
"Hallo," sapa Indri dengan suara seraknya.
Ia terbangun karena ponselnya terus berdering.
"Kamu baru bangun?" Tanya Barra yang mengenali suara Indri baru terbangun dari tidurnya.
"Hai, Barra Berre. Ini bukan jam kantor. Mau apa kau menelepon ku hah?" Omel Indri pada Barra yang membuat Kevin terbangun dari tidurnya.
"Aishh... hai emak-emak pemalas, bangun! Sudah pukul berapa ini?" Ucap Barra yang membalas Indri dengan menyebutnya Emak-emak pemalas. Rupanya ia tak terima dipanggil Barra Berre oleh Indri.
"Ini hari sabtu, Tuan Barra Berre yang terhormat, tolong jangan ganggu hari libur kami. Jangan jadikan kesepian Anda jadi alat untuk mengganggu ketenangan kami." Omel Indri pada Barra.
Indri tak lagi bersikap kaku dan tunduk pada Barra yang sudah menjajah kemerdekaan dirinya beserta suaminya, semenjak kepergian Arumi. Tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk menghadapi Bos yang menyebalkan seperti Barra. Tiga bulan bagaikan tiga abad rasanya bagi Indri, jika menghadapi sikap dan sifat Barra yang sangat menyebalkan dan tambah menyembalkan semenjak kepergian Arumi.
Jika tidak ingat cicilan rumah dan mobil. Mungkin keduanya ingin hengkang dari perusahaan besar dan ternama itu. Daripada Indri menyembunyikan emosinya dan membuat dirinya jatuh sakit, ia pun mengikuti saran Arumi untuk mengeluarkan uneg-unegnya jika Barra masih memerintah dirinya di luar jam kerjanya. Indri dan Arumi pun masih saling berhubungan, tanpa sepengetahuan Kevin ataupun Barra.
"Hilih, marah-marah saja kau Indri, untung saja aku tak berjodoh dengan mu. Kalau saja aku berjodoh dengan mu. Sudah mati berdiri aku setiap pagi mendengar omelen mu."
"Cih, lagi pula siapa yang mau dengan Bos menyebalkan dan Stupid seperti diri mu Barra Berre. Arumi saja yang sabarnya luar biasa saja pergi apalagi aku, mungkin sudah binasa lebih dahulu." Balas Indri dengan kalimat telaknya.
"Sekertaris si4lan. Akan ku potong gaji mu bulan depan." Ancam Barra yang marah dan kesal pada Indri.
Alih-alih berharap Indri takut dan meminta maaf atas kata-kata yang menyakitkan hatinya. Indri malah balik menantang dirinya. "Silahkan saja, kalau itu sampai terjadi, siap-siaplah untuk membuka dua lowongan pekerjaan untuk sekertaris dan asisten pribadi untuk mu."
"Indri!" Pekik Barra sekuat tenaga.
"Apa? Mau marah lagi hah?" Tantang Indri yang tak berani Barra sahuti lagi. Lebih baik dia utarakan maksud dan tujuannya menghubungi Indri tadi.
"Tidak. Aku tidak mau marah dengan mu. Aku hanya ingin mengatakan gaji mu dan suami mu naik dua puluh persen mulai bulan ini, hanya saja aku tidak bisa stand by di perusahaan seperti biasanya lagi. Aku hanya berada di perusahaan dari jam dua siang hingga jam 4 sore. Tolong handle pekerjaan ku di perusahaan ya! Kalau ada sesuatu yang penting dan harus aku tanda tangani segera, suruh saja suami mu untuk datang langsung ke kediaman mertua ku. Itu saja, ingat aku tidak menerima penolakan. Terima kasih sudah diam dan menyimak semua perkataan ku. Selamat siang." Ucap Barra panjang lebar dan Indri mendengarkan dengan menahan emosinya yang sudah diubun-ubun.
Setelah menyelesaikan ucapannya Barra langsung saja menutup panggilan teleponnya dengan Indri. Dia sangat yakin, jika kini istri dari teman sekaligus asistennya itu kini sedang mengumpati dirinya dengan mengabsen seisi kebun binatang.
Tuan Brandon dan istrinya, melihat foto putranya menjadi pengembala ikan di kediaman besannya tertawa terkekeh geli di buatnya. Tubuh kekar, atletis dan proporsional yang biasa di balut setelan kemeja dan Jas kerja bermerek ternama dunia, sekarang hanya berbalut kaos kutang dan celana pendek.
Memberi makan ikan, memisahkan ikan, menernakkan segala jenis ikan air tawar, menimbang ikan, memanen ikan, menguras empang, bahkan hingga menjual ikan pada pengepul ikan, kini adalah pekerjaan utama seorang Barra. Perjuangan cinta yang cukup melelahkan. Kesalahan yang harus Barra bayar begitu mahal.
Sedih dan ingin menangis, itulah yang Barra rasakan ketika rasa letih setengah matinya hanya dibayar murah oleh para pengepul ikan.
"Semurah ini, oh... Astaga." Umpat Barra yang berwajah sedih dan muram seketika, saat ia melihat uang yang ada di tangannya dengan jumlah yang tak seberapa baginya itu, padahal setiap malam ia merasakan betapa letih tubuhnya hingga tertidur begitu nyenyak setiap malam. Inikah yang dikatakan Makci Sari dia akan mudah tertidur kembali.
Bukannya bertambah kurus, tubuh Barra makin padat berisi, bahkan otot-otot makin terlihat atletis tanpa perlu mengeluarkan uang banyak untuk fitnes. Hampir semua karyawati di perusahaan makin mengagumi tubuh sempurna Barra saat ini. Kehadirannya yang hanya sebentar di perusahaan sangat dinanti-nantikan oleh para karyawatinya. Hanya untuk sekwdar melihat, mengagumi dan sebagai penyemangat kerja bagi mereka.
Merasa dikagumi banyak karyawatinya, Barra malah merasa terancam. Ya. Dia merasa terancam diceraikan oleh Arumi, jika istrinya itu kembali nanti. Apalagi banyak karyawati yang menganggap dirinya sebagai Duda keren tajir melintir.
Untuk memgatasi masalah ini, akhirnya Barra menyetak foto pernikahannya dengan Arumi berukuran sangat besar yang ia pasang di lobby perusahaan bahkan di setiap dinding ruangan yang banyak karyawati di dalamnya. Hal itu untuk menyadarkan mereka jika Barra adalah pria beristri yang tidak boleh dikagumi oleh mereka.
"Barra, bagaimana bisa tubuh mu sebagus ini padahal kau hanya jadi pengembala ikan?" Tanya Kevin yang sedang menusuk-nusuk lengan berotot Barra.
"Ini karena kedua mertuaku. Aku tidak mengangkat barbel, tapi mengangkat ikan-ikan berpuluh-puluh kilogram dan juga sering mengangkat pakan ikan yang datang berpuluh-puluh kilogram setiap harinya. Saat aku makan ibu mertuaku selalu memberiku makan telur dan ikan peliharaan ku setiap hari. Aku tak pernah memakan daging sekarang. Aku sangat merindukan makan steak tapi saat makan aku malah muntah-muntah. Ah biarlah mungkin ini bawaan kehamilan istriku." Jawab Barra dengan mulutnya yang mengecap rasa enak sebuah daging steak sembari mengelus perutnya dengan kedua tangannya. Kevin yang melihatnya hanya bisa tersenyum dibuatnya.
"Bagaimana kabar istriku Vin, apa ada kabar terbaru mengenai pencarian dia?" Tanya Barra yang kini menatap serius wajah Kevin.
"Apa kau merindukan suaranya?" Kevin malah balik bertanya pada Barra.
"Tak hanya suaranya, aku merindukan semuanya Vin." Jawab Barra yang kembali membuat Kevin tersenyum.
"Mungkin rekaman pembicaraan ini bisa menghilangkan sedikit kerinduanmu pada istrimu, maaf jika aku baru bisa mendapatkan ini untuk mu." Ucap Kevin sembari memberikan sebuah Flashdisk berisi rekaman suara percakapan antara Indri dan Arumi.
Ya. Indri selalu melakukan panggilan telepon dengan Arumi di akhir jam kerjanya. Selisih waktu sebelas jam membuat mereka hanya bisa melakukan panggilan telepon sekitara jam dua hingga jam empat sore. Itu pun dilakukan jika Barra tidak datang ke kantor. Indri sengaja melakukan panggilan telepon di kantor agar tidak diketahui oleh suaminya. Tapi serapat apapun bangkai ditutupi pasti akan tercium juga. Indri memang pandai menutupi nomor ponsel Arumi di New York, agar tidak diketahui oleh suaminya yang pasti akan membocorkannya pada Barra. Tapi kepandaian Indri dibalas dengan kecerdikan Kevin, hingga ia mendapat rekaman percakapan antara Indri dan Arumi.
"Istrimu dan istriku masih berhubungan hingga saat ini. Tolong jangan mengedepankan emosional mu jika ingin mendapatkan informasi tentang keberadaan istri mu. Perlahan tapi pasti kamu akan mendapatkannya, bersikaplah tenang agar dia kembali tanpa rasa benci terhadap mu. Jika rekaman suara ini masih kurang, datanglah keruangan CCTV perusahaan besok pukul dua hingga pukul empat. Istriku dihubungi oleh istrimu di jam-jam tersebut, itu pun jika tidak ada dirimu di perusahaan." Terang Kevin pada Barra.