My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Gara-gara jengkol



Anaya yang sedang membantu Steve berkebun di depan halaman rumahnya, tak henti-hentinya tertawa, ketika tak hanya satu ibu-ibu macam Ceu Onah yang datang. Sudah lebih dari lima ibu-ibu yang berdiri di pagar kediaman mereka ini.


Jika Ceu Onah dan ibu-ibu lainnya hanya membawa tangan kosong, berbeda dengan Bu Mamay yang baru saja datang dengan membawa buah tangan. Sesusun rantang ia jinjing di tangannya. Ia melangkah dengan jumawa menyingkirkan para ibu-ibu yang kuga ngefans dengan suami Arumi ini.


"Assalamualaikum Mas Barra, saya bawa pepes ikan dan semur jengkol buat nemenin makan siang Mas Barra dan Mba Arumi nih, masih hangat baru banget matang loh." Ucap Bu Mamay sembari tersenyum genit pada Barra.


Tubuh Barra sedikit bergidik saat ia mendapati kedipan mata genit Bu Mamay padanya.


"Sinting! Kemana suami-suami mereka?" Batin Barra yang tersenyum kaku pada mereka yang berdiri berjajar di depan pagar.


Bukannya Barra tidak mau membukakan pintu untuk mereka. Sebenarnya Barra sudah menawarkan pada mereka untuk masuk ke dalam, namun mereka semua menolak karena takut dengan semprotan Arabella yang akan menyeramahi mereka tanpa koma apalagi titik.


Anaya yang mendengar Bu Mamay membawa semur Jengkol langsung melepaskan sarung tangan berkebunnya dan mencuci tangannya.


"Kamu mau kemana? Ini belum selesai." Tanya Steve, matanya terus mengekori kemana istrinya melangkah.


"Bu Mamay bawa jengkol Om, tunggu dulu ya. Nanti Nay lanjutin lagi, tenang aja. Keburu kedatangan Kak Adnan." Jawab Anaya yang berlari ke arah pagar.


"Ya Tuhan, wangi deh ini wangi semerbak. Harus ke minimarket borong kamper untuk kamar mandi." Gerutu Steve yang dibalas cengiran oleh Anaya.


Anaya sedikit berlari kecil menghampiri pagar rumah demi menghampiri Bu Mamay. Seketika Steve berteriak memanggil istrinya, ia khawatir istrinya terjatuh.


"Anaya, jangan lari! Nanti jatuh."


Anaya berhenti dan membalikan badannya. Menatap mata suaminya yang sudah membola sempurna.


"Oh, iya lupa. Gak boleh lari ya. Maaf ya Om, pesona jengkol buat Nay lupa." Ucap Anaya yang kemudian kembali berjalan menghampiri Bu Mamay.


"Bu Mamay, sini rantangnya!" Pinta Anaya tanpa rasa malu. "Mau masuk gak Bu May? Kali mau elus-elus pipinya Kak Barra." Sambung Anaya saat tangannya menggapai rantang Bu Mamay di atas pagar.


Barra sontak membulatkan matanya, mendengar adik iparnya seakan menawarkan dirinya untuk digerayangi oleh Bu Mamay, hanya karena membawa buah tangan yang terdapat menu kesukaannya, yaitu semur jengkol.


Anaya melirik Barra yang membulatkan matanya pada Anaya, bukannya takut, Anaya malah cengengesan.


"Hahaha, mau sih, tapi ada Ibu gak Anaya?" Jawab Bu Mamay yang menerima tawaran Anaya dengan rasa takut-takut.


"Ada tuh di ruang tamu lagi rapih-rapih." Jawab Anaya berbohong.


Sontak saat mendengar jawaban Anaya, ibu-ibu yang berkerumun di pagar langsung membubarkan diri, hingga tersisa Bu Mamay.


"Eh, ada di ruang tamu ya? Gak jadi deh, lain kali aja. Kalau gitu saya pamit dulu ya. Jangan lupa dimakan ya Mas Barra masakan saya! Dijaman enak loh, karena masaknya pakai kasih sayang sepunuh hati dan jiwa raga." Sahut Bu Mamay dengan senyum genitnya pada Barra.


"Pasti di makan. Tenang saja Bu Mamay, masakan yang dimasak Bu Mamay memang top markotop deh. Makasih loh pakai repot-repot bawa begindang segala. Sering-sering ya. Terutama jengkolnya, jangan di semur aja kali-kalindi cabein gitu." Balas Anaya lagi dengan tak tahu malu dan malah me-request varian menu kesukaannya itu.


"Oh, iya siap Mba Anaya. Doakan saya sehat biar bisa masakin buat Mas Barra."


"Owalah pasti sehat dong Bu Mamay, kan udah ada Kak Barra di sini. Kak Barra kan Vitamin C-nya ibu-ibu di kampung ini ya kan? Hahaha..."


"Anaya cukup!" Barra mau tak mau mencubit lengan Anaya untuk menutup mulut adik iparnya yang terus-terusan mengobral dirinya.


"Makanya tutup mulutmu!"


"Bu Mamay terima kasih atas buah tangannya, saya mau masuk dulu Nathan sudah terlalu lama di jemur. Sekali lagi terima kasih." Pamit Barra setelah itu ia masuk ke dalam rumah Arabella dan Abimanyu dengan wajah di tekuk.


Sementara Anaya, membawa rantang pemberian Bu Mamay ke kediamannya.


"Jengkol-jengkol. Utun, kita makan jengkol lagi sayang." Ucap Anaya sebari mengusap perutnya.


"Om, Nay makan dulu ya. Nanti habis makan Nay bantuin lagi... Muachh..." Ucap Anaya saat menghampiri suaminya yang masih sibuk berkebun di halaman depan rumahnya.


Di dalam rumah Arabella, Barra meletakkan Nathan di area bermainnya yang ada di ruang televisi, dimana sudah ada Adnan yang berbaring bermalas-malasan di sana.


Saat Barra memdudukan bokongnya di atas sofa dengan cepat Adnan langsung tidur dipangkuan Barra.


"Lama sekali kau menjemur Nathan. Bisa-bisa kulitnya terbakar nanti." Oceh Adnan yang menegur adik iparnya itu.


"Tidak terlalu lama seharusnya, jika saja Anaya tidak meladeni Bu Mamay, hanya kerana Bu Mamay membawa semur jengkol kesukaannya." Balas Barra.


Dengan cepat Adnan bangun dan pergi meninggalkan Barra begitu saja. Setelah mendengar menu favoritnya disebut oleh Barra.


Secepat kilat Adnan mendatangi kediaman adiknya yang berada di sebelah rumah orang tuanya. Ia dapati Steve sedang sibuk berkebun.


"Dimana istrimu Steve?" Tanya Adnan pada Steve yang tak mau menolehkan pandangannya pada Adnan.


Steve sudah bayangkan keributan apa yang terjadi di dalam rumahnya nanti.


"Di dalam, dia sedang makan." Jawab Steve.


"Argh... Serakah sekali dia, tidak mau bagi-bagi." Gerutu Adnan yang langsung saja meninggalkan Steve dan masuk ke dalam rumah adiknya.


Didapati oleh Adnan, Anaya begitu lahap memakan nasi dengam semur jengkol buatan Bu Mamay.


"Nay!" Pekik Adnan memanggil Anaya.


Anaya menoleh mendapati Adnan berkacak pinggang tak jaih dari meja makannya.


"Sini Kak makan jengkol nih bareng sama Nay!" Sahut Anaya yang menyodorkan piring kosong dan membukakan magiccom yang masih mengeluarkan uap nasi yang mengebul.


Adnan yang marah seketik lupa, karena dia tiba-tiba saja langsung berselera untuk segera menyantap semur jengkol yang wanginya sungguh nikmat itu.


Adnan dengan semangat menyendok nasi ke dalam piringnya, hingga cukup menggunung, ia menuang jengkol cukup banyak ke atas nasi yang ada di dalam piring makannya.


"Bawang goreng Nay!" Adnan meminta bawang goreng yang ada di depan piring Anaya.


Keduanya makan dengan lahap hingga nasi satu magiccom habis dan jengkol buatan Bu Mamay raip, masuk ke dalam perut mereka.


Keduanya yang merasa sangat kekenyangan langsung saja berbaring di sofa. Jika Adnan langsung membaringkan tubuhnya di sofa ruang televisi, berbeda dengan Anaya yang awalnya ingin membantu kembali suaminya, namun saat ia melewati ruang tamu. Sofa baru yang berukuran cukup panjang, terus melambai-lambai pada dirinya. Godaan untuk meniduri pun tak terelakkan.