
Hari ini adalah hari kesialan Barra. Bisa dikatakan seperti itu, karena sejak pagi hatinya sudah dibuat tak mengenakan. Di tambah lagi ia harus menerima kenyataan jika asistennya Kevin dan istrinya Indri, yang merupakan sekertaris pribadinya itu mendadak tidak masuk hari ini, karena Indri mengalami keguguran.
Menurut Barra hari ini dirinya seperti orang yang benar-benar bodoh di perusahaannya sendiri. Untuk pertama kalinya ia melakukan semuanya seorang diri. Bahkan untuk minum segalas kopi, ia harus membuat minuman itu sendiri.
Bukan karena tidak ada karyawan lagi yang bisa ia perintahkan, tapi sudah berkali-kali karyawannya yang lain ia perintahkan untuk membuat kopi untuk dirinya, namun rasanya tak ada yang pas di lidahnya. Rasanya tak sama seperti buatan Indri apalagi Arumi. Racikan kopi kedua wanita itu sungguh berbeda dan tak ada yang bisa menyamakannya. Tentu saja jelas berbeda, karena keduanya membuat kopi untuk Barra dengan rasa penuh cinta, keikhlasan dan ketulusan.
"Kevin, sampai kapan kamu izin tidak masuk?" Tanya Barra pada Kevin lewat sambungan teleponnya.
"Maaf Tuan muda, mungkin untuk tiga atau lima hari ke depan saya tidak bisa masuk kerja, karena Indri masih membutuhkan saya. Indri masih sangat terpukul dengan perginya calon anak kami untuk selama-lamanya, Tuan." Jawab Kevin lirih.
Kevin sempat ragu mengatakan hal ini pada Barra. Ia khawatir Barra tak mengizinkannya untuk tidak masuk dalam waktu yang cukup lama. Terlebih Barra saat ini merasa kehilangan kedua kaki tangannya secara bersamaan.
Namun di luar dugaan Kevin, Barra dengan berat hati mengizinkan asistennya itu untuk izin tidak masuk. Dia harus mengerti kondisi keduanya yang sedang merasa berduka dan kehilangan.
"Ok. Baiklah. Saya mengizinkan kalian untuk tidak bekerja. Katakan dimana istrimu dirawat? Saya akan datang menjenguk kalian." Jawab Barra yang berniat menjenguk kedua tangan kanan terbaiknya itu.
"Di rumah sakit Sejahtera Tuan, istri saya dirawat bersebelahan dengan kamar rawat Arumi." Jawab Kevin yang membuat Barra tersentak dan terdiam.
Deg! [Jantung Barra hampir saja berhenti berdetak ketika ia mendengar jelas jawaban Kevin, jika kamar rawat sang istri bersebelahan dengan kamar rawat Arumi, istri yang sengaja ia sembunyikan statusnya di depan orang banyak.
"Apa semalam Kevin mendengar kehebohan ku yang memanggil Dokter saat Arumi baru sadar? Aku harap dia tak mendengarnya dan belum ada di ruang rawatnya saat kehebohan yang ku buat itu terjadi. Tapi untuk menenangkan hatiku dan mengetahui kebenarannya, aku harus bertanya padanya, kapan Indri mulai di rawat di sana." Barra bermonolog di dalam hatinya.
"Kevin. Sejak kapan istri mu Indri mulai di rawat di sana?" Tanya Barra seketika itu juga dengan kegugupannya.
Rasa khawatir pada Kevin dan Indri akan mengetahui tentang status pernikahan diantara dirinya dan Arumi mulai menyelinap di pikiran Barra. Berhasol mengusik ketenangannya.
"Cih, dia sepertinya takut sekali ketahuan jika Arumi adalah istrinya. Sampai-sampai bertanya sejak kapan Indri di rawat di sini. Dia pasti nasih ingin mengejar cinta perempuan ja.lang itu lagi." Gumam Kevin di dalam hatinya.
"Sejak pagi tadi Tuan." Bohong Kevin agar tak mendapat pertanyaan dari Barra.
Seketika hati Barra tenang, ia mengusap dadanya yang terlihat lega mendengar jawaban dari Kevin, jika Indri istrinya baru tadi pagi di rawat di kamar yang berdampingaj dengan kamar rawat Arumi.
"Ahh... syukurlah, berarti dia tak mengetahuinya. Baiklah mulai malam ini dan beberapa hari ke depan aku tak akan menemani Arumi di rumah sakit, biarkan Bi Ijah saja yang menunggunya, sampai Indri menyelesaikan masa perawatannya terlebih dahulu." Gumam Barra di dalam hatinya.
"Ok, saya akan ke sana sekarang."ucap Barra yang memberitahukan kedatangannya.
Sore itu, Barra kembali memaju kendaraannya ke rumah sakit sejahtera. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Arumi sebelum ia mendatangi ruang rawat Indri. Saat ia datang, Arumi sedang di bantu Bi Ijah memakan makanan pertamanya yaitu bubur.
"Sudah boleh makan?" Tanya Barra yang duduk di tepi ranjang Arumi.
Arumi diam tak menjawab pertanyaan Barra karena mulutnya yang penuh dengan bubur suapan Bi Ijah. Namun Bi Ijah-lah yang menjawabnya.
"Sudah Tuan, hari ini baru boleh makan bubur, jika tidak ada masalah besok sudah boleh makan nasi, kata Dokter Alex yang memeriksa Nona tadi." Jawab Bi Ijah yang tetap fokus menyuapi Arumi. Ia tak membiarkan mulut Arumi kosong terlalu lama.
"Baguslah kalau begitu, kamu akan cepat sembuh jika banyak makan." Ucap Barra Pada Arumi yang hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena mulutnya masih penuh dengan bubur suapan Bi Ijah.
Barra tersenyum melihat ekspresi Arumi yang kesulitan bicara dan tak diberi kesempatan mulutnya kosong sedikit pun oleh Bi Ijah. Alih-alih menyuruh Bi Ijah berhenti menyuapi Arumi, Barra malah memberitahukan Bi Ijah jika melihat mulut Arumi telah kosong.
"Bi, sepertinya mulut Arumi sudah kosong," ucap Bara pada Bi Ijah sembari tersenyum renyah pada Arumi, dan Arumi membulatkan matanya saat Bi Ijah kembali menyuapkan sesendok penuh bubur di tangannya.
"Bi, sudah. Aku sudah kenyang." Tolak Arumi dan Bi Ijah tak menerima penolakan Arumi itu. Bi Ijah tetap memaksa bubur yang ada di dalam sendok terakhirnya itu masuk ke dalam mulut Arumi.
Barra terkekeh geli melihat Arumi yang terpaksa menghabiskan sesendok penuh bubur di dalam mulutnya itu. Setelah makanannya habis, Bi Ijah seger memberikan obat yang telah di siapkan perawat tadi untuk Arumi.
"Non, di minum dulu obatnya." Ucap Bi Ijah yang menyodorkan obat di dalam mangkok mini dan segelas air putih di tangannya.
Arumi menerimanya dan menengguk obat itu sampai habis, kemudian ia mengusap lembut perutnya yang terasa kenyang dan penuh sekarang. Setelah memberikan obat, Bi Ijah yang sadar betul jika Tuan mudanya ingin bicara empat mata dengan istrinya pun, izin keluar untuk menghirup udara segar sejenak.
"Nanti malam saya tak bisa menemani mu di sini," ucap Barra sembari menatap wajah Arumi. Sejenak manik mata mereka bertemu dan kembali Arumi memutuskan tatapan matanya dengan menundukkan wajahnya.
"Iya tidak apa-apa, terima kasih sudah menemani saya selama ini Pak." Ucap Arumi yang menundukkan pandangannya.
"Sebenarnya saya masih ingin menemani mu di sini, seperti yang kamu tahu, saya tak bisa tidur jika tidak berada bersama kamu, tapi keadaan harus membuat saya tidak bisa berada di dekat kamu sementara waktu di sini. Karena Indri dan Kevin ada di kamar rawat sebelah kamar mu. Indri harus menjalani perawatan karena mengalami keguguran. Saya tidak ingin mereka berdua mengetahui status hubungan kita. Mereka akan curiga jika saya tetap menemani mu setiap malam di rumah sakit." Ungkap Barra pada Arumi.
Nafas Arumi seakan tercekal, sesak di dada seperti yang ia rasakan pagi tadi, dimana ia harus tidak mengakui suaminya sendiri di hadapan orang lain dan kini suaminya sengaja menghindari dirinya hanya karena tak ingin kedua karyawannya tak mengetahui status pernikahannya.
"Iya, saya paham." Jawab Arumi yang tetap menundukan pandangannya. Ia kembali menitikan air matanya dalam diam. Menyembunyikan air mata dalam pernikahannya seorang diri.
"Saya ke sini hanya ingin memberi tahukan masalah ini pada mu, kalau begitu saya pergi dulu. Semoga kamu cepat sembuh dan cepat pulang." Ucap Barra yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Arumi.