My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Perdebatan Kakak dan Adik



Arumi duduk tepat di samping Anaya, setelah Steve memilih menyingkir dan mempersilahkan Arumi untuk duduk di samping calon istrinya.


"Anaya, bisakah kamu berdamai dengan Mas Barra? Kamu ini sudah keterlaluan. Kau tahu spa yang kamu lakukan itu sangat membahayakan." Oceh Arumi sembari menatap sang adik yang terlihat santai menyantap jagung bakarnya.


"Aku mau saja berdamai dengan suami mu Kak, asal dia dan Kak Adnan jangan terus membully Om Steve ku." Seru Anaya yang balas menatap wajah Arumi tak kalah tajam.


Arumi tersenyum mendengar perkataan adiknya.


"Kak Steve, berhentilah berpura-pura lemah di mata Adikku. Lihatlah dia sedang membelamu mati-matian hingga melukai benda pusaka suamiku." Oceh Arumi pada Steve yang sudah duduk di belakang kursi Anaya.


"Steve memang cemen, dia terus berlindung di ketiak bau asem Anaya." Celoteh Adnan membumbui perdebatan kedua adiknya yang saling membela pasangan masing-masing.


"DIAM!! TAK ADA YANG MENGAJAK MU BICARA KAK!!" Pekik Arumi dan Anaya dengan kompaknya.


Adnan yang terkejut dengan pekikan kedua adiknya yang mengomelinya, seketika itu saja langsung tersedak biji jagung yang ia makan.


Uhukk...uhukk..[Suara Adnan terbatuk-batuk].


Steve segera menepuk-nepuk pundak Adnan dan memberikan Adnan segelas air minum.


"Minumlah Kak!" Ucap Steve yang menyodorkan segelas air minum pada Adnan.


Adnan menerima dan langsung menengguknya hingga habis.


"Lihatlah! Om Steve ku begitu baik pada mu. Tapi Kakak dan Kak Barra benar-benar jahat dan menyebalkan." Sungut Anaya yang begitu kesal pada Adnan.


"Jangan marah pada ku dan Barra! Marahlah pada Ibu. Aku dan Barra hanya mengikuti semua perintah Ibu." Cetus Adnan yang membuat ketiga lawan bicaranya terkejut.


"Apa? Ibu?" Tanya ketiganya yang tak menyangka jika semua keisengan dan kejahilan mereka atas perintah ibu mereka sendiri.


"Jangan bohong Kak! Mana mungkin Ibu dalang dari kelakuan menyebalkan mu dan Kakak iparku yang stupid itu?" Tanya Anaya tak percaya.


"Nay, berhenti mengatakan suami ku stupid, memangnya calon suami mu tidak stupid hah? Mau-maunya dia menikahi gadis bau kencur seperti mu. Padahal gadis cantik di kantor sangatlah banyak. Tak sadarkah kalau calon suami mu ini memiliki kelainan." Protes Arumi yang tidak menyukai Anaya menyebut suaminya stupid. Ia tak mau kalah hingga menghina calon suami sang adik dengan begitu kejamnya.


"Ya Tuhan tajam sekali mulut calon Kakak Iparku. Aku disebutnya memiliki kelainan hanya karena mencintai adiknya?" Gumam Steve di dalam hatinya. Steve hanya bisa diam mendengarkan kemarahan Arumi.


"Asal Kak Arumi tahu saja ya, biar bau kencur begini aku ini sudah bisa bereproduksi anak seperti Nathan. Lagi pula aku ini sudah punya Kartu Tanda Penduduk, yang artinya aku sudah bisa menikah kapan pun yang aku mau. Dan satu hal lagi yang memiliki kelainan di sini bukanlah calon suami ku tapi suami mu sendiri, Kak. Coba saja mana ada yang melahirkan istrinya, malah dia yang meronta-ronta kesakitan, sampai dibawa kerumah sakit segela. Ya gak Om? " Sahut Anaya sembari bermain mata dengan Steve.


"Ehh, enak aja mau nikah duluan. Mau ngelakahin kakak gitu? Gak bisa gak bisa, Kakak duluan yang nikah, kamu kuliah aja dulu yang benar. Gak ada sejarahnya anak Ayah dan Ibu lulus cuma sampai SMA terus nikah." Sambar Adnan yang tak menyetujui ucapan sang adik akan menikah kapan pun yang ia mau.


Sungguh Adnan tak menginginkan kejadian kedua kalinya hadir di acara resepsi pernikahan sang adik, seperti orang hilang diantara keramaian orang banyak, hanya karena tak memiliki pendamping seperti hari ini.


"Yeahh...ngelarang-ngelaranga lagi. Lagian Kakak tuh kan udah pernah nikah. Kakak udah telat untuk protes, Ayah sama Ibu udah terlanjur daftarin kita ke KUA, dan dalam waktu dua bulan lagi Nay dan Om Steve akan resmi deh jadi suami istri. Masalah kuliah mah gampang, Nay masih bisa kuliah kok nanti. Ya kan Om Steve?" Sanggah Anaya sembari melirik Steve yang ada dibelakangnya. Ia seperti sedang meledek Adnan yang terlihat kecewa mendengar jawabannya.


"Maaf Kak Adnan, sayangnya apa yang di ucapkan Anaya benar adanya." Jawab Steve sembari mengulum senyum di bibirnya.


"Arghhh si4l." Umpat Adnan yang melepaskan jangung yang ada di tanganya begitu saja dan segera pergi meninggalkan mereka dengan suasana hati yang kesal.


"Kecewa dia, hahaha..." ucap Anaya dengan tawa bahagianya saat melihat Adnan pergi meninggalkan mereka dengan membawa rasa kecewa.


"Hooh, kecewa dia, kamu tinggal nikah. Jadi jomblo ngenes dia sekarang. Jadi kasian liatnya." Seloroh Arumi yang ikut sedih melihat tampang kecewa Adnan.


"Tapi jadi Duda lebih baik daripada dia sama Septi terus tapi menderita." Sahut Anaya menambahkan.


Kedua adik Adnan ini masih menatap dan memperhatikan Adnan yang pergi menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dimana di lantai tersebut masih ada beberapa kamar kosong. Mungkin saja Adnan ingin beristirahat setelah seharian begitu lelah dan penat menghadiri pesta resepsi pernikahan Arumi dan Barra.


"Anaya, besok Kakak minta kamu minta maaf secara resmi ke Mas Barra. Untuk masalah Ibu, biar kakak yang coba ngomong. Sudahi semua ini." Pinta Arumi yang menatap serius wajah sang adik.


"Hemm, aku sih gampang aja, tapi suami kakak kan tahu sendiri gimana orangnya."


"Iya Kakak tahu, sepertinya Kakak memang harus bicara empat mata sama Ibu. Karena di sini yang menderita gak hanya kamu dan Steve tapi juga Ayah." Sahut Arumi yang sangat paham dengan ucapan Anaya.


Pagi harinya, suasana Villa dikejutkan dengan teriakan Barra yang baru menyadari jika dirinya tidur satu ranjang dengan Adnan tanpa mengenakan pakaian. Tubuh Barra hanya di tutupi oleh selimut yang menutupinhanya sampai bagian perutnya.


"Aaaaaa...." pekik Barra yang seketika membuat seluruh orang yang ada di Villa itu bangun dari tidur nyenyak mereka tanpa terkecuali.


"Mommy anak mu kenapa lagi?" Tanya Tuan Brandon pada Istrinya yang Juga terbangun dan malah membenarkan posisi tidurnya.


"Sudah biarkan, mungkin menantu kesayangan mu sedang memberi kejutan pada putraku." Jawab Nyonya Miranda yang enggan membuka matanya.


Sementara di kamar Abimanyu dan Arabella, seolah terbiasa dengan suara teriakan Barra. Mereka berdua malah sama-sama membalas teriakan Barra.


"Barra, berisik kembalilah tidur masih ada waktu tiga puluh menit untuk mu memejamkan mata." Ucap keduanya tanpa sadar.


Ya. Barra memang terbiasa bangun di tengah malam dahulu, ketika Arumi belum kembali padanya. Ia terbiasa mimpi buruk dan dihantui dengan ucapan Makci Sari yang mengatakan, jika ia baru akan menemukan Arumi dan Nathan, saat Nathan sudah bisa berlari dan juga bicara.


Sementara itu Steve dan Anaya yang ketiduran di ruang televisi, merasa terselamatkan karena teriakan Barra. Jika saja Barra tidak teriak, keduanya akan tertangkap basah tidur saling berpelukkan di atas sofa ruang televisi.


"Ya Tuhan, berisik banget Barra kebiasaan tariak-teriak terus. Udah kaya Tarsan kota aja sih ahh!" Gerutu Adnan yang masih memejamkan matanya.


"Kak Adnan, bangun oiii....! Ngapain tidur di sini hah?" Tanya Barra yang kesal pada Adnan yang terlihat malas membuka matanya dan malah tanpa ragu memeluk tubuh Barra yang tak mengenakan pakaian.


"Tidurlah emang ngapain?" Jawab Adnan yang masih enggan membuka matanya.


"Ini kamar aku Kak, kenapa tidur di sini sih? Ahhh...Kemana istriku? Pakai menghilang diwaktu yang tak tepat." Gerutu Barra yang belum menyadari jika Arumi tengah cengengesan melihat dirinya dan Adnan dari sofa panjang di bawah jendela.