
Keesokan harinya.
Suasana jam makan siang di perusahaan Napoleon cukup ramai. Banyak para karyawan tergesa-gesa menuju kantin atau tempat makan terdekat dengan perusahaan.
Berbeda dengan ketiga sekertaris Barra yang tengah berbadan dua ini. Ketiganya lebih memilih berputar dengan segala pekerjaan yang seakan tak ada habisnya, meskipun sudah ditangani oleh tiga orang.
Mata ketiga ibu hamil ini terus terfokus pada layar komputer di depan mereka.
Hingga Barra keluar dari ruangannya dan menghampiri ketiganya.
"Kenapa kalian masih saja bekerja? Apa kalian tidak lapar? Bukankah kalian harus makan demi bayi yang ada di kandungan kalian?" Tanya Barra dengan lirikan matanya yang tajam.
"Sepertinya kami tidak berselera untuk makan siang, karena sudah merasa kenyang dengan pekerjaan yang diberikan oleh Boss kami yang kejam." Jawab Indri yang masih belum hilang rasa sebalnya dengan Barra.
Indri masih menyalahkan Barra dengan tragedi suaminya bersama dengan Karin, mantan sekertaris Adnan dan Barra yang mencoba menjebak suaminya.
"Heh, apa kau bilang aku kejam? Mana ada aku kejam. Aku ini Boss yang baik hati." Kilah Barra yang tak mau disalahkan dan penuh percaya diri memuji dirinya sendiri.
Barra tersenyum tertahan saat membanggakan dirinya, lalu membuang pandangannya kearah lain dan tersenyum lebar, setelah ia melihat betapa kompaknya ketiga ibu hamil itu mencebik bibir mereka, saat mendengar ia memuji dirinya sendiri.
"Ahh... Perutku lapar sekali, sepertinya restauran Lavie punya menu baru yang patut aku coba. Apa kalian mau ikut bersamaku?" Ucap Barra, saat ia ingin kembali membalikkan pandangannya pada ketiga ibu hamil yang ia kira masih duduk manis di baik meja kerja mereka.
Barra tercengang karena ketiga kursi itu telah kosong dengan secepat kilat, seperti sebuah sulap.
"Kemana mereka?" Tanya Barra sampai memajukan tubuhnya, demi melihat kearah koong meja ketiga sekertarisnya, yang ia kira sedang bersembunyi di bawah meja.
"Kami di sini." Jawab Arumi sembari menepuk pundak suaminya.
"Astagfirullah... Mami!!"
Seketika Barra terloncat kaget, tak menyangka jika ketiga sekertarisnya sudah berada di belakang tubuhnya.
Barra mengelus jantungnya yang berdetak lebih cepat karena efek keterkejutannya.
Ketiga ibu hamil ini tertawa, melihat ekspresi Barra yang terkejut karena ulah mereka. Yang memang sengaja mengerjai Barra. Karena sebelumnya Barra-lah yang terlebih dahulu mengerjai mereka dengan setumpuk pekerjaan.
"Apa Pih?" Sahut Arumi dengan tawanya yang belum hilang.
"Apa-apa. Jantung Papi mau copot rasanya. Kalian bagaimana bisa berpindah tempat dengan secepat ini hah? Apa kalian ini keturunan jin ya?" Balas Barra dengan tatapan singitnya.
Ada rasa kesal di dalam dirinya telah ditertawakan oleh ketiga sekertarisnya yang salah satunya adalah istrinya sendiri.
"Kak Barra tega sekali mengatakan kami keturunan Jin, jika aku Jin, berarti Daddy ku itu Jin juga dong." Sahut Zeline dengan muka di tekuknya.
"Iya Om Antoni itu Jin, Jin Tomang." Balas Barra cepat.
Ia kemudian berjalan sembari menggandeng tangan istrinya, meninggalkan keduanya yang masih berdiri di posisi semula.
Saat mereka berada di muka pintu lift pintu. Menunggu pintu lift terbuka, Arumi berpikir dalam, ia seperti merasa ada sesuatu yang kurang sejak Barra keuar dari ruangan kerjanya.
"Papi, dimana Kak Adnan?" tanya Arumi saat ia menyadari jika Adnan tidak terlihat batang hidungnya, saat suaminya keuar dari ruangan kerjanya. Padahal ia tahu betul jika Kakak sulungnya ini sejak pagi tadi tak keluar-keluar dari ruang kerja suaminya.
"Tidur," jawab Barra singkat, sembari menarik tangan Arumi. Ia mengajak istrinya untuk naik ke dalam lisft yang pintunya telah terbuka.
Jujur hari ini ia sangat malas untuk membangun Adnan, yang selalu banyak permintaan pada dirinya sejak pagi tadi.
Kakak iparnya ini kelewatan manja, melebihi dirinya kala itu. Hingga membuat Barra ingin menyerah dan mengibarkan bendera putih secepatnya.
"Kok gak dibangunin Pih? Kasian 'kan, dia juga belum makan, nanti kalau dia sampai sakit, kita juga yang repot." Semprot Arumi.
Barra mencebik bibirnya dan kembali keluar dari dalam lift. Ia tahu betul jika istrinya tak akan mau masuk ke dalam lift tanpa kakak iparnya yang kini makin bertambah menyebalkan.
"Suruh istrinya saja yang membangunkan, hubungi dia. Kita tunggu di sini!" Perintah Barra yang kini menyandarkan dirinya di dinding.
Arumi segera merogoh tas yang ia jinjing demi mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tas.
Belum sampai ia mengambil ponsel miliknya, sosok Adnan telah hadir bersama dengan Zeline, Indri dan juga Kevin. Mereka berjalan menghampiri dirinya dan Barra.
Sesampainya Adnan di dekat mereka. Adnan langsung saja melepaskan gandeng Zeline, ia berjalan menghampiri Barra yang bersandar di dinding.
"Cool man... Cool! Mantap." Puji Adnan saat melihat gaya bersandar Barra yang memang terlihat keren.
Barra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan satu kakinya terangkat menyender ke dinding.
Adnan mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Barra, lalu kembali dengan gerakan cepat. Adnan menggandeng tangan Barra dan menyandarkan kepalanya di bahu Barra.
"Andai aku seorang wanita, pasti aku akan sangat mengagumi dan mencintai mu, Bar." Ucap Adnan saat menyandarkan kepalanya di bahu adik iparnya.
"Jangan mulai Kak! Kau mulai kehilangan akal sehat mu." Ucap Barra yang sedikit geli mendengar ucapan Adnan.
Ketiga pasang suami istri ini pergi bersama menuju restoran Lavis, untuk mengisi perut mereka dengan menu sajian baru di restoran tersebut.
Ketiga pasang suami istri ini sangat menikmati menu makan siang mereka kali ini. Karena memang rasanya sangat lezat.
Benar sekali ulasan yang diberikan para food vlogger mengenai rasa menu baru di restoran tersebut.
Suasana hangat di meja makan mereka yang tenang, tiba-tiba gaduh. Saat seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang menyiram kepala Arumi dengan sebuah jus tomat.
Seketika Arumi teriak, begitu pula dengan Indri dan juga Zeline. Barra langsung berdiri dan mendorong wanita paruh baya itu menjauh dari istrinya hingga terjatuh.
Wanita paruh baya itu mengerang kesakitan, tak dapat dibayangkan betapa sakitnya tulang ekornya yang sudah cukup rapuh karena berumur, saat mencium lantai tadi.
"Hai, Nyonya. Apa yang kau lakukan pada istriku?" Tanya Barra geram pada wanita paruh baya yang terduduk di lantai.
Tatapan Barra begitu tajam pada wanita paruh baya itu. Setajam sebuah pisau belati yang kini menghunus hati perempuan paruh baya yang tak bisa berhenti mengerang kesakitan.
Sontak kegaduhan yang dibuat oleh wanita paruh baya ini menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran.
Zeline dan Indri segera membawa Arumi ke toilet demi membersihkan penampilannya yang kotor dan berantakan.
Kira-kira siapa wanita paruh baya ini ya?