My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Bersiap



"Permintaan terakhir saya cuma satu Pak. Kembalikan keperawanan saya," jawab Zeline dengan mata tegasnya menatap Adnan.


"Hahahaha... Mana bisa? Permintaan bodoh macam apa itu." Balas Adnan yang malah mendapatkan gedoran pintu dari Indri.


"Hei, cepat!! Ini bukan waktunya kalian untuk bersenang-senang." Pekik Indri yang tak berhenti memukul pintu kamar mandi dari luar.


"Arghhhh..." Desis Adnan yang terlihat sangat kesal pada Indri.


Ia segera membaringkan tubuh Zeline yang ditutupi dengan selimut ke dalam Bathtub. Dengan sekali tarikan tangannya eelinut oun tersibak. Tanpa rasa ragu Adnan mulai memandikan Zeline layaknya memandikan seorang bayi. Zeline terus menutupi bagian puncak dadanya dengan kedua telapak tangannya.


"Biar saya sendiri saja, saya bisa sendiri kok Pak." Tolak Zeline yang merasa malu pada Adnan.


Sementara Adnan terlihat cuek dan pura-pura tak mendengar penolakan Zeline yang berulang kali terus dikemukakan padanya. Ia terus saja melakukan kegiatannya menyabuni tubuh indah Zeline dari kepala hingga ke ujung kaki.


"Seharusnya kamu jangan banyak melakukan penolakan! Semakin kamu banyak bicara, semakin menjadi-jadi si singa betina itu di luar sana. Apa kamu masih punya nyali untuk melawan singa betina yang terus menggedor pintu kamar mandi agar kau cepat keluar?Tidak sadarkah kamu jika, dia tengah curiga pada kita?" Sahut Adnan dengan tampang datar dan dinginnya.


Jujur saja kegiatan ini sungguh menyiksa diri Adnan. Juniornya sudah menegang sempurna dan siap untuk kembali bertempur. Namun apalah daya, situasi dan kondisi sangat tidak mendukung, hingga ia harus menahan hasrat untuk melakukan penyatuan lagi dengan Zeline. Sungguh Adnan akui, tubuh Zeline sangat indah dan memabukan. Ia sudah merasa candu dengan tubuh wanita yang memberikan kepuasan pada dirinya semalam.


Ceklek [Suara pintu kamar mandi terbuka]


Memperlihatkan Adnan yang kembali menggendong Zeline. keluar dari kamar mandi.


"Tolong duduk kan dia di sini, Bapak Adnan yang terhormat!" Ucap Indri sembari menunjuk sebuah kursi meja rias.


Tanpa menjawab perintah dari Indri, Adnan meletakkan Zeline dengan hati-hati di kursi yang ditunjukkan Indri padanya.


"Pak Adnan, tolong pergilah mandi dan secepatnya kenakan pakaian yang sudah saya siapkan di sofa! Karena ada tamu penting yang sedang menunggu Anda di luar." Perintah Indri pada Adnan dengan suara tegas sembari mengeringkan rambut Zeline dengan handuk.


Lagi-lagi tanpa menjawab Adnan langsung mengerjakan semua perintah Indri. Saat Adnan pergi Indri mulai membuka percakapan dengan Zeline.


"Apa masih sakit zel?" Tanya Indri yang sudah menyalakan hairdryer, ia mulai membantu Zeline mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut aetela menghanduki rabut panajang Zeline dengan handuk.


"Masih Mbak, sakit banget." Jawab Zeline dengan memperlihatkan wajah meringisnya.


"Sakit tapi bikin nagihkan hehehe..." Goda Indri untuk pertama kalinya pada Zeline.


"Ha-eh, I -iya, " jawab Zeline malu-malu.


Sepanjang Indri merias wajah dan rambut Zeline. Indri terlihat banyak diam, ia fokus dengan alat-alat make upnya. Jujur saat ini Zeline menarih rasa curiga dengan apa yang dilakukan Indri.


"Kenapa Mbah Indri merias wajah dan rambutku? Apa aku akan pergi kesebuah pesta? Pesta apa yang akan aku hadiri di oagi hari seperti ini?" Gumam Zeline di dalam hatinya.


Tak memerlukan waktu yang cukup lama bagi Indri untuk merias wajah Zeline yang sudah cantik dari lahir. Usai merias wajah dan rambutnya, Indri berjalan mendekati koper hesar yang ia bawa, yang Zeline kira adalah alat untuk memutilasi dirinya seperti di film-film pembunuhan.


"Zeline berdiri dan bantu aku sekarang! Digagahi Pak Adnan tak membuatmu lumpuh kan?" Pinta Indri yang kembali dalam mode jutek.


Dengan menahan nyeri di pangkal pahanya Zeline berdiri dan berjalan sedikit mengegang menghampiri Indri. Ia merasa milik Adnan masih tersangkut di dalam goa-nya.


"Gaun pengantin ini siapa yang mau memakainya Mbak?" Tanya Zeline dengan polosnya.


"Yang belum menikah di sini siapa?" Indri menyahuti dengan balik bertanya pada Zeline.


"Aku Mbak." Jawab Zeline yang belum tahu dan menyadari jika hari ini ia akan menikah dengan pria pujaan hatinya karena tragedi semalam.


"Tuh tahu. Yuk pakai ini! Ini baju pengantin ku. Dijamin orang yang pakai ini suaminya pasti akan bucin seperti suamiku." Timpal Indri, ia segera membantu Zeline mengenakan gaun pengantin miliknya.


Zeline sontak tak percaya jika hari ini ia akan menikah. Jika ia akan menikah, lantas ia akan menikah dengan siapa? Apakah ia akan menikah dengan Adnan? Itulah pertanyaan yang kini ada dibenak Zeline.


Usai mengenakan pakai pengantin, Zeline dibawa pergi lebih dahulu oleh Indri. Saat Adnan keluar dari kamar mandi, tak ia temui sosok Zeline ataupun Indri di dalam kamar.


Adnan mengenakan jas model Tuxedo berwarna putih yang di sediakan Indri di atas ranjang tidur. Sebelum mengenakannya Adnan tersenyum tipis dan dapat menduga apa yang terjadi setelah ini.


"Sepertinya aku dipaksa menikahinya hari ini juga. Cepat sekali masa Duda ku ini akan berakhir, belum sempat aku berpetualang mencari istri pengganti. Tiba-tiba sekarang aku harus menikahi sekertarisku sendiri, hanya karena insiden itu. Benar-benar tak disangka dan tak diduga jodohku cepat sekali datangnya." Gerutu Adnan saat ia mengenakan jas Tuxedo yang menambah ketampanannya.


"Apa kau sudah siap" tanya Kevin yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Adnan.


"Menurut mu?" Adnan malah bailik bertanya dengan ekspresi wajah menyebalkan. Sok ganteng, sok cool dan sok oke.


"Cih, jangan banyak tingkah! Bersiaplah untuk menghadapi Tuan Antoni. Berhati-hatilah bicara dengannya, kepeleset sedikit nyawa mu berakhir di kandang hewan kesayangannya."


"Memangnya apa sih hewan kesayangan Tuan Antoni? Bicara mu terkesan terlalu menakut-nakuti ku."


"Harimau," jawab Kevin singkat.


"Apa?? Harimau??" Tanya Adnan dengan ekspresi wajah terkejutnya. Menatap tak percaya ke arah Kevin yang mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa.


Glek [Adnan berusaha keras menelan saliva yang terasa tersangkut di kerongkongannya].


"Masuklah Jis! Dia sudah siap." Pekik Kevin, yang tak lama muncul seorang pria tinggi besar dengan perawakan menyeramkan dari balik pintu yang terbuka lebar.


"Selamat pagi, saya Ajis. Perwakilan Tuan Antoni. Saya datang meminta Anda untuk menandatangani surat perjanjian ini. Anda diwajibkan untuk tanda tangan, tanpa ada hak untuk menginterupsi isi di dalam surat perjanjian ini apalagi menolaknya. Karena Tuan besar kami tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun." Sapa Ajis langsung dengan inti pokok tujuan kedatangannya.


Mendengar Ajis bicara, Adnan hanya bisa terdiam berdiri terpaku. Ia merasa hidupnya akan kembali terkekang dan terpenjara lagi. Sungguh ia sangat menyesali apa yang dilakukannya semalam dengan Zeline.


Ajis memberikan sebuah amplop coklat yang ia bawa pada Adnan. Adnan menerimanya dan langsung membacanya. Ia mebaca satu persatu pasal yang tertulis di dalam surat itu. Ia tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Membuat Ajis dan Kevin merasa heran.