
"Apa lagi yang harus dilanjutkan, tidak ada lagi. Yang pasti Mami gak jadi pergi bersama Alex karena Daddy sudah mengetahui semuanya dan meminta Mami untuk pergi bersama mereka, untuk bersembunyi dari Papi yang mencintai orang lain dan lebih percaya omongan orang lain dari pada Mami, seperti sekarang ini." Ucap Arumi sembari menatap raut wajah Barra yang sulit untuk terbaca oleh Arumi.
Barra mengulas senyum tipis di bibirnya. Lalu menatap lengkang wajah Arumi dan mendorong pelan tubuh Arumi hingga membentur pintu.
"Sakit Papi, ihh..." Keluh Arumi yang berusaha melepaskan diri dari Barra yang demgan ceoat mengunci pergerakan tubuhnya.
"Tatap Papi Mih!" Pinta Barra dengan jemarinya yang menarik dagu Arumi agar wajahnya sejajar dengan wajah Barra.
"Apa lagi?"
"Apa Mami mencintai Papi hum?" Tanya Barra yang seakan meragukan perasaan cinta Arumi padanya.
"Menurut Papi, Mami gak cinta hum? Rela ninggalin Nathan cuma karena takut Papi digoda dan direbut oleh Karin."
Jawaban Arumi samam sekali tak memuaskan hati Barra yang kini memang meragu. Entah karena faktor kehamilan Arumi atau faktor lain.
"Itu bukan sebuah jawab yang Papi mau, Mih." Sahut Barra dengan tatapan sendunya.
"Papi kenapa sih? Konslet ya hum? Kok kaya gini?" Tanya Arumi saat melihat ekspresi sedih wajah suaminya.
"Jawab dong Mih, cinta ga sama Papi?" Pinta Barra dengan tatapan memohon.
"Papi, tahu gak? Mami tuh cinta banget sama Papi. Kalau Mami gak cinta sama Papi. Mami akan gugurkan Nathan, waktu anak kita masih ada di dalam kandungan, karena Papi pernah bilang sama Mami jangan pernah berharap banyak dengan pernikahan kita ini. Kedua Mami gak akan pernah kasih kesempatan kedua untuk Papi, saat Maminkembalinke negara ini. Ketiga Mami gak akan terus mau di dekat Papi dan takut kehilangan Papi dengan kerja bareng Papi kaya gini." Jawab Arumi.
"Bagaimana perasaan Mami sama Alex? Apa masih ada rasa cinta untuk dia di hati Mami?"
Arumi tertawa mendengar pertanyaan Barra yang seperti seorang anak ABG.
"Jawab sekarang Mih! Aku nggak minta kamu untuk tertawa." Pinta Barra dengan memicingkan mata.
"Papi please! Jangan bertingkah aneh seperti ini. Mana mungkin Mami masih punya perasaan sama Alex sekarang. Di hati Mami hanya ada 3 nama yang bertahta saat ini. Satu cinta pertama Mami, yaitu Ayah. Kedua Papinya Nathan dan ketiga Nathan, putra kita satu-satunya yang sebentar lagi akan memiliki seorang adik. Papi adalah prioritas di hidup Mami sekarang ini." Jawab jelas Arumi sembari menatap lekang manik mata suaminya.
Barra mengulas senyum bahagia mendengar penjelasan istrinya mengenai isi hatinya yang hanya mencintai Abimanyu ayah mertuanya, dirinya dan juga sang putra. Terbuang sudah keraguan dirinya pada isi hati istrinya, yang ia khawatirkan masih mencintai orang di masa lalunya.
Keraguan ini muncul sejak pagi tadi, ketika Barra bertemu dengan seorang client yang datang bersama pria di masa lalu istrinya. Barra sedikit banyak bicara dengan orang di masa lalu Arumi yang lebih banyak diam, irit bicara dan hanya akan bicara jika memang ada yang harus ia bahas ataupun karena harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Padahal dahulu dia tidak seperti itu.
Tanpa ragu-ragu kini Barra mendaratkan ciumannya di bibir mungil sang istri. Barra menahan tengkuk Arumi dengan kuat dan mencium bibir sang istri sangat dalam, hingga Arumi tak mampu mengimbangi permainan sang suami.
Serangan brutal bibir Barra begitu buas, Arumi benar-benar dibuat kewalahan oleh serangan Barra malam ini.
"Papi, slow down Aku sedang hamil." Tegur Arumi yang meminta suaminya untuk tidak menyerang dirinya dengan buas. Pasalnya Arumi khawatir dengan kondisi kehamilannya.
"Yang hamil itu rahimmu Mami bukan bibirmu," balas Barra yang selalu ngeyel jika Arumi mengingatkannya.
"Terserah apa kata Papi, pokoknya kalau sampai terjadi apa-apa dengan calon anak kita. Mami pastikan Papi akan Mami adukan pada Daddy Brandon dan Mommy.
"Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa, Papi hanya ingin memuaskan Mami saja." Ucap Barra dengan senyum nakalnya yang menggoda.
Barra segera melepaskan piyama tidur yang melekat di tubuh Arumi hanya dengan satu kali tarikan tangan kanannya. Lidah Barra mulai bermain dan mengeksplor bagian lekuk tubuh yang ia ingin jelajahi.
"Mmmmmph..."
Wajah Arumi memerah dia hampir kehabisan oksigen, karena Barra terus mengurung bibir Arumi dalam permainan bibir dan lidahnya yang terus menari-nari.
Dengan naafas tersengal-sengal Arumi mendorong tubuh Barra agar memberikan jeda untuk menarik nafas.
"Papi! Kamu ingin membunuh Mami! Slow down!" Barra menarik senyum tipisnya dan sedikit memberi jeda untuk Arumi bernafas.
Arumi berusaha menghirup udara banyak-banyak kedalalm rongga paru-parunya, yang hampir kehabisan stok oksigen karenatingkah brutal suaminya. Ini kali pertama Barra menciumnya secara brutal dan tak terkendali seperti ini.
Baru saja mendapatkan beberapa stok oksigen ke dalam paru-parunya. Arumi kembali dibuat gagapan karena Barra kembali menyerangnya. Tak hanya bibir yang menjadi sasaran Barra kali ini. Tapi juga benda kenyal yang menyembul di depannya.
Kecupan dan tarian lidah Barra yang liar di pucuk bukit kembar miliknya itu berhasil membuat tubuh Arumi meremang tidak karuan.
"Papi, stop it!" Pinta Arumi berusaha mendorong kepala Barra dari bagian bukit kembarnya.
"Why?"
"Kamu terlalu beringas. Ingat aku sedang hamil."
Barra terdiam sesaat menyadari kondisi istrinya tengah berbadan dua. Namun tak lama kemudian Barra kembali melahap pucuk bukit itu, mengulumnya dengan lembut kali ini. Hingga Arumi melenguh tak tertahankan.
"Emmphh eeughh..."
Kini tangan Barra tak berhenti untuk menjelajahi bagian indah tubuh istrinya. Hingga satu jari nakalnya berhasil masuk ke dalam lembah sempit yang sudah lembab dan basah.
Barra menciumi bagian curuk leher Arumi, lalu ia membalikkan tubuh Arumi membelakangi dirinya, hingga Aruki menghadap ke pintu ruangan kerjanya.
Dengan cepat Barra membuat penyatuan bersama istrinya, Arumi sedikit memekik tertahan, sedikit meringis karena ini gaya yang tak biasa mereka berdua lakukan.
Barra memulai menghentakkan bagian inti Arumi.
"Papi, pelan-pelan!" Cetus Arumi, saat merasakan Barra menggerakkan tubuhnya dengan brutal. Saking menikmati tubuh istrinya, ia jadi lupa jika istrinya sedang berbadan dua.
"Maaf Mami, Papi terlalu bersemangat. Jadi lupa." Jawab Barra tersenyum kaku pada Arumi yang meliriknya tajam.
Karena takut Arumi merajuk, Barra menarik tubuh Arumi menuju sofa panjang yang ada di ruangan kerjanya itu. Mereka pun kembali meneruskan permainan panas mereka, berbagi peluh dan lenguhan kenikmatan bercinta mereka malam ini.
"I'm coming Mami." Ucap Barra saat ia hampir sampai pada titik ******* kenikmatan surga dunianya.
Barra makin memacu gerakan pinggulnya dan Arumi makin melenguh nikmat.
"Stop it! Slow down mmmmpph..." Pinta Arumi dan tak berapa lama Barra melenguh nikmat dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Arumi.
"Thanks you Mami, I love you. Jangan pernah berkata bosan pada ku, Papi benci itu." Bisik Barra pada Arumi yang masih berusaha mengatur nafas.