
Bugh... bugh...bugh [Suara pukulan dari Tuan Brandon yang mendarat di wajah Barra]
Ya. Tuan Brandon terus memukuli putranya tiada henti karena mendengar jawaban sang putra, yang akan tetap mengejar cintanya pada Pinkan dan suatu saat akan meninggalkan Arumi demi kekasih hatinya itu. Karena bagi Barra, Arumi tak bisa membuatnya dirinya jatuh cinta, seperti Pinkan yang telah membuatnya jatuh cinta sedalam ini. Dan tak hanya alasan itu pula yang menjadikan alasan Tuan Brandon memukuli putranya, karena ia tahu betul kenapa Arumi tidak masuk kerja kembali, itu karena putranya sedang menutupi tindak KDRT yang ia lalukan pada Arumi.
"Daddy! Kenapa memukuli suami ku?" Tanya Arumi yang baru keluar dari kamarnya. Ia keluar dengan baju setelan kerjanya hari ini. Arumi terus mencoba melindungi Barra, suami tercintanya dari pukulan brutal sang Ayah mertua yang sedang di selimuti api emosi.
"Minggir Arumi, dia tak pantas kamu anggap sebagai suami untukmu." Perintah Tuan Brandon yang meminta Arumi untuk menyingkir.
Alih-alih menyingkir, Arumi malah menangis dan memeluk wajah suaminya yang sudah babak belur ditangan ayah mertuanya.
"Sudah Daddy, jangan teruskan! Suamiku sidah terluka." Ucap Armi memohon sembari menangis pada sang Ayah mertua yang masih berapi-api.
Entah harus dengan cara apa, Tuan Barra menunjukkan jika Pinkan bukanlah wanita baik-baik untuk sang putra. Jika selama ini Barra mengira Pinkan masih perawan, anaknya ini benar-benar sudah tertipu mentah-mentah oleh Pinkan, karena sebenarnya Pinkan sudah tidak perawan lagi sebelum berhubungan dengan Barra. Ia sengaja melakukan operasi pada bagian inti miliknya, agar Barra mengira ia masih perawan, guna mengikat Barra agar bertanggung jawab pada dirinya seperti saat ini yang ia lakukan pada Tuan Marco.
Dia adalah seorang wanita beragenda, dimana disetiap agenda hidupnya yang cukup panjang, ada sederet nama pria kaya yang akan dijadikan target oleh dirinya. Target untuk dijadikan pabrik uangnya dan juga sang Tante yang telah membesarkan dan menyelamatkan dirinya dari kemiskinan selama ini.
Barra ditinggalkan Pinkan bukan karena ia sudah tidak mencintai Barra, tapi lebih karena Barra bukanlah pria yang bisa dijadikan tambang uang baginya. Terlalu banyak mata-mata Tuan Brandon untuk mengawasi gerak-gerik putra satu-satunya ini, hingga sebanyak apapun Barra memberikan Pinkan blackcard, tak satu pun kartu yang diberikan Barra dapat di pergunakan oleh Pinkan.
Sedangkan Arumi, bukannya Tuan Brandon tidak tahu apa yang terjadi pada menantunya ini, ia hanya sedang menunggu, hati putranya tergerak untuk menjadikan Arumi sebagai tujuan hidupnya. Ia ingin menunjukkan pada putranya bahwa istrinya adalah wanita yang terbaik untuknya, dan wanita yang begitu sabar menghadapi keegoisan dirinya.
Mengenai kehamilan Arumi, Tuan Brandon sudah mengetahuinya. Sejak Arumi dibawa oleh Alex ke rumah sakit. Tuan Brandon datang menemui Alex secara pribadi, dan meminta Dokter tampan itu untuk tidak menjadi orang ketiga di rumah tangga putranya. Alex memberikan jawaban yang membuat Tuan Brandon terkejut, senang dan sekaligus bangga pada sikap yang Dokter Alex ambil.
"Awalnya memang saya ingin mengejar cinta Arumi dan memiliki Arumi secara utuh. Merebutnya dari suami yang tak mencintainya, sangatlah mudah bagi saya, Tuan. Namun, saya tak sampai hati memisahkan sepasang suami istri jika sudah ada calon buah hati diantara mereka. Terkecuali jika suaminya menelantarkan dan mencampakan dirinya." Pernyataan Dokter Alex yang secara tidak langsung ini, membuat Tuan Brandon harus mencerna baik-baik ucapan sang Dokter.
Tuan Brandon yang mengingat betul ucapan Dokter Alex, tadinya ia tak ada niatan untuk menjauhkan Arumi dari Barra, namun pernyataan yang baru saja ia dengar dari sang putra membuatnya harus mengambil tindakan tegas. Ia tak mau menantunya direbut oleh Dokter Alex yang terlihat begitu mencintai Arumi.
"Stave!!" Pekik Tuan Brandon pada asistennya.
"Ya Tuan," sahut Stave yang langsung berlari mendekat pada Tuannya.
"Baik Tuan, saya laksanakan." Jawab Steve menunduk patuh.
"Mari Bi!" Ajak Steve pada Bi Ijah yang sedari tadi menyaksikan Barra dianiaya oleh sang Daddy. Mereka berdua segara masuk kamar Arumi.
"Mulai hari ini Arumi akan tinggal di mansion utama, jika kamu masih mau tinggal bersama istrimu, lupakan wanita busuk itu." Ucap Tuan Brandon pada putranya.
Barra hanya tersenyum getir dengan deratan giginya yang putih kini sudah berwarna merah karena darah yang mengalir dari kedua sudut bibirnya, saat ia mendengar jelas obat penawaran insomianya akan dibawa pergi oleh sang Daddy.
"Daddy tolong bawa suamiku ke rumah sakit, dia terluka." Ucap Arumi saat melihat Barra yang tersenyum getir itu kemudian malah menutup matanya.
"Biarkan, tak perlu kamu repot-repot mengurus suami yang tidak mencintai mu Nak, sekarang bangunlah, mari ikut Daddy pulang ke mansion. Dia boleh tinggal bersama mu, jika dia sudah menyadari kesalahannya." Tuan Brandon menarik paksa tubuh Arumi yang masih memeluk kepala Barra. Hingga membuat kepala sang putra jatuh dan membentur di lantai.
"Daddy!" Pekik Arumi tak tega saat melihat kepala suaminya terjatuh.
"Biarkan! Jangan pedulikan!" Sahut Tuan Brandon yang tetap membawa Arumi pergi.
Ta ada satu barang Arumi yang tersisa di apartemen mereka. Bi Ijah dan Stave membawa seluruh barang Arumi tanpa tersisa.
Di Mansion utama, Tuan Brandon memerintahkan para pelayan untuk membantu Arumi merapikan barang-barangnya di kamar milik suaminya. Sementara itu Arumi diminta untuk duduk di ruang makan, dengan disuguhkan berbagai macam hidangan yang cukup mewah dan tak lupa ada susu coklat yang sudah tersedia diatas meja.
"Makanlah, Arumi, kamu belum sarapan pagi bukan? Kamu tidak perlu memikirkan kondisi suami tengik mu itu, percayalah dia akan baik-baik saja. Yang perlu kamu pikirkan dan perhatikan sekarang hanya dirimu dan bayi dalam kandungan mu. Jangan sampai dia menderita karena tingkah busuk suami tengik mu itu." Ucap Tuan Brandon yang tak henti-hentinya mengumpati kebodohan putranya sendiri.
Arumi diam tertegun, mendengar Tuan Brandon sudah mengetahui perihal kehamilannya. "Kamu tidak perlu khawatir, Daddy tak akan memberi tahukan suami bodoh mu tentang perihal kehamilan mu ini, dan Daddy juga akan membantu mu untuk pergi ke New York bersama adikmu Anaya. Kamu tak akan Daddy biarkan sendirian dalam menghadapi cobaan hidup mu ini, Arumi." Ucap Tuan Brandon yang makin membuat Arumi terkejut. Semua rencananya telah diketahui oleh Ayah mertunya ini. Bukannya melarang, ia malah akan membantu Arumi pergi dari sisi putranya.
"Maaf Daddy tak bisa menemani mu sarapan, karana Daddy ada keperluan di luar, Mommy juga sudah berangkat ke boutique miliknya, jika kamu masih mau tetap bekerja, mulai hari ini akan ada supir yang akan mengantar jemput dirimu. Jangan mau jika diminta kembali ke apartemen itu, jika suami mu itu belum berubah. Lupakan dengan surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani. Suami mu itu benar-benar sudah tidak waras. Mungkin harus diceburkan ke dasar bumi dulu baru dia sadar," Ucap Tuan Brandon yang kemudian menyodorkan tangannya, agar Arumi mencium punggung tangan mertuanya itu. Tak henti-hentinya Tuan Brandon terus saja mengumpati kebodohan sang putra.