My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Ditolak untuk kedua kalinya



"Nak Alex," panggil Abimanyu yang mengenal Alex.


"Pak Abi," Alex memanggil Abimanyu saat ia membalikkan tubuhnya untuk melihat siap orang yang telah menepuk bahunya.


"Ternyata ini mobil Nak Alex, Bapak kira mobil siapa?" Imbuh Abimanyu dengan gerakkan tubuhnya mempersilahkan Alex untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Mari masuk Nak Alex, kita bicara di dalam," ajak Abimanyu yang jalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya.


Alex mengikuti langkah kaki tua Abimanyu yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kediamananya. Ini bukanlah pertama kalinya Alex masuk ke dalam rumah Abimanyu. Ia begitu tercengang dengan funiture mewah yang ada di dalam rumah Abimanyu sekarang. Nampak figura besar foto keluarga inti Abimanyu yang menghiasi dingin ruang tamu.


Alex menatapi foto kedua wanita cantik yang mencuri perhatiannya, siapa lagi jika bukan Arumi dan Anaya. Nampak jelas jika foto ini belum lama di ambil. Karena penampilan Arumi dan Anaya terlihat lebih berisi dari sebelumnya.


"Silahkan duduk Nak," Abimanyu mempersilahkan Alex duduk di sebuah sofa baru yang nampak begitu mewah. Alex mengenali betul sofa yang kini ia duduki, karena sofa ini memiliki remote untuk mengatur sandaran kakinya.


"Iya Pak Abi," jawab Alex yang segera mendaratkan bokongnya di sofa seharga mobil yang ia kendarai sehari-hari.


"Nak Alex, mau minum apa? Kopi atau teh manis?" Tawar Abimanyu pada tamunya yang telah duduk.


"Tidak perlu repot-repot Pak Abi, saya ke sini sebenarnya ingin bertemu dengan Anaya." Tolak Alex yang segera mengatakan maksud dan tujuannya.


Abimanyu yang mendengar penuturan maksud dan tujuan kedatangan Alex terlihat menghela nafasnya dalam-dalam.


"Maaf Nak Alex, jika kedatangan Nak Alex ingin bertemu Anaya saat ini. Bapak tidak mengizinkan Nak Alex bertemu dengan Anaya. Besok adalah hari pernikahan Anaya dengan lelaki pilihan hatinya. Tolong untuk tidak menggoyahkan perasaannya. Putri Bapak juga berhak untuk bahagia Nak," tukas Abimanyu masih dengan senyum ramahnya.


Abimanyu masih bersikap sopan dan ramah pada Alex meski hatinya sangat kecewa dengan sosok pria muda, tampan dan gagah yang tengah duduk di hadapannya. Abimanyu sudah mengetahui dengan jelas masalah percintaan putrinya Anaya dengan Alex. Abimanyu tak hanya mengetahui dari Tuan Brandon ataupun Steve sang calon mantu, tapi juga dari Anaya sendiri yang lebih memilih terbuka akan permasalahan yang ia hadapi.


"Maafkan saya jika keinginan saya untuk bertemu dengan Anaya adalah sebuh kesalahan Pak Abi." Sesal Alex yang menundukkan pandangannya.


"Bertemu dengan putri saya bukanlah sebuah kesalahan Nak, hanya saja waktu untuk kalian bertemu saat ini sungguh tidak tepat. Mungkin dilain waktu kalian bisa bertemu dan bicara berdua dengan seizin Steve suami Anaya." Terang Abimanyu dengan kata-kata yang menohok relung hati Alex.


Terlambat itulah kata-kata yang tepat untuk Alex saat ini. Ia kini hanya bisa menyesali segela kebodohannya yang telah menyia-nyiakan Anaya yang telah hadir memberikan perasaan cinta tulusnya pada dirinya.


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit undur diri. Salam untuk Anaya dan keluarga yang lain." Alex segera bangkit dan berpamitan pada Abimanyu. Ia menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan pria tua yang gagal menjadi Ayah mertuanya untuk kedua kalinya.


Kesepergian Alex, Arabella yang sebenarnya menguping pembicaraan mereka di balik dinding pun menghampiri suaminya yang tengah menutup pintu rumahnya.


"Sepertinya anak itu sedang berusaha menggagalkan pernikahan putri kita Ayah," cetus Arabella yang menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa ruang tamu.


"Sepertinya begitu," sahut Abimanyu singkat.


"Sudah, dia ketiduran di Mesjid bersama Taslim katanya." Jawab Arabella sembari menggeser tubuhnya saat Abimanyu bergabung di sofa yang sama dengannya.


"Tolong larang menantumu untuk membeli tanah Pak Haji Juki lagi bu! Menantu mu itu terlalu mencolok, baru beli tanah, sudah beli lagi. Apa dia tidak berminat untuk meninggalkan rumah kita?" Cakap Abimanyu yang sudah mengetahui niat Barra yang ingin menbeli sisa tanah milik Pak Haji Juki yang ada di belakang rumahnya.


"Sampai kapan pun dia tak akan pindah karena ibu tak mengizinkannya. Dia hanya akan pindah ke bagian belakang rumah kita jika paviliunnya sudah siap untuk di tempati." Terang Arabella pada Abimanyu yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa dengan Anaya dan Steve akan ibu perlakuan sama, tak mengizinkan mereka untuk keluar dari rumah ini setelah menikah nanti?" Tanya Abimanyu yang berharap Arabella berlaku adil pada semua anak-anaknya.


"Tentu saja, pernikahan Adnan dan Arumi terdahulu membuat ibu harus berhati-hati, ibu tak akan melepas dengan mudah seperti dulu anak-anak ibu keluar dari rumah ini. Lagi pula Steve sudah setuju dengan syarat yang ibu berikan padanya sebelum Ayah menyetujui pernikahan mereka yang di percepat ini." Jawab Arabella dengan tegas.


Abimanyu terlihat tak ingin menimpali jawaban yang diutarakan Arabella. Ia tahu jika Arabella tak akan terima masukan dan pendapatnya. Tak ingin melihat dan merasakan istrinya merajuk lagi. Abimanyu pun memilih untuk diam.


Sementara itu di perusahaan Napoleon. Adnan tengah mengamati cara kerja dua sekertarisnya yang saling bertolak belakang. Ia tengah dipusingkan dengan tingkah agresif Zaline pada dirinya. Mungkin Zeline pikir Adnan adalah sosok Duda Nakal yang haus akan sentuhan wanita.


"Zeline, tolong kancingkan satu kancing kemeja mu lagi! Kau ini kekantor pakai baju adikmu ya!" Seru Adnan yang terlihat jengah dengan buah pepaya yang menyembul ingin keluar dari keranjangnya.


"Tidak Pak, saya pakai baju saya sendiri." Sahut Zeline dengan merengutkan wajahnya.


"Cara berpakaian mu itu buruk sekali, seperti orang tak memiliki pakaian." Cemooh Adnan sembari menatap layar ponselnya.


Ia terus menjaga pandangan mata untuk tidak melihat sesuatu yang menggoda imannya, terutama benda pusakanya yang sudah hampir karatan karena sudah terlalu lama nganggur.


"Pak Adnan, kok Bapak ngomongnya gitu sama saya. Saya perpenampilan seperti ini agar bapak tertarik dengan saya loh." Seloroh Zeline yang sudah tak tahan lagi terus diabaikan.


"Oh ya? Tapi sayangnya saya sangat tidak tertarik dengan barang obralan." Celetuk Adnan tanpa basa-basi.


Zeline terbelalak mendengar sahutan Adnan yang tak pernah ia duga. Sungguh ia tak menyangka Adnan sampai hati merendahkan dirinya dengan menyamakan dirinya dengan barang obralan.


"Mana file yang saya pinta? Kamu sudah memintanya dari asisten Kevin kan?" Tanya Adnan yang dibalas Zeline dengan gelengan kepala.


Ia tak berani mendekat keruangan Kevin karena sudah pernah mendapat amukan dari Indri karena cara berpakaiannya.


"Zeline sebenarnya kamu itu bisa kerja tidak?" Tanya Adnan dengan matanya yang membulat.


"Bisa Pak." Jawab Zeline yang menundukkan kepalanya.


"Lantas kenapa kamu tidak menjalankan perintah saya?" Tanya Adnan lagi dengan nada bicaranya yang meninggi.