
Usai membantu istrinya menyapu halaman rumah. Adnan mengajak Zeline ke paviliun Barra.
"Arumi... Arumi..." Pekik Adnan memanggil adik perempuannya.
Arumi yang dipanggil keluar sambil berkacak pinggang.
"Kak Adnan, bisa tidak. Volume suaranya dikecilkan sedikit. Nathan jadi bantet tidurnya karena Kak Adnan." Celoteh Arumi yang marah-marah dengan Adnan.
"Bantet? Anak mu itu bukan bolu Arumi." Sahut Adnan yang terkesan tak perduli.
"Hai, mau apa kalian ke sini? Aku lagi tidak mau diajak ngopi." Tanya Barra yang datang sembari menggendong Nathan yang tengah menangis.
Rupanya Nathan baru saja terbangun dari tidurnya, ia terusik karena suara pekikan Adnan memanggil nama sang ibu.
"Cih. Percaya diri sekali kau aku ke sini bukan untuk mengajakmu minum kopi. Aku datang ke sini karena ada perlu dengan adikku." Jawab Adnan.
Adnan langsung saja memberikan kantong plastik yang ada di tangannya. Kantong plastik yang berisi berbagai jenis tespek, yang ia beli tadi sewaktu ia pulang dari makan siang bersama Zeline.
"Apa ini Kak?"tanya Arumi tak mengerti.
"Bantu Kakak iparmu memakai ini, ia tak mengerti cara menggunakannya." Jawab Adnan yang sedikit mendorong tubuh Zeline agar mendekat pada Arumi.
Pasalnya istrinya ini terlihat malu-malu, karena ketidak bisa hanya menggunakan alat tes kehamilan yang terlihat mudah namun begitu sulit baginya.
Alumni pun membuka kantong plastik yang diberikan Adnan padanya.
"Tespek?" ucapnya penuh dengan tanya.
"Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan Line?" Tanya Arumi pada Zeline.
Zeline terdiam, ia tak mengerti tanda-tanda kehamilan itu seperti apa.
"Arumi aku tak mengerti tanda-tanda kehamilan itu seperti apa, karena aku tak merasakan apapun selama ini." Jawab Zeline pada akhirnya, karena melihat orang di sekitarnya, ikut terdiam seperti dirinya, mereka seakan menunggu jawaban dari Zeline.
"Kau ini bodoh sekali Zel, dunia ini sudah sangat maju Kau tinggal tanya Mbah Google saja, dia akan menjawab semua pertanyaanmu. Jadi jangan bilang kau tidak tahu. Jika kau terus berkata tidak tahu itu artinya kau tidak mencari tahu. Dasar pemalas!" Sahut Barra ketus.
"Kak Barra. Bukannya aku tak mau mencari tahu, terpikirkan aku sedang hamil pun tidak, bagaimana aku mau mencari tahu, aku pun tak merasakan apa-apa." Ucap Zeline yang mebela dirinya.
"Lantas jika kamu tidak malah merasakan apapun kenapa kak Adnan menyuruhmu melakukan tes urine dengan tespek ini?" Tanya Arumi yang keheranan.
Arumi langsung saja melirik wajah sang kakak dan terus melihat ke arah istrinya.
"Kak untuk apa tes jika Zeline belum ada tanda-tanda kehamilan? Jika hasilnya tidak sesuai keinginanmu kau akan kecewa. Lagi pula usia pernikahan kalian kan baru 2 minggu." Tanya Arumi pada sang kakak,
Adnan terus saja memandangi wajah istrinya yang mulai memerah seperti tomat, Zeline malu karena terus dipandangi seperti itu oleh suaminya.
"Sudahlah Arumi aku minta tolong padamu untuk membantu Kakak iparmu, bukan meminta pendapatmu. Sekarang bantulah kakak iparmu cepat aku akan menunggu di sini!" Perintah Adnan pada Arumi.
Adnan menarik tangan Arumi mendekat pada Zeline. Kemudian Adnan mendorong keduanya hingga sampai di muka pintu toilet.
"Ishhh pemaksa!" Gerutu Arumi dan Zeline bersamaan.
Di dalam kamar mandi, Arumi menuntun Zeline untuk menggunakan tespek. Setelah air seni Zeline dikumpulkan, Arumi mulai meneteskan air seni Zeline pada alat tes kehamilan yang dibawa oleh Adnan.
"Memangnya lo sudah telat datang bulan Line?" Tanya Arumi sembari menunggu hasil dari test yang mereka lakukan.
"Bulan ini belum, dan memang belum waktunya." Jawab Zeline yang matanya terus terfokus pada alat test kehamilan itu.
"Terus kenapa kak Adnan menyuruh lo melakukan test kehamilan?" Tanya Arumi terherman-herman.
"Entahlah, gue pun bingung." Jawab Zeline sembari mengangkat kedua bahunya.
"Line, gue tak salah lihatkan?" Tanya Arumi yang tak percaya dengan hasil yang ia lihat saat ini.
"Apa? Kenapa? Apa hasilnya Rum? Kenapa ekspresi wajah lo seperti itu?" Tanya Zeline yang ikut bingung dengan ekspresi wajah Arumi saat ini.
"Feeling so good, Line. Apa Kak Adnan kah yang merasakan semua tanda kehamilan lo?" Tanya Arumi pada Zeline yang kini ternganga tak percaya jika dirinya kini tengah mengandung kecebong milik Adnan.
"Heh, gue benar hamil nih. Wahahahaha .... Kocak banget. Pantesan aja di semangat 45 beli tespek segala di apotik tadi. Lo tahu gak sih dia tuh kalau lagi pengen makanan gak boleh ada kata enggak, persis kaya ibu. Hahahah..." Zeline tertawa bahagia, karena kehamilannya berdampak pada suaminya bukan dirinya.
"Bagus Nak, siksa saja Daddy mu. Karena dulu, Mommy mu ini sering di sakiti olehnya hahaha.." ucap Zeline lagi sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Sementara di teras Paviliun, Adnan dan Barra yang tengah menunggu mereka dibuat bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan oleh mereka didalam toilet. Pasalnya tawa mereka yang cukup kencang, terdengar hingga ke luar paviliun.
Nathan yang sedang di timang-timang oleh Barra pun sedikit terganggu dengan suara tawa Mami dan Tantenya itu.
"Mereka menertawakan apa Bar?" Tanya Adnan pada Barra yang hanya di jawab gelengan kepala dari Barra.
Tak lama berselang kedua wanita itu pun keluar dari toilet. Mereka menghampiri para suami mereka yang berada di teras paviliun.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Adnan yang begitu bersemangat.
Zeline tersenyum lalu menyodorkan tespek yang sudah ia bersihkan sebelumnya.
"Ini artinya apa?" Tanya Adnan yang melirik kedua wanita itu bergantian.
Barra yang kepo dengan hasil tespek adik sepupunya itu pun mengintip.
"Pintar sekali kau Kak? Begitu saja tidak tahu." Sindir Barra yang mendapat lirikan tajam dari Adnan.
"Bisakah kau tak menyindirku. Aku ini kakak ipar mu." Sahut Adnan dengan tampang kesalnya.
"Heleh. Sebenarnya aku ini juga kakak ipar mu. Zeline 'kan adik sepupuku." Timpal Barra yang jugaingin dihargai oleh Adnan.
"Owhh, jadi kau ingin aku hargai pula Barr?" Sahut Adnan yag berdiri sembari membusungkan dada.
"Pastilah." Jawab Barra.
Ia memberikan Nathan pada Arumi, kemudian ia ikut membusungkan dadanya pada Adnan.
Saat mereka sudah seperti orang mau berduel, tiba-tiba sepasang suami istri lebay mendatangi mereka.
"Assalamualaikum wahai ahli kubur..." Ucap Anaya yang tak mendapat sahutan dari keempat orang dewasa dihadapannya.
"Hei, Nay. Kau pikir kakak-kakak mu ini sudah koit semua hah? Sembarangan mengucapkan salam. Ulangi!!" Omel Adnan yang memerintah Anaya dan Steve kembali dan mengulang kedatangannya.
"Jadi replay ini kita Kak?" Tanya Anaya sambil cengar-cengir tidak jelas.
"Heem." Jawab Adnan dan Barra kompak.
"Ayo om, replay kita!" Ajak Anaya pada sang suami, dan Steve pun selalu mengikuti apa kata Anaya. Mereka pun kembali balik badan oergi beberapa langkah kemudian kembali lagi mendatangi paviliun Arumi dan Barra.
Melihat hal ini Zeline dan Arumi geleng-geleng kepala.
"Ngerasa lagi di RSJ gue Rum," cicit Zeline pada Arumi.
"Sama Line, dulu keluarga gue gak gini-gini amat." Jawab Arumi.
Keduanya pun tepuk jidat saat Anaya kembali mengucapkan salam dan malah mengajak bersalaman dan minta maaf lahir dan batin pada Barra dan juga Adnan. Ada apakah ini?