
Di saat Barra dilanda emosi pada wanita paruh baya yang masih teronggok di atas lantai. Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian yang super seksi menghampiri Barra.
"Honey, tenangkan dirimu. Kenapa kau jadi pemarah seperti ini, sekarang?" Ucap wanita itu dengan nada bicaranya yang manja, sembari menggerayangi bagian dada bidang Barra.
"Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku, Pinkan!" Perintah Barra dengan geramnya.
Manik mata Barra menatap nyalang wanita dimasa lalunya itu, yang telah membuat dirinya bertahun-tahun menjadi seorang pria yang bodoh.
Pinkan sama sekali tak bergeming meski ia sudah mendapatkan tatapan mata Barra yang tak mengenakkan hatinya. Tatapan yang tak pernah diberikan Barra pada dirinya saat mereka masih bersama dahulu.
Tak juga menyingkirkan tangannya, Barra menyentak kasar tangan Pinkan, wanita cantik berpakaian seksi yang datang menghampirinya, setelah Arumi, Zeline dan Indri pergi.
"Kamu kasar sekali Honey, kamu benar-benar sudah berubah." Lirih Pinkan sembari memegangi tangannya yang terasa sakit akibat tersentak kasar oleh tangan Barra.
"Tentu saja aku berubah, Karena kini aku sadar siapa dirimu dan wanita seperti apa dirimu ini, Pinkan." Sarkas Barra yang kini menatap jijik pada wanita dimasa lalunya yang sempat membuatnya hampir gila dan masuk penjara.
"Oh ya... Hahahaha... Memangnya wanita seperti apa diriku ini yang kau tahu Honey?"
"Cih, kau bertanya padaku seperti apa dirimu? Sebaiknya kau berkaca diri untuk melihat wanita macam apa dirimu ini Pinkan, sebelum kau bertanya padaku. Karena aku tak sudi untuk menjawabnya." Balas Barra yang sama sekali tak bersikap baik, ataupun ramah pada wanita di masa lalunya yang sangat ia cintai kala itu.
Pinkan terdiam mendengar ucapan Barra yang cukup menohok dirinya. Kata tak sudi cukup membuat hati Pinkan tercubit.
"Kau benar-benar berubah Barra. Sepertinya tak ada lagi tempat di hatimu untukku. Aku terlalu bodoh telah meninggalkan mu yang dulu sangat mencintaiku. Sekarang meski aku sudah memiliki segalanya setelah suamiku meninggal, aku merasa kesepian. Aku ingin kembali Barra. Aku ingin kembali padamu. Aku ingin kembali dicintai oleh dirimu." Batin Pinkan, saat manik matanya menatap nanar Barra yang kini membuang pandangannya ke arah lain.
Barra terlihat tak sudi untuk terlalu lama menatap wajah cantik Pinkan, yang dalam polesan make up tebal itu.
Jangan katakan jika Barra tidak mengetahui status Pinkan yang kini telah menjanda. Ia tahu betul kabar mantan kekasihnya ini dari Kevin yang datang diacara pemakaman Tuan Ingo.
Dikabarkan jika Tuan Ingo meninggal karena terkena serangan jantung. Entah apa yang terjadi hingga Tuan Ingo mengalami serangan jantung.
Padahal Tuan Ingo adalah pria yang sangat suka berolahraga. Tuan Ingo terkenal dengan kebiasaan hidup sehatnya. Banyak orang yang tak percaya dengan alasan kematian Tuan Ingo yang dikatakan terkena serangan jantung.
Meski kematian Tuan Ingo sudah lebih dari empat bulan yang lalu, namun penyelidikan tentang kematiannya masih tetap terus dilangsungkan.
Karena pihak keluarganya selain Pinkan masih tidak percaya dengan alasan penyebab kematiannya.
Mereka menginginkan kebenaran yang menyebabkan seorang pengusaha otomotif ini menghembuskan nafas terakhirnya di malam mereka baru saja tiba dari USA.
Apalagi terdengar selentingan kabar, jika sebelum kematiannya hubungan antara dirinya dan Pinkan tidak lagi harmonis.
Faktor tidak adanya buah hati di dalam pernikahan mereka digadang-gadang menjadi salah satu penyebabnya.
"Tante?" Barra dan Adnan kompak membeo.
Mereka terkejut ketika mereka mendengar Pinkan dan Tati saling mengenal satu sama lain.
"Ya. Tante Tati adalah saudara satu-satunya yang dimiliki Pinkan. Pinkan adalah keponakan Tante Tati." Jawab Septi yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Hahahaha.... Ternyata kalian sama-sama saling kenal ya? Kalian itu kumpulan wanita-wanita jahat yang kompak." Tawa Adnan menanggapi ucapan mantan istrinya.
Tak lama berselang Arumi Indri dan juga Zeline kembali datang menghampiri meja mereka.
Arumi terlihat terkejut kembali melihat wanita yang pernah mengisi hati suaminya dahulu.
"Mau apa dia ke sini Pih?" Tanya Arumi pada suaminya.
Ia mendekati dirinya sangat dekat pada suaminya. Barra yang melihat pakaian yang digunakan Arumi cukup basah segera melepaskan jas yang ia gunakan untuk menutupi bagian tubuh istrinya agar tidak kedinginan dan masuk angin.
"Papi tidak tahu, jangan terlalu memikirkan dia yang datang, karena Papi tak akan berpaling dari Mami." Jawab Barra yang kemudian merangkul tubuh istrinya pergi dari hadapan mereka.
Namun sebelum ia melangkah pergi. Ia meminta kaka iparnya untuk membayar tagihan makan siang mereka.
Barra seakan sengaja menunjukan pada Septi dan Tati, betapa mampunya perekonomian Adnan saat ini, untuk membayar makan siang mereka yang sangat mewah dan cukup merogoh kocek lebih dalam pun kini pria yang selalu mereka rendahkan cukup mampu bahkan sangat mampu.
"Kamu mau pulang atau kembali ke kantor Mami?" Tanya Barra saat mereka berjalan menuju lobby restauran.
"Mami mau bersama Papi, jika Papi ke kantor Mami akan ke kantor jika Papi pulang Mami pun akan pulang." Jawab Arumi yang membuat Barra mengulum senyumnya.
Barra dapat memastikan, jika dibalik jawaban yang diberikan Arumi ini ada rasa kecemburuan dan ketakutan besar yang kini dirasakan oleh Arumi. Setelah dirinya melihat wanita yang pernah ada di hati suaminya. Wanita yang menjadi salah satu alasan kepergiannya kala itu.
Usai membayar tagihan makan siang mereka, Adnan dan Zeline menghampiri Barra dan Arumi yang tengah menunggu kehadiran mereka di lobby restauran.
Sementara itu Pinkan Tati dan Septi kembali duduk bersama di meja mereka dengan menahan rasa malu, dari tatapan mata orang-orang disekeliling mereka.
"Septi, ikutilah apa yang telah Tante katakan pada mu, menikahlah dengan Bowo, putra Tante. Dia akan membantumu memajukan kembali usaha keluarga mu. Tak perlu kau mengemis cinta dari Ayah biologis putramu. Jika kau mau, Tante akan segera siapkan segalanya." Ucap Tati sembari menggenggam tangan Septi.
"Tapi Tante Kak Bowo sama sekali tidak mencintaiku, aku sangat mengetahui Kak Bowo sangat mencintai Arumi. Kenapa pria yang pernah aku sukai dan cintai mencintai satu wanita yang sama. Ini benar-benar menyebalkan." Jawab Septi dengan memasang wajah sedihnya.
"Kau tidak perlu khawatir, perlahan tapi pasti Bowo akan mencintaimu. Tante yakin itu, karena tante sangat mengenal putra tante, kalian sudah mengenal sejak kecil, tidaklah sulit untuk kalian saling belajar mencintai." Sahut Tati yang masih menginginkan Septi menjadi menantunya.
Entah apa yang direncanakan oleh wanita paruh baya yang licik ini, hingga ia memaksa Septi untuk menikah dengan putranya. Padahal Septi adalah seorang janda biasa yang telah bangkrut dan cukup banyak dililit hutang.