
"Kenapa?" Tanya Zeline sinis, karena kegiatannya terusik.
"Manggil doang kok, lanjutkan sayang. Mungkin buah hati kita kelak akan jadi atlet gulat. Aku tak akan mencegahmu. Lanjutkan! Silahkan lanjutkan!" Ucap Adnan mempersilahkan Zeline untuk melanjutkan bergulat dengan Pinkan.
Sontak apa yang dikatakan Adnan membuat Indri tergelak tawa. Apalagi Indri melihat bagaimana ekspresi Adnan saat ini, sungguh sangat lucu. Benar-benar lucu. Karena Adnan sangat terlihat takut pada Zeline.
Entah kemana, sikap dingin dan tegas Adnan yang dahulu pernah Indri lihat kala itu.
Melihat Indri tergelak tawa, Zeline malah menghentikan aksinya dan melepaskan Pinkan. Ia bangun dan menghentak-hentakkan kakinya dihadapan suaminya. Rupanya Zeline salah sangka. Ia kira Indri menertawakan dirinya padahal Indri tengah menertawakan suaminya.
Pinkan yang terlepas langsung saja berlari dan ingin memeluk tubuh Barra. Belum sampai tubuhnya menggapai Barra. Tubuhnya kembali terhempas jauh dari tubuh Barra.
Arumi menarik tubuh Pinkan dan menghempasnya, hingga terjatuh. Barra tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Arumi pada sang mantan kekasih. Ia kira Arumi hanya akan diam dan menjadi penonton, tapi ternyata tidak.
"Jangan coba-coba menyentuh suamiku dengan tubuh kotormu, Pinkan." Ucap Arumi sembari memeluk tubuh Barra.
"Beraninya kau padaku," ucap Pinkan yang kembali terjatuh di atas lantai.
"Tentu saja aku berani, memangnya siapa dirimu, yang harus aku takuti?" Jawab Arumi yang makin mengeratkan pelukannya pada dada bidang Barra.
"Kau akan menyesal, Arumi. Lihat saja. Aku akan merebut apa yang seharusnya jadi milikku." Ucap Pinkan yang kini sudah berdiri di depan Barra dan Arumi.
"Papi, lihatlah dia mengancam Mami!" Adu Arumi pada Barra dengan kepalanya yang sedikit mendongak.
Barra melepas pelukan Arumi dan mendekat dirinya pada Pinkan.
"Apa yang ingin kau rebut dari istriku?" Tanya Barra yang terus mendekatkan tubuhnya pada Pinkan.
Bukanya senang didekati oleh Barra. Pinkan malah ketakutan, ia mulai memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terbentur meja kerja ketiga sekertaris Barra.
"Barra, tolong jangan menatapku seperti itu! Aku sangat takut Barra." Ucap Pinkan dengan manjanya.
Pinkan sejenak memejamkan matanya saat Barra membentaknya.
"Barra. Aku tahu kau masih mencintaiku, kembalilah padaku Barra. Sudah saatnya cinta kita bersatu kembali lagi, sayang." Ucap Pinkan yang masih berusaha meluluhkan perasaan Barra.
"Cinta? Pada mu? Hahaha... Jangan bermimpi Pinkan!" Balas Barra yang kemudian memundurkan tubuhnya dari Pinkan saat sudah melihat Kevin datang dengan beberapa petugas keamanan.
"Bawa wanita ini keluar, dan jangan izinkan dia untuk masuk ke perusahaan ini! Ingatkan wajahnya, jangan sampai kalian kecolongan lagi!" Perintah Kevin pada para petugas keamanan.
Akhirnya, Pinkan diseret paksa keluar dari perusahaan Barra. Dengan rasa malu yang tak terhingga, Pinkan terlempar keluar dari perusahaan mantan kekasih yang ia sia-siakan secara tidak hormat.
Saat berada di lobby perusahaan, tanpa tak sengaja Pinkan bertemu dengan Tuan Marco yang juga mantan kekasihnya.
"Marco?" Panggil Pinkan pada Tuan Marco.
"Maaf, apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" Sahut Tuan Marco yang berakting tak mengenali Pinkan.
Setelah itu, ia langsung saja meninggalkan Pinkan yang penampilannya sangat-sangat berantakan dan acak-acakan.
Sungguh ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengan wanita yang menipunya habis-habisan, dan membuatnya menjadi pria paling bodoh di muka bumi ini.
Kesal. Tentu saja Pinkan kesal diperlakukan seperti ini oleh Barra dan keluarganya, ditambah lagi Marco yang pura-pura tak mengenalinya.
"Hah, kenapa aku jadi terlihat sehina ini sekarang? Tunggu saja aku akan balas kalian!" Umpat Pinkan kesal.
Jujur saja, saat ini ia sedang menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang berlalu lalang di lobby perusahaan. Banyak orang yang berbisik-bisik tentang kondisi dirinya saat ini.
Ia yang kini menahan malu, kembali melangkahkan kaki menuju mobilnya, tentunya dengan diikuti oleh petugas keamanan yang harus memastikan Pinkan keluar dari lingkungan perusahaan Napoleon milik Barra ini.