
Septi berusaha memberikan tubuh kekar Alex, guna mengetahui siapa yang telah menggauli dirinya semalam.
Septi mengucek-ngucek matanya, berharap penglihatannya salah, namun semakin ia pandangi semakin jelas wajah pria yang telah menggaulinya semalam.
"Si4l, ini kedua kalinya aku bercinta dengannya dalam keadaan mabuk, aku kira aku bermimpi ternyata tidak." Gumam Septi di dalam hatinya.
Septi memperhatikan kesekeliling kamar yang ia tempati, kamar ini nampak tak asing baginya. Ia kembali melihat ada foto Alex dan dan foto yang mirip Arumi yang ada di atas nakas. Ya foto yang mirip Arumi itu adalah foto Anaya. Septi menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, saking ia terkejut ada foto mantan adik iparnya di sana.
"Oh ya Tuhan, apa sekarang Alex mencintai Anaya? Bagaimana bisa? Bukankah dia mencintai Arumi?" Cicit Septi di dalam hatinya.
Septi melupakan untuk memikirkan perasaan Alex terhadap Anaya. Sekarang dalam pikirannya saat ini, memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari apartemen Alex tanpa harus membangunkan Alex yang masih tertidur lelap di sampingnya.
Perlahan Septi mengangkat tangan Alex yang kekar, dia harus segera kabur dari sana sebelum Alex bangun. Ia berharap Alex tidak akan pernah mengingat malam panas kedua mereka yang telah mereka lewati semalam.
Septi segera memakai pakaiannya yang berhamburan di lantai. Setelah itu ia bergegas untuk keluar dari apartemen Alex. Ia mencari tas dan juga kunci mobil yang mungkin Alex bawah di sekeliling kamar tidur Alex. Rupanya Alex tidak menyimpan tas dan kunci mobil milk safety di dalam kamarnya.
Namun saat dia keluar, Septi melihat barang-barang yang ada di meja ruang tamu. Iya segera bergegas mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Tiada hentinya seperti memaki dirinya sendiri. Karena mengulang kesalahan yang sama.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Dasar bodoh. Jika aku hamil lagi bagaimana. Aku tidak mungkin meminta pertanggung jawaban kepada Mas Adnan. Karena sudah hampir enam bulan sebelum bercerai dia tidak menyentuhku." Rutuk Septi pada dirinya sendiri sembari memukul-mukul kepalanya.
Meski ia menyesali dan merutuki apa yang ia lakukan, namun ia tidak munafik, saat ia mengingat bagaimana rasanya percintaan mereka semalam. Jujur inilah yang selama ini Septi inginkan, di malam sepinya sebagai istri Adnan.
Begitu sampai di rumah, Septi terkejut melihat ada bendera kuning dan banyaknya orang berkerumun di rumahnya.
Bagaikan petir di siang bolong, Septi melihat Rizki menangis tersedu-sedu di depan jenazah kedua orang tuanya.
Septi berjalan ke dalam rumah dengan sangat gemetar, air matanya terjun bebas tiada henti. Ia merutuki dirinya sendiri saat ini. Bagaimana bisa semalam ia bersenang-senang, sedangkan kedua orang tuanya ternyata semalam merenggang nyawa karena tak bisa menerima kenyataan jika mereka sudah bangkrut.
Tepat pukul 09.00 pagi Alex terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Saat ia bangun ia tak mendapati Septi ada di atas ranjangnya.
5
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Alex pada dirinya sendiri dengan suara yang terdengar serak.
Dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap Alex bangun dari rancangan. Hanya dengan menggunakan boxer, Alex mencari keberadaan Septi di apartemennya.
"Dia sudah pergi rupanya." Ucap Alex saat ia tak lagi melihat tas dan kunci mobil yang ia letakkan di meja ruang tamu.
Alex menemukan ponsel yang bukan miliknya, ternyata saking tergesa-gesanya Septi meninggalkan apartemen Alex, membuat ponselnya terjatuh dan tertinggal. Alex membiarkan ponsel itu berdering begitu saja hingga ponsel itu kembali senyap.
Alex kembali masuk ke kamarnya dan pergi membersihkan diri. Setelah sudah membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Alex mengambil ponsel Septi yang tertinggal. Ia ingin mengembalikan ponsel Septi dan bicara hal penting mengenai Rizki putra mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk Alex sampai di kediaman Septi. Sama seperti Septi Alex begitu terkejut melihat bendera kuning berkibar di pagar rumahnya, terlihat banyak orang di sana.
Saat Alex datang ternyata kedua jenazah orang tua Septi akan segera dikebumikan. Alex melihat wajah sembab Septi yang tak berhenti menangis akan kepergian kedua orang tuanya. Alex juga melihat seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang berada dalam gandengan Septi.
Tak hanya Alex yang datang terlambat ke kediaman Septi, Adnan dan keluarganya pun datang terlambat karena baru mengetahui dari warga sekitar yang memberitahukan pada Barra dan Abimanyu.
Mereka pun ikut iring-iringan keluarga Septi yang mengantarkan jenazah kedua orang tua Septi ke pemakaman. Ketika semua orang telah pergi meninggalkan Septi dan Rizki di pemakaman dan tersisa keluarga Adnan yang terdiri dari kedua orang tuanya dan dua adik iparnya. Alex pun memberanikan diri menghampiri Septi.
"Ponselmu tertinggal," ucap Alex saat menyodorkan ponsel milik Septi pada sang empunya.
Septi menengadahkan pandangannya saat melihat tangan Alex menyodorkan ponsel miliknya yang tertinggal. Pandangan mata mereka saling bertemu, untuk pertama kalinya Alex mengasihani Septi. Ada sedikit rasa sedih ketika melihat wanita yang telah menjadi Ibu dari anaknya sedang bersedih seperti saat ini.
"Rupanya kalian sudah bersatu dan saling menjalin hubungan," ucap Adnan yang tengah mengendong Riski. Ia berjalan mendekatkan dirinya pada Alex dan juga Septi yang berada dekat dengan pusara kedua orag tua Septi.
"Kami tidak sengaja bertemu semalam," jawab Alex yang memang ada benarnya.
Mereka tak sengaja bertemu dan tak sengaja menghabiskan malam panjang mereka berdua kembali.
"Aku tidak peduli sengaja atau tidak kalian bertemu. Itu bukan urusanku." Ucap Adnan sembari memberikan rizki yang ada dalam gendongannya pada Alex.
"Kau sudah tahu jika ini putramu, bukan? Rawat dan besarkanlah dia. Jangan kau cuci tangan lagi! Sudah cukup selama ini aku merasa dirugikan." Ucap Adnan dengan tegas.
Rizki yang berada di dalam gendongan Alex terus memperhatikan wajah Alex. Rupanya anak kecil tersebut merasa dirinya mirip dengan sosok pria dewasa yang tengah menggendong.
"Daddy siapa dia?" Tanya Rizky pada Adnan.
"Dia adalah Daddy kandung mu Nak. Mulai saat ini panggil-lah dia Daddy. Daddy mu ini adalah seorang dokter. Rizky bangga punya Daddy seorang dokter?" Jawab Adnan yang membuka kebenaran tanpa menunda-nunda.
Arabella yang mendengar kebenaran ini merasa cukup terkejut begitu pula dengan Barra dan juga Steve. Sedangkan Abimanyu merasa feelingnya selama ini ternyata tepat. Rizky bukanlah cucunya, karena iya tidak memiliki kemiripan yang terlihat dari fisik Rizki maupun sikap dan kepribadian anak itu.
"Mas Adnan tidak seharusnya kau bicarakan hal ini di sini. Aku sedang berduka,"ucap Septi dengan air mata yang terus berlinang.