My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tak tahan ingin membawa mu pulang



"Hahaha... benarkah? Desy sudah menikah dengan Bimo?" Suara tawa Arumi terdengar hingga keluar ruangan dan didengar oleh Barra.


"Senang sekali dia, tawanya sampai terdengar keluar? Pasti sedang berduaan bersama Dokter tampan itu." Cicit Barra ketika berdiri di depan pintu ruang rawat Indri yang di dengar oleh Kevin.


Kevin yang mendengar dan melihat raut wajah kecemburuan Barra, akhirnya memiliki ide untuk mengisengi Tuan mudanya itu. Yang ia rasa terlalu bodoh menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Arumi hanya demi seoarang Pinkan.


"Tuan kalau tak salah dengar dari perawat yang aku temui, Arumi sudah memiliki seorang suami, dan katanya para perawat di sini, suami Arumi sangat tampan dan romantis. Apa mungkin suaminya Arumi adalah Dokter yang Tuan tadi katakan, Dokter tampan?" Ucap Kevin yang sedang berakting. Ia menekan kan kata Dokter tampan hingga membuat Barra terlihat jengah.


Ekspresi Kevin saat bicara dengan Barra sungguh menyebalkan, dia terlihat senang dan bangga mengetahui Arumi sudah menikah, apalagi dengan seorang Dokter. Apa yang diucapkan Kevin dan ekspresi wajahnya yang di perlihatkan pada Barra, berhasil membuat Barra kesal dan jengah.


"Cih, kenapa kamu begitu senang sekali dia sudah menikah, apalagi dengan seorang Dokter tampan brekele seperti dia? Sepertinya jika dia sudah menikah atau belum, sama sekali tidak ada kaitannya dengan pekerjaan mu, Kevin!" Balas Barra dengan wajah singitnya.


"Tentu ada kaitannya dengan pekerjaan saya Tuan. Karena jika dia sudah menikah, tentunya saya tidak perlu khawatir, dia akan menggoda Tuan, bukan. Arumi itu wanita yang cantik, bentuk tubuhnya sangat indah di pandang mata. Bisa dibilang tubuh Arumi lebih bagus dari tubuh istri saya, bagian depan dan belakangnya terlihat padat berisi. Pastinya jika berlama-lama bersamanya, Tuan akan tergoda dan melupakan kekasih terindah Tuan, Nona Pinkan." Ucap Kevin yang memuji Arumi sekaligus menyindir Barra.


Barra sejak tadi sudah membulatkan matanya, dan menahan emosinya saat mendengar ocehan asistennya yang ia sadari betul, jika asistennya itu sangat memuji dan mengagumi tubuh istrinya. Memang tak bisa Barra pungkiri, tubuh isterinya ini lebih indah dari tubuh kekasihnya,Pinkan.


"Tutup mulut mu Kevin! Jaga bicara mu! Kamu benar-benar sudah kurang ajar, memuji keindahan tubuh istri orang lain." Cetus Barra dengan wajah garangnya.


Tanpa Barra sadari, ia sudah menarik bagian dada pakaian yang Kevin kenakan, dengan mata yang membola sempurna, hampir saja bola mata Barra keluar dari cangkangnya. Ia sungguh tak terima istrinya dikagumi oleh asistennya itu.


"Tuan, kenapa Anda semarah ini pada saya? Apa Arumi adalah istri Anda, Tuan? Hingga Anda semarah ini pada saya." Ucap Kevin dengan pertanyaannya yang menjebak.


Barra tersadar dengan apa yang ia perbuat pada Kevin. Ia melepaskan cengkraman tangannya di baju Kevin. Ia terdiam sejenak, ia bingung harus menjawab apa pada Kevin. Ia ingin sekali tak mengakui Arumi sebagai istrinya, namun mulutnya tiba-tiba saja kelu dan sulit untuk menjawab tidak atau pun bukan. Akhirnya Barra hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kevin. Meskipun ia lakukan itu dengan berat hati.


"Cih, kau tak sanggup menjawab kata tidak pada ku, Tuan. Berarti Fix jelas semua bagiku. Anda sudah ada hati dengan Arumi, tapi Anda belum bisa move on dari wanita tak bermoral itu. Semoga saat Anda sudah move on, Arumi tidak akan diambil pria lain dan tak pergi kemana-mana. Karena aku dengar sendiri dengan jelas. Dokter muda dan tampan itu, akan siap berjuang mendapatkan Arumi kembali, meskipun harus merebut Arumi dari suaminya." Gumam Kevin di dalam hatinya, saat Barra melenggang pergi dengan perasaannya yang kacau.


Ya. Kevin mendengar dengan jelas obrolan Alex dengan beberapa staff administrasi rumah sakit, ketika ia harus mengurus sesuatu tentang Indri di bagian administrasi rumah sakit. Ternyata Dokter muda dan tampan yang bernama Alex itu, sedang mencari data pasien yang bernama Arumi.


Kevin juga mendengar Alex menanyakan tentang sosok suami Arumi pada staff bagian Administrasi. Ada salah seorang dari mereka, yang mengetahui tentang Barra dan segera memberitahukan pada Alex tentang bagaimana tindak tanduk Barra selama satu bulan Arumi mendapatkan perawatan di rumah sakit Sejahtera.


Saat Kevin keluar dari ruangan administrasi rumah sakit, ia juga tak sengaja mendengar gumaman isi hati Dokter tampan itu yang akan tetap bersemangat mengejar cinta Arumi, karena feeling-nya mengatakan. Jika rumah tangga Arumi tidak baik-baik saja.


Pukul 00.00 di kediaman Barra, ia kembali nampak gelisah seperti dahulu. Tak bisa memejamkan matanya. Seberapa keras ia berusaha hanya mendapatkan kata lelah. Ia melakukan olahraga di malam hari, naik sepeda, main badminton dan akhirnya berenang.


Saat dirinya mulai frustrasi tak lagi dapat tidur, Barra menghubungi salah satu Dokter rumah sakit sejahtera, yaitu Dokter Hana. Yang kebetulan malam itu sedang tugas jaga malam. Dokter Hana sendiri adalah salah satu tim Dokter yang menangani kondisi kesehatan Arumi.


"Malam Dok, maaf mengganggu." Sapa Barra saat 0onselnya telah terhubung dengan nomor ponsel Dokter senior itu.


"Iya selamat malam Tuan Barra, ada yang bisa saya bantu?" Balas Dokter Hana.


"Begini Dok, saya ingin menanyakan kondisi kesehatan istri saya?" Barra langsung to the poin menanyakan kondisi Arumi.


Hanya Dokter senior ini yang mengetahui Arumi adalah istri dari Barra. Karena ia selalu memergoki Barra tidur dalam satu ranjang bersama dengan Arumi, ketika Arumi belum sadarkan diri.


Saat itu sang Dokter menegur Barra untuk tidak berada satu ranjang bersama Arumi, karena akan mengganggu kenyamanan pasiennya. Dokter Hana juga menanyakan ada hubungan apa antara Barra dan pasiennya. Karena menurut data pasien yang ia ketahui Arumi adalah seorang wanita single.


Demi kenyamanan agar bisa tidur bersama istrinya, Barra akhirnya dengan terpaksa memberitahukan hubungan sebenarnya dirinya dengan Arumi dan menunjukkan foto pernikahan mereka di ponselnya, agar sang Dokter percaya.


"Ya, Tuan Barra. Seperti yang Anda ketahui, jika istri Anda sudah sadar dan kondisi kesehatannya mengalami kemajuan pesat. Serta hasil pemeriksaan keseluruhan yang dilakukan oleh tim kami, tidak menemukan ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Mungkin jika tidak ada keluhan besok atau lusa sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah." Jawab Dokter Hana yang seketika membuat senyum Barra mengembang sempurna.


"Jika saya membawa istri saya pulang malam ini, apa boleh Dok?" Tanya Barra yang membuat Dokter Hana menyernyitkan kedua alisnya. Dokter Hana terdiam sejenak tak langsung menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Barra.