
Setelah kembali dari Singapura, Barra mengikuti semua perkataan Makcik untuk tinggal bersama dengan kedua orang tua Arumi. Kedua orang tua Arumi menerima dengan senang hati niat baik Barra untuk tinggal bersama mereka. Lagi pula, baru beberapa hari ditinggal berdua saja, setelah kepergian Anaya, mereka sudah merasa sangat kesepian.
Arabella membantu Barra merapikan pakaian milik menantunya itu ke dalam lemari pakaian milik Arumi. Betapa terkejutnya ia melihat dua kotak perhiasan mewah yang berukuran cukup besar. Tak hanya Arabella yang melihatnya. Begitu pun dengan Barra.
"Sepertinya ini milik Arumi, istri mu Nak Barra." Ucap Arabella dengan masih menampilkan wajah terkejutnya.
"Ternyata ia simpan di sini perhiasan yang ia beli." Gumam Barra yang sudah mengetahui barang apa saja yang Arumi beli dengan menggunakan blackcard yang ia berikan.
"Buka saja bu, kita lihat masih ada isinya atau tidak," Barra mempersilahkan ibu mertua untuk membuka kotak perhiasan itu.
Arabella terperangah ketika melihat keindahan perhiasan mewah di hadapannya. "Ini berlian nak Barra," ucap Arabella yang mengetahui batu yang berkilau adalah batu berlian.
"Iya, Bu itu perhiasan berlian,"
"Ada suratnya nak, Ibu baca dulu ya nak," ucap Arabella yang melihat ada sebuah surat yang menempel pada tutup perhiasan tersebut.
Arabella membaca surat yang ditulis oleh Anaya namun isinya adalah untaian kata hati dari Arumi.
Ayah Ibu, mungkin ketika Ayah dan Ibu menemukan perhiasan ini. Aku dan Anaya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Aku telah pergi meninggalkan suamiku. Aku tak bisa lagi hidup bersama pria yang tak mencintaiku.
Maaf jika kepergianku ini membuat Ayah dan Ibu malu. Sekali lagi aku minta maaf karena telah mencoreng wajah kalian dengan kelakuanku yang buruk. Sungguh aku tak bermaksud membuat kalian malu untuk kesekian kalinya.
Aku tahu kehadiranku di keluarga ini hanya membuat masalah dan membuat kalian malu. Maka dari itu aku pamit pergi dari kehidupan kalian. Aku meninggalkan perhiasan ini, jika kalian ingin pindah rumah dan memulai hidup kalian yang baru di tempat lain. Tempat dimana tak ada seorang pun akan menggunjingkan keluarga kita lagi.
Aku juga meninggalkan satu set perhiasan yang sama untuk Kak Adnan. Ia bisa memulai bisnisnya sendiri tanpa campur tangan istri dan juga kedua mertuanya. Aku lakukan ini bukan untuk merendahkannya, tapi untuk menyelamatkan harga diri Kak Adnan sebagai kepala keluarga.
Ayah dan Ibu tak perlu mengkhawatirkan Anaya dan juga diriku. Aku berjanji akan mengembalikan Anaya kepada Ayah dan Ibu nanti, ketika aku sudah sanggup untuk hidup mandiri bersama calon anakku. Anaya akan pulang mencari keberadaan Ibu dan Ayah ketika dia sudah menjadi seorang Dokter. Tapi untuk diriku dan anakku, aku minta maaf jika kami tak ingin kembali lagi pada kalian, aku tak mau membuat kalian malu dan kecewa pada ku lagi. Tolong jaga kesehatan kalian ya Bu, Ayah. Aku sangat menyayangi kalian. Salam hangat. Arumi.
Arabella membaca surat itu dengan deraian air mata. Ia tak kuasa menahan tangis dan sesak di dadanya. Selesai membaca isi surat itu, Arabella menjerit memanggil nama Arumi.
Ia bisa memahami bagaimana sulitnya kehidupan Arumi saat ini. Sedang mengandung tanpa di dampingi oleh suaminya. Sebelumnya Arabella sama sekali tidak mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi oleh putrinya. Arabella tidak mengetahuinya, karena Barra tidak menjabarkan permasalahan rumah tangganya pada kedua mertuanya ini.
Sebenarnya Abimanyu sudah mengetahui dengan jelas permasalahan rumah tangga yang dihadapi oleh anak dan menantunya inu. Ia mengetahuinya langsung dari Tuan Brandon. Awalnya ia marah dan kecewa pada Barra. Namun setelah dijelaskan oleh Tuan Brandon dengan berat hati Abimanyu berusaha memahami kondisi Barra.
Abimanyu yang berada di halaman belakang, mendengar teriakan istrinya yang menangis pun segera menghampiri Arabella yang berada di dalam kamar Arumi.
"Ada apa Barra, kenapa Ibu mu menangis seperti ini?" Tanya Abimanyu yang berdiri di ambang pintu kamar Arumi.
"Ibu menemukan perhiasan istriku dan membaca surat yang ada di dalamnya, kemudian menangis seperti itu." Jawab Barra dengan ekspresi bersalahnya. Belum membacanya pun ia sudah yakin, isinya pasti menyangkut rumah tangganya.
Abimanyu mengambil surat yang masih ada di tangan istrinya, sembari memeluk Arabella, Abimanyu membaca isi surat itu. Setelah selesai membaca surat dari Arumi, Abimanyu melempar surat itu ke arah Barra dengan kasar penuh rasa emosi yang kembali membuncah.
"Baca!" Perintah Abimanyu singkat.
Barra segera membacanya dan selesai membaca surat istrinya itu, Barra dengan mata yang berkaca-kaca duduk bersimpuh di hadapan kedua mertuanya.
"Maafkan aku, Ayah Ibu. Aku menyesal, sungguh sangat menyesal telah menyakiti dan menyia-nyiakan istriku. Aku pun tak berhenti berusaha mencari keberadaannya. Tapi segala usahaku ini belum membuahkan hasil, kedua orang tua ku seperti menyembunyikan istriku di lobang semut. Terlebih calon adik iparku tak bisa diajak bekerja sama denganku." Ucap Barra yang sedang memohon maaf pada kedua mertuanya.
"Jika bukan karena orang tua mu, mungkin sudah ku hajar kau sampai mati Barra. Tidak mungkin Arumi memutuskan untuk pergi meninggalkan mu, jika kamu tak melukai dirinya hingga sedemikian dalam. Untuk menebus kesalahan mu. Kamu harus membantu Ayah mengurus ikan-ikan milik Ayah di empang belakang, selama Arumi belum kembali pada mu. Tak perduli sesibuk apapun kamu, kamu harus mengurus ikan-ikan milik Ayah seorang diri tanpa bantuan siapapun." Tukas Abimanyu yang membuat Barra mau tak mau menerima perintah dari Ayah mertuanya.
"Iya Ayah, aku akan melakukan semua perintah yang Ayah berikan pada ku." Jawab Barra dengan cepat. Ia sungguh takut orang tua Arumi mengusirnya dari kediaman mereka ini.
"Bagus. Kalau begitu cepat ganti pakaian mu, mulai hari ini bantu Ayah mengurus ikan-ikan Ayah yang cukup banyak di dalam beberapa empang Ayah yang ada di belakang rumah." Sahut Abimanyu yang kemudian membawa istrinya untuk keluar sejenak dari kamar putrinya.
"Bu, mari kita keluar dulu, ibu bisa bantu Barra merapikan pakaiannya setelah dia berganti baju." Ajak Abimanyu sembari merangkul sang istri.
Keduanya pun keluar dan duduk di sebuah sofa yang berhadapan tepat di depan pintu kamar Arumi.
"Ayah, apa putri kita baik-baik saja di sana?" Tanya Arabella masih dengan kesedihannya.
"Kedua putri kita baik-baik saja, Bu. Kamu tidak perlu khawatir, Tuan Brandon menjaga kedua putri kita dan calon cucu kita dengan baik. Steve dan Anaya tidak mengetahui jika Tuan Bradon sudah memberi tahukan keberadaan Arumi pada Ayah. Selama ini Ayah diam saja bukan karena Ayah tidak tahu, hanya saja Ayah sedang menikmati kebohongan mereka yang begitu kompak pada kita. Steve dan Anaya pasangan yang sangat menggelikan dan menghibur hati Ayah yang terlalu kecewa pada Barra. Besar harapan Ayah hubungan mereka akan berjalan baik-baik saja tidak seperti hubungan Arumi dan Barra." Jawab Abimanyu panjang kali lebar kali tinggi.