
Arumi mendengar jelas, suara Adnan menangis di sambungan teleponnya. Arumi merasakan kepedihan yang amat sangat dalam ketika mendengar isak tangis sang kakak yang tak ia ketahui sebabnya. Apakah karena mendengar suaranya yang dirindukan atau ada sebab lain yang tak Arumi ketahui, hingga seorang Adnan mengeluarkan sisi rapuhnya sebagai seorang lelaki.
Di ujung telepon itu, tak hanya Arumi yang mendengar isak tangis Adnan yang memilukan hati, terus berkata maaf tanpa henti. Tapi juga ada Barra, yang sudah ada di ujung telepon itu sejak tadi, sejak Adnan memberikan pesan melalui aplikasi WhatsApp jika istrinya itu sedang menghubungi Indri. Ia menguping pembicaraan Arumi dengan Indri sejak awal.
Bagaimana Barra bisa mendengarnya tanpa diketahui oleh Indri? Itu karena dia sudah meminta bagian teknisi mengkoneksikan sambungan intercom meja kerja Indri dengan intercom yang ada di meja kerjanya. Sambungan intercom ini bisa langsung di atur sendiri oleh Barra. Ia bisa membisukan suaranya dan juga bicara, jika ia menginginkannya.
"Maafkan Kakak, Arumi. Maafkan Kakak... Kakak terlalu banyak melakukan kesalahan pada dirimu, dibutakan dengan cinta dan peraturan konyol, sehingga menyakiti diri mu, jika kamu tak bisa memaafkan dan membenci Kakak, Kakak akan terima dengan ikhlas." Ucap Adnan dengan susah payah, nafasnya tersengal-sengal karena tangisan penyesalannya. Ia tak perduli dengan keenam rekan kerja barunya. Baginya rasa malunya saat ini tak lebih penting dari Arumi.
"Aku tidak membenci mu Kak, aku sudah memaafkan mu, jauh sebelum Kakak minta maaf pada ku. Kakak jangan menangis seperti ini, aku jadi ikut menangis karena mu Kak." Balas Arumi yang ikut menangis di sambung teleponnya.
Di lain sisi, Barra yang ada di ujung telepon mendengarkan jawaban Arumi barusan membuat Barra kagum dengan ketulusan hati istrinya. Pantas saja kedua orang tuanya sangat menyayangi Arumi, ternyata sebaik inilah sifat asli istrinya. Pemaaf dan penyayang.
Ada kebahagiaan dalam tangis haru biru dari ibu hamil ini, bagaimana tidak. Moment yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sang kakak yang amat ia sayangi, mau bicara dengannya setelah beberapa tahun lamanya. Tak hanya bicara, tapi sang Kakak meminta maaf sembari menangis dalam penyesalan. Di dalam pikirannya saat ini, pasti Adnan bisa bicara dengannya berkat campur tangan suaminya.
Meski Arumi sudah memberikan balasan kata maafnya dan memohon agar Adnan tak lagi menangis, nyatanya sosok pria yang tampan dan berpostur tubuh proposional seperti Barra ini, tak bisa menghentikan tangisnya, karena ia masih diliputi rasa kesedihan. Adanan sadar betul, tak hanya Arumi yang ia sakiti tapi juga anggota keluarganya yang lain. Keluarganya terpecah belah hanya karena rasa cintanya yang salah terhadap Septi yang ia panggil dengan istri durjana sekarang. Mendengar Adnan masih saja menangis, Arumi pun kembali angkat bicara.
"Kak Adnan, bagaimana kabar kakak sekarang? Hemmm...Bisakah kakak ceritakan padaku, bagaimana ceritanya Kakak bisa bicara dengan ku seperti ini? Apa Kakak sedang berada dengan suamiku? Apa dia memaksa mu untuk meminta maaf pada ku? Apa dia ada di samping Kakak, sekarang?" Arumi memberondong pertanyaan pada Adnan. Pasalahnya ia sedikit curiga, bagaimana bisa Adnan bicara dengannya seperti saat ini.
"Kabar Kakak tidak baik-baik saja. Kakak sudah berhenti bekerja dengan keluarga Septi, Kakak dalam proses perceraian dengannya dan Barra menawarkan pekerjaan menjadi wakil kepala divisi pengawasan komunikasi di perusahaannya." Jawab Adnan yang seketika membuat mata keenam teman kerja barunya ini membola sempurna menatap dirinya.
"Proses perceraian? Kakak yakin, ingin bercerai dengan Kak Septi? Bukankah Kakak sagat mencintainya? Apa Kakak tidak kasihan dengan anak Kakak? Dia akan menjadi korban perceraian kalian." Tanya Arumi yang masih tak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Kakak sudah berpikir baik-baik dengan keputusan kakak ini. Kakak sudah berada di titik jenuh dan lelah terus mengikuti mau mereka, menjadikan diri Kakak seperti boneka, menjadi sapi perah mereka, dimana Kakak yang bekerja, mereka yang menikmati hasilnya. Namun untuk menjadi diri kakak sendiri pun kakak tidak bisa Arumi. Pernikahan macam apa yang selama ini kakak jalani, dimana kakak berada di lingkungan keluarganya yang tak bisa menerima keluarga kita yang miskin." Ungkap Adnan panjang lebar, membuat Arumi kembali menangis sedih memahami apa yang kini dirasakan kakaknya.
"Kak Adnan," seru Arumi memanggil sang kakak dalam tangisnya.
"Kau sungguh beruntung, mertua mu sangat menyayangi mu, menyelamatkan mu dari bos tengil yang baru sadar begitu pentingnya dirimu bagi hidupnya, tidak seperti aku yang ditelanjangi habis-habisan oleh mertuaku dan istri durjana ku. Aku sudah tidak punya apa-apa. Aku dikembalikan menjadi gembel oleh mereka. Padahal seperti yang kamu tahu. Aku yang memajukan bisnis minimarket keluarga mereka hingga sebesar sekarang ini." Terang Adnan lagi, kali ini dia mulai mencurahkan isi hatinya dengan berapi-api.
"Sudahlah Kak Adnan, yang sudah berlalu biarkanlah. Jika mereka menjahati Kakak, Kakak tak perlu marah dan membalasnya. Biarkan saja, roda hidup pasti akan berputar, tak selamanya mereka selalu akan ada di atas, jika mereka tak bisa mengelola bisnis itu, bisnis keluarga mereka yang mereka banggakan akan jatuh dengan sendirinya. Sekarang Kakak bekerjalah dengan giat di perusahaan suamiku, menabunglah untuk membuat usaha baru kakak, tapi apakah kakak---" ucapan Arumi terpotong karena Adnan menyelanya. Adnan sudah tahu kemana arah pembicaraan Arumi selanjutnya.
"Aku tak sampai hati menggunakanya, Arumi. Aku sudah kembalikan perhiasan yang mungkin senilai dengan nyawaku pada ibu. Jangan memberikan ku barang mewah yang berlebihan seperti itu, adikku. Kebaikan yang kamu berikan ini pada ku, seperti sedang menampar ku secara halus. Jujur ku akui, semenjak menikah dengan Septi, Kakak sudah mengabaikan mu, mengabaikan keluarga kakak sendiri hanya demi dia, ya hanya demi istri durjana itu." Sela Adnan masih bicara dengan berapi-api jika menyangkut dengan Septi.
"Jangan bicara seperti itu Kak, bagaimana pun Kak Septi adalah wanita yang pernah Kakak cintai dan sudah menjadi seorang ibu dari putra kakak. Sayang sekali kakak menolak pemberian dari ku padahal itu bisa menjadi modal usaha untuk kakak," sahut Arumi yang sangat menyayangkan pemberiannya di tolak oleh Adnan.
"Aku merindukan mu, Arumi, adikku. Aku tak butuh perhiasan mu. Kakak hanya mau kamu kembali berkumpul bersama lagi. Kapan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu? Kakak sangat merindukan masa-masa itu, hummm. Bagaimana kabar si bontot? Apa dia ada bersama dengan mu? Apa dia terus berduaan dengan calon suaminya yang menyebalkan itu? Ishhh... Adikku terlalu muda untuknya, kenapa ayah begitu mudah menerima pinagannya? Anaya terlalu dini untuk menikah dengan Pria yang cukup umur itu." Adnan mengungkapkan perasaan rindunya pada sang adik yang selama ini terpendam. Saat dia ingin kembali menitikan air mata, Adnan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kabar sang adik bungsunya, yang seketika saj membangkitkan rasa emosionalnya terhadap Steve.
"Kita akan berkumpul lagi, tapi tidak sekarang. Kakak tenang saja. Aku tidak bisa menjanjikan kapan kita akan berkumpul lagi tapi akan ada saatnya kita akan berkumpul lagi. Kak, kenapa aku merasa kakak tak menyukai Kak Steve, padahal dia orang yang baik dan bisa merubah sikap tomboy dan bar-bar Anaya? Di sini dia banyak membantu ku menjaga Anaya." Jawab Arumi yang merasa heran dengan nada bicara Adnan saat bertanya tentang Anaya dan Steve.