My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Membuntuti Anaya



Dengan diantarkan Akri, supir pribadinya, Barra mendatangi sekolah Anaya. Mobil yang dikendarai Akri pun berhenti tak jauh dari gerbang sekolah Anaya.


"Kenapa berhenti Kri?" Tanya Barra yang merasa aneh Akri menghentikan laju mobilnya tidak di deoan pintu gerbang.


"Ada Asisten Steve bersama anak buahnya, Tuan." Jawab Akri dengan mata yang masih menatap ke arah depan.


"Arghh... Dasar Aki-aki tua bangka, tahu saja aku akan mendatangi Anaya." Pekik Barra yang begitu terlihat frustasi ketika melihat kebenaran yang diucapkan Akri.


Barra terus menggaruk kepalanya yang tak gatal, melonggarkan dasi yang ia kenakan, bahkan menarik-narik dasi itu untuk meluapkan kekesalannya.


"Kalau begini bagaimana cara aku mendekati dia, jika datang kerumah mertua ku, aku tak bisa memaksa dia untuk bicara, aku tak enak dengan kedua mertuaku, bisa terbongkar tabiat burukku waktu itu pada Arumi. Bisa-bisa mereka akan menyuruh Arumi menceraikan ku. Tapi bagaimana ini? Arghh... DADDY KAU BENAR-BENAR MENUTUP JALANKU! SI4L!!" gumam Barra yag akhirnya memekik kesal pada sang Daddy.


"Jadi bagaimana Tuan, tetap menunggu atau kita pergi?" Tanya Akri pada Barra.


"Tunggu saja! Akan aku hadapi Steve dan anak buahnya itu." Jawan Barra yang akhirnya memilih untuk menunggu Anaya sampai pulang sekolah.


Hampir dua jam Barra menunggu, akhirnya Anaya kelihatan batang hidungnya, ia melihat Steve dengan senyuman manisnya menyambut kepulangan Anaya.


"Mau langsung Om antar pulang atau---?" Belum sempat Steve bertanya. Anaya sudah menjawab terlebih dahulu.


"Makan laper, bantuin ngerjain tugas ya Om." Sambar Anaya dengan gaya bicaranya yang cepat.


"Dengan senang hati, di warteg apa di cafe?" Tanya Steve pada Anaya sembari membukakan pintu untuk Anaya.


"Makan di warteg, ngerjain tugas di cafe." Jawab Anaya yag langsung masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi samping pengemudi, dimana ia duduk menemani Steve yang mengemudikan kendaraannya sendiri.


"Oh...ok baiklah." Jawab Steve yang tersenyum pada Anaya yang terlihat cuek.


"Sabar Steve... Tak mudah meluluhkan hati wanita yang tengah patah hati." Gumam Steve pada dirinya sendiri.


Ya. Steve jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis belia yang merupakan adik dari Nona mudanya. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih pada takdir, dimana ia bisa mendapatkan tugas untuk menjaga pujaan hatinya sendiri. Hingga akhirnya dia sangat totalitas menjaga Anaya dari Barra dan juga Alex.


Mengenai Alex, Anaya mengalami patah hati, karena ketika Arumi menghilang tak ada kabar, Alex mendatangi Anaya. Saat mereka bicara empat mata, mereka berdebat dan berselisih paham.


Alex dengan kejamnya melarang Anaya mencintainya. Alex meminta Anaya berhenti mencintainya. Alex juga mengatakan jika selama ini dia berbuat baik pada Anaya semata-mata karena rasa cintanya pada Arumi yang tak akan berubah sampai kapan pun. Dan mengapa ia mau membantu Anaya untuk kuliah di luar negeri, itu karena Alex menjadikan Anaya alasan agar kembali dekat dengan Arumi. Ia sangat yakin jika sampai Arumi bercerai, ia akan siap menggantikan posisi Barra.


Steve mengantarkan Anaya makan di warteg langganan gadis belia itu. Suasana warteg yang tadinya sepi, kini menjadi ramai dan padat dengan pria berdasi ditambah satu gadis belia yang masih menggunakan pakaian SMA.


"Bu, laper," ucap Anaya yang langsung duduk manis di kursi panjang.


Bu Onah yang sudah tahu selera Anaya langsung saja menyendokkan nasi beserta lauk untuk Anaya, sedangkan Steve selalu mengikuti apa yang Anaya makan.


"Masnya juga sama?" Tanya Bu Onah saat memberikan sepiring nasi beserta lauknya pada Anaya.


"Emangnya Mas bule, suka jengkol? Anaya makan jengkol dicabeiin hari ini." Tanya Bu Onah yang tak yakin Steve yang perawakannya blasteran bule ini doyan dengan jengkol.


"Anak buaya juga saya makan bu, kalau Anaya makan itu," jawab Steve tersenyum sembari menatap Anaya yang duduk disampingnya, gadis ini seakan tak perduli dengan bualan Steve. Ia tetap khusu dengan makanan yang sedang ia santap.


Sementara mereka asyik makan, Barra di dalam mobil sudah kelaparan. "Lama sekali grombolan algojo itu keluar, aku sudah sangat lapar." Rintih Barra sembari mere.mas perutnya.


"Tuan ganjal saja pakai mie ayam," sahut Akrinyang melihat ada tukang mie ayam gerobakan yang sedang mangkal di depan mobilnya.


"Ganjal kau bilang? Apa kau pikir perutku ini ban, Akri? Kau ini benar-benar ya." Gerutu Barra.


Meski mulutnya menggerutu tapi matanya begitu tertarik dengan mie ayam yang ada di depan mobilnya itu.


"Akri, sepertinya ide mu boleh juga, tolong pesankan dua mangkuk mie ayam itu, satu untuk ku dan satu untuk mu, bilang mie ayam untuk ku harus ekstra pedas." Perintah Barra dan Akri pun langsung keluar dari mobil dan memesan mie ayam itu.


Tak sampai lima menit mie ayam itu sudah jadi dan diantarkan langsung oleh pedagangnya. Mie ayam itu di kemas menggunakan sebuah tempat makan plastik yang cukup aman, tidak menggunakan mangkuk, seperti yang ada di pikiran Barra


"Berapa?" Tanya Barra pada pedagangnya.


"Lima puluh ribu." Jawab pedagang itu singkat. Barra segera memberikan uang yang sesuai dengan apa yang di sebutkan pedagang itu padanya.


Barra langsung menyantap mie ayam itu dengan lahap. Rasanya yang memang lezat atau Barra yang memang sedang kelaparan. Ia menghabiskan hingga tiga porsi sekaligus, anehnya ia tak merasa mual saat makan makanan di pinggir jalan ini.


Selesai menghabiskan porsi mie ayam terakhirnya, Barra dan Akri kembali mengikuti mobil Steve yang berjalan menuju sebuah Cafe yang tak terlalu jauh dari kediaman kedua orang tua Arumi.


Sesampainya di Cafe, Barra terus mengamati pergerakan Anaya dan Steve lebih seksama, tidak seperti waktu di warteg tadi. Dari hasil pengamatannya ia dapat memastikan jika Steve ada hati dengan adik iparnya.


"Teruslah kejar cinta adik iparku, Steve. Jika kau berjodoh dengannya, dapat di pastikan kau harus menuruti perintah ku, tidak hanya Aki-aki tua bangka itu." Gumam Barra yang terlihat senang.


"Tuan Muda tidak turun?" Tanya Akri yang mengingatkan Barra untuk turun menemui Anaya, adik iparnya itu.


"Oh, iya, aku hampir lupa Kri. Untung kau ingatkan aku." Sahut Barra yang langsung keluar dari mobilnya.


Ia berjalan masuk menuju Cafe, belum saja ia sampai di muka pintu Cafe, langkahnya sudah di hadang oleh anak buah Steve.


"Maaf Tuan, Anda tidak di perkenankan untuk masuk menemui Nona Anaya." Ucap salah satu pria berjas hitam yang menghentikan langkah Barra dengan menepuk dan memegangi kedua lengan tangan Barra.


"Jangan halangi jalan ku, kalau kalian tak mau aku buat jadi perkedel!" Ancam Barra dengan mengeratkan gigi-giginya, hingga guratan tulang rahangnya nampak terlihat jelas.


Beberapa anak buah Steve saling melihat satu sama lain, mereka tahu pasti Barra adalah salah seorang yang memiliki kemampuan ahli bela diri. Ia bisa membuat mereka semua babak belur dalam waktu tempo yang sesingkat-singkatnya.