
Barra mengetuk jendela ketika melihat Arumi yang tengah memajamkan matanya dengan nyenyak di dalam mobil.
Tok...tok...tok... [Suara Barra mengetuk pintu]
Cukup lama Barra mengetuk kaca jendela mobilnya, hingga akhirnya Arumi terbangun ketika Barra menghubungi ponselnya. Suara singa mengaung yang ia jadikan sebagai nada dering panggilan khusus Barra, langsung saja membangunkan Arumi dari alam tidurnya.
Barra tersenyum sinis saat mendengar suara dering dari ponsel Arumi yang tidak biasa itu, "Bisa-bisanya dia memasang aungan singa untuk nada dering panggilanku, Arumi kamu memang benar-benar ughh..." geram Barra di hatinya.
Dengan mata yang mengerjap-ngerjap Arumi melihat Barra yang berdiri sembari berkacang pinggang di samping kaca jendela mobilnya.
"Humm... lama sekali bayar sate aja, sampai ketiduran kaya gini." Gerutu Arumi sembari membuka kunci mobil dengan menekan tombol central lock yang ada di pintu kanan mobilnya.
"Lama! Sampai ketiduran!" Cetus Arumi yang kemudian kembali merebahkan tubuhnya yang sudah sangat dilanda kantuk tak tertahankan. Hal biasa bagi ibu hamil jika perutnya sudah terisi penuh, dia akan mengantuk sejadi-jadinya, seperti Arumi saat ini.
"Lanjutkan saja tidur mu, saya akan membangunkan mu ketika sampai nanti." Balas Barra yang mulai melajukan kendaraannya.
Sesampainya di apartemen, Barra tak tega untuk membangunkan Arumi, ia akhirnya menggendong Arumi hingga unit apartemennya. Barra merasa Arumi mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis. Rasanya ia begitu sangat kelelahan dan keberatan membawa bobot tubuh Arumi saat ini.
Ia perhatikan seluruh bagian tubuh Arumi, tak ada satu pun yang luput dari pandangan mata Barra. Namun tak ada apa pun yang ia rasa mencurigakan dari tubuh Arumi, terkecuali bagian bukit kembar yang sedikit membengkak dan membesar tak seperti pertama kali ia menyentuhnya.
Merasa tak ada yang aneh, Barra akhirnya memutuskan untuk ikut terlelap di samping tubuh Arumi. Kembali ia tidur dengan memeluk bagian perut Arumi. Spot yang ia anggap paling nyaman untuk membawanya pergi ke alam mimpi.
Pagi hari pun datang, semenjak kehamilannya Arumi tak lagi bangun lebih awal seperti sebelumnya. Ia bangun ketika matahari telah menyapa wajah cantiknya.
"Awas saya mau bangun!" Arumi menjauhkan wajah Barra dari perutnya.
"Mmmm... lima menit lagi," pinta Barra yang kembali memeluk bagian perut Arumi.
"Aitsss... awas, saya mau kerja!" Arumi berusaha melepaskan pelukan Barra dari perutnya sekuat tenaga.
"Arghh... sakit, jangan tarik telinga saya seperti itu!" Rintih Barra yang seketika terbangun sembari mengusap berkali-kali daun telinganya.
Arumi terkekeh geli dengan wajah bantal Barra yang sudah marah-marah. "Lucunya Pak Barra, cium boleh hum?"
"Ciumlah, kamu masih istri saya jika di sini," jawab Barra yang malah memasang wajahnya untuk di kecup Arumi, bahkan dia sampai memejamkan matanya. Bukannya mencium Barra, Arumi malah terkekeh geli dan meninggalkannya.
"Aku tak sebodoh itu mencium mu dalam posisi junior mu on seperti itu, hahahaha... pasti kamu akan minta jatah dan tak membiarkan aku bekerja lagi. Sepertinya kamu memang sengaja ingin mendepak aku dari perusahaan mu. Pak Barra." Gumam Arumi saat ia berjalan perlahan ke arah pintu untuk keluar dari kamar Barra.
Lama Barra memejamkan mata, namun Arumi tak kunjung mendaratkan bibirnya pada bagian wajahnya.
Tak mendengar sahutan dari Arumi, Barra pun membuka matanya. Kesal dan marah, itulah yang kini Barra rasakan, pasalnya Arumi sudah tak ada di dalam kamarnya.
"Si4l. Bisa-bisanya dia membohongiku." Umpat Barra yang langsung bangkit dari ranjangnya, ia berjalan keluar menuju kamar Arumi. Ia dapati suara gemericik air, menandakan Arumi tengah membersihkan dirinya.
"Waktu yang tepat untuk berc1nta," gumam Barra dengan senyum yang merekah. Ia membuka seluruh pakaian yang ia kenakan, hingga tak tersisa sehelai benang pun menutupi bagian tubuhnya yang sempurna.
Ia buka pintu kamar mandi Arumi yang tak terkunci, ia dapati Arumi tengah menyiram tubuhnya di bawah aliran shower. Seksi. Satu kata yang lolos dari mulut Barra saat ia melihat tubuh Arumi yang terlihat indah dan memabukkan dirinya.
Ia raih pinggang ramping Arumi. Tak lupa ia kecup bahu Arumi berkali-kali hingga ia hentikan kecupan itu tepat di telinga Arumi. Jangan tanya apa yang saat ini Arumi rasakan, tentunya ia sudah merasa melayang ke angkasa dengan sentuhan sederhana yang Barra lakukan padanya.
"Saya mau kamu," ucap Barra dengan suara penuh kabut gairah.
Arumi tak kuasa menolaknya, karena ia pun menginginkan lebih saat Barra sudah mulai menyentuh bagian tubuhnya. Tanpa menunggu jawaban Arumi, Barra membalik tubuh Arumi, ia mulai mengecup bibir Arumi yang selalu menjadi candu baginya. Cukup lama mereka bertukar saliva.
Saat Barra ingin mengecup bagian tubuh Arumi yang lain, tiba-tiba suara panggilan dari Tuan Brandon mengacaukan acara penyatuan mereka di kamar mandi pagi ini. Barra mendengus kesal ketika mendengar sang Daddy berteriak seperti di hutan saja.
"Hai Barra... dimana kamu, sudah seperti preman saja kau hah, bocah tengik. Sampai-sampai kau pukul juga kakak iparmu." Pekik Tuan Brandon memancing Barra keluar dari kamar Arumi.
"Apa sih Daddy datang-datang sepagi ini teriak-teriak di kediaman orang!" Protes Barra yang merasa pusing, karena hasratnya tidak tersalur.
"Oh, kamu orang, Daddy kira kamu Algojo," celutuk Tuan Brandon yang sejak tadi sudah duduk di sebuah sofa dengan bertumpang kaki.
"Kenapa Daddy selalu datang dan mengganggu kesenangan ku?" Tanya Barra dengan tatapan singitnya pada sang Daddy.
"Cih, apa setelah menikah kamu masih belum puas menjamah istri mu itu heh? Kamu bisa melakukannya nanti lagi kan Barra? Kamu itu bicara seakan tak ada hari esok bersama istrimu." Ucap Tuan Brandon pada putranya.
Sejenak Barra terdiam, ia mencerna betul-betul ucapan sang Daddy padanya. Ia baru menyadari betul saat ini, jika ia memang selalu merasakan tak akan ada hari esok lagi bersama Arumi. Benar sekali ucapan sang Daddy padanya. Saat ini ia masih berpikir jika ia-lah yang akan meninggalkan Arumi, bukan Arumi yang akan meninggalkan dirinya dalam dua bulan ke depan.
"Kami ini pengantin baru, wajar jika kamu melakukannya setiap waktu Dad," jawab Barra yang memancing tawa Tuan Brandon.
"Akhirnya ada wanita yang bisa membuat mu lupa dengan mantan kekasih terindah mu, Son." Ucap Tuan Brandon sembari menepuk bahu putranya.
"Dia bukan mantan kekasih ku Dad, hubungan kami hingga saat ini belum berpisah, hubungan kami masih menggantung hingga saat ini. Jadi jangan katakan dia mantan kekasih ku." Tukas Barra yang membuat senyum Tuan Brandon pudar seketika.
"Apa maksud ucapan mu, Barra? Jangan katakan kamu masih mencintainya dan berharap kembali lagi dengan wanita itu?" Tanya Tuan Brandom yang menatap serius wajah putranya.