumringah melihat sosok cinta pertamanya ada bersama sang kakak tercintanya.
"Kak Alex... Ihhh... Udah lama gak ketemu, tambah ganteng aja. Jangan deketin kak Arumi lagi dong Kak Alex, soalnya kak Arumi sudah punya suami tahu." Cerocos Anaya yang datang-datang langsung memeluk tubuh Alex dengan erat dan posesif.
"Aaahhh iya, Anaya sudah besar saja, tambah cantik dan mirip Kak Arumi lagi." Balas Alex sembari mengacak-acak rambut Anaya yang selalu dikuncir kuda.