My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kembalikan istriku



"Apa kata mu? Tak bernilai? Mommy akan catat pernyataan kamu jika Arumi dan Indri adalah wanita yang tak bernilai dimata mu. Mata dan akal sehat mu sudah benar-benar dibutakan dengan kepalsuan dan kebusukan Pinkan. Salah kami terlalu menjaga mu agar tak dirugikan dan tak di sakiti oleh wanita jal4ng dan murahan itu.m, yag hanya berniat menguras hartamu demi kesenangan dan gaya hidup keluarganya yang tinggi. Seharusnya kami biarkan saja kamu terpuruk dan hancur dengan kebodohan mu." Geram Miranda pada putranya, sehingga membuat pensil yang sedang ia gunakan untuk menggambar design pun patah di tangannya.


Bicara dengan Barra membuat tekanan darahnya naik, dan moodnya untuk mendesign sebuah gaun pesanan pelanggan setianya pun langsung memburuk, hilang begitu saja sudah moodnya.


Sedangkan Barra hanya terdiam mendengar amarah sang Mommy yang begitu tak menyukai kekasihnya, hingga tega menyebut Pinkan sebagi wanita j4lang dan murahan.


"Kenapa mulut Mommy begitu ringan dan lantang menyebut dia serendah itu, padahal menantu Mommy kelakuannya lebih rendah dari kekasihku. Mommy tidak tahu apa yang dilakukan menantu kesayangan Mommy itu kemarin. Dia sudah mengeruk uangku. Hal yang tak pernah Pinkan lakukan, meski aku sudah memberi banyak kartu Blackcard padanya." Barra masih saja membela Pinkan dan berusaha menjelaskan kelakuan Arumi pada Mommynya itu.


Miranda tersenyum sinis pada sang putra. Ternyata sang putra sudah menganggap dirinya tak tahu apa-apa dengan apa yang dilakukan menantu super sabarnya ini.


"Hahahaha... Barra-Barra. Mommy jadi ingin terus menertawakan kebodohan diri mu Nak. Tidak mungkin Mommy tidak tahu apa yang dilakukan istri mu di luaran sana. Bahkan ia bertemu dengan Dokter tampan itu pun Mommy dan Daddy tahu, sayang. Sepertinya Dokter itu sangat mencintai istri mu begitu pula dengan istri mu. Jika kamu tidak mau lanjutkan pernikahan mu dengan Arumi, cepatlah ceraikan Arumi! Biarkan Arumi bersama Dokter tampan itu," ucap Miranda yang membuat hati Barra panas seketika. Ia terdiam untuk meredakan emosinya yang sudah membara di ubun-ubun kepalanya.


Andai bukan sang Mommy yang bicara hal ini padanya, pasti sudah ia robek-robek mulut lawan bicaranya ini. Rasanya tidak nyaman sekali mendengar perkataan sang Mommy tentang Arumi dan Dokter busuk itu.


Cemburu, ya tentu saja Barra cemburu, namun ia enggan untuk mengakuinya. Ia malah mengklaim rasa marahnya ini hanya karena rasa tak terima jika miliknya ingin di miliki orang lain juga.


"Barra. Jika kamu menganggap Arumi adalah seorang istri yang menggunakan uang suaminya adalah sebuah keburukan, tidak apa. Teruslah beranggapan buruk pada istri mu itu. Perlu kamu tahu, semua tindak tandukmu dan Arum, tak pernah lepas dari pengawasan Mommy dan Daddy, meski Mommy dan Daddy hanya punya sepasang mata dm telinga, tapi mata-mata kami cukup banyak, hingga dapat membuat dinding pun bisa bicara pada kami, untuk mengetahui apa yang kalian berdua lakukan, termasuk kamu yang memaksa istrimu untuk menandatangani surat perjanjian konyol mu itu." Tutur Miranda panjang lebar.


Miranda yang emosi ingin segera meninggalkan putranya yang saat ini begitu menyebalkan baginya. Ia bangkit dari kursinya dan hendak meninggalkan Barra. Namun langkahnya terhenti ketika tubuhnya melewati sang putra.


"Mommy aku ingin istriku, kembalikan dia padaku. Aku tak bisa tidur tanpa dia di sisiku!" Pinta Barra dengan wajah memohon pada Miranda.


"Bermimpilah istrimu kembali pada mu, selagi kamu tidak berubah jangan harap dia kembali padamu. Mommy dan Daddy akan memberi mu waktu dua bulan untuk menentukan pilihan mu, jika selama dua bulan kamu tak bisa mencintainya dan mengakui dirinya sebagai istri mu. Maka lebih baik kalian berpisah. Tak perlu repot-repot kamu mengurus perceraian kalian, biar Mommy dan Daddy yang urus. Dan satu lagi, Arumi menantu kesayangan ku itu bukan obat tidur mu, pergilah ke dokter untuk menyembuhkan penyakitmu itu." Sahut Miranda dengan tegas dan menghempas kasar tangan sang putra yang menahan langkah kakinya.


Sekepergian Miranda. Barra terlihat begitu frustrasi. Ia porak-poranda isi ruang kerja sang Mommy, hingga tak berbentuk lagi. Teriakan demi teriakan terdengar dari ruangan kerja Miranda. Suara barang-barang pecah belah mengiringi teriakan Barra, hingga mencuri perhatian pengunjung boutique.


Namun hal ini harus ia lakukan demi kebaikan sang putra dan juga cabang bayi yang berada di dalam kandungan menantunya. Nasib calon cucunya saat ini menjadi prioritas utama Miranda dan Tuan Brandon. Apalagi kedua calon kakak dan nenek ini tahu, jika Barra tak menginginkan seorang anak dari rahim Arumi, karena bersi kukuh ingin kembali dengan Pinkan.


Malam harinya di mansion Tuan Brandon, Arumi yang sudah menyelesaikan makan malam bersama kedua mertuanya naik ke kamar Barra yang ada di lantai dua. Tiba-tiba saja ia ingin mengenakan kaos oblong Barra untuk ia pakai tidur.


"Orangnya gak ada dan gak bisa nemenin kita bobo, kita ditemani tidur dengan bajunya saja ya sayang," Gumam Arumi saat mengenakan kaos oblong berwarna putih yang terlihat kebesaran ketika ia kenakan.


Kaos itu seperti sebuah daster yang cukup menutupi tubuh Arumi hingga di atas lutut. Ibu hamil ini nampak begitu seksi ketika hanya menggunakan kaos oblong Barra dan sebuah celana short berwarna hitam.


Setelah selesai mengganti pakaian, Arumi naik ke atas ranjang, ia membaringkan tubuhnya dan segera pergi tidur. Saat ia hampir masuk ke alam mimpinya. Sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluk pinggangnya.


"Kenapa pakai pakaian ku hum?" Tanya Barra yang berhasil masuk ke dalam kamarnya, setelah melalui perjuangan yang cukup keras ia lakukan.


Ia berhasil masuk melalui, tembok belakang yang ia hancurkan dari sore tadi. Tembok yang luput dari pengawasan para penjaga. Ia masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Ia memanjat dengan mudah karena memang di samping balkon kamarnya, ada Wall Climbing yang memudahkan dirinya untuk naik ke kamarnya tanpa masuk ke dalam rumah.


"Pak Barra!" Pekik Arumi yah segera di bekap mulutnya oleh Barra.


"Diamlah jangan berisik! Saya bisa diusir oleh Aki-aki tua bangka itu, jika dia tahu ada saya di sini." Bisik Barra di telinga Arumi.


Arumi mengangguk patuh dan Barra pun melepaskan bekapannya. Ia terus memeluk tubuh Arumi yang ia rindukan, ia ciumi tubuh Arumi dari belakang, tak perduli dengan Arumi yang terus merasa kegelian.


"Bapak sudah makan?" Tanya Arumi yang masih saja perhatian pada suaminya yang kejam itu.


"Makan nasi sudah, makan kamu belum." Jawab Barra yang makin mengeratkan pelukannya ditubuh Arumi.