
Malam ini dengan penuh kesabaran, Barra menjelaskan informasi yang ia dapatkan dari Kevin. Adnan dan Steve mendengarkan sambil manggut-manggut dengan apa yang di jelaskan Barra.
"Bagaimana menurut mu, Kak? Sebagai anak tertua di keluarga ini, kita harus berbuat apa dengan kita yang sudah mengetahui niat buruk mereka pada keluarga kita ini?" Tanya Barra pada Adnan sembari menatap wajah kakak iparnya itu, kemudian berpindah menatap Steve yang terlihat santai.
"Sebenarnya aku dan Steve sudah mengetahui apa yang kau ceritakan saat ini pada kami Bar, hal ini sudah dibahas oleh Daddy Antoni di perusahaan dua hari yang lalu. Bahkan para istri sudah mengetahuinya, mungkin Arumi juga sudah tahu dari kelemesan mulut istri dan adikku." Jawab Adnan dengan senyum meledek Barra.
"Apa?? Kenapa jika kalian sudah tahu tidak menceritakan padaku? Jahat sekali kalian!" Barra sontak terkejut mendengar jawaban Adnan yang sama sekali tidak ia duga, jika kakak ipar dan juga adik iparnya sudah mengetahui akan hal ini.
"Kami tidak sengaja tidak memberitahumu, karena menghargai Kevin yang sudah bersusah payah mencari informasi untukmu. Lagi pula informasi yang Kevin katakan padamu sama dengan apa yang kami ketahui." Ucap Steve yang angkat bicara.
"Halah, kalian memang menyebalkan. Kak Adnan, kau tak boleh lagi menempel pada ku. Apa-apaan kau ini. Dekat dengan ku hanya ada maunya saja." Ucap Barra yang mulai merajuk pada kedua saudara iparnya.
Barra membuang pandangannya dari keduanya, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Sontak saja tingkah Barra yang merajuk ini mrmancing tawa kedua iparnya.
"Paus-pauslah kau tertawakan ku, sebentar lagi kalian akan menangis meraung-raung ditinggal para istri kalian."
"Apa kata mu paus-paus? Hahahaha... Makanya jangan merajuk Barr, lidahmu jadi kepleset kan," ledek Adnan yang kini beranjak dari kursinya dan menghampiri adik iparnya yang masih saja merajuk.
"Dengar Bar, Kau tidak perlu khawatir dengan niat mereka yang ingin mengganggu ketentraman keluarga kita. Yang pasti istri kita memang akan pergi-----,"
ucapan Adnan langsung terpotong oleh Barra yang langsung main tidak setuju saja, padahal belum mendengar sampai selesai ucapan Adnan tentang kepergian para istri mereka.
"Tidak, aku tidak setuju, jika Arumi akan pergi kembali. Aku tidak ingin ditinggalkan seperti dahulu,sudah cukup...cukup aku tidak mau." Tekan Barra yang terlihat emosi.
Bagaimana ia tidak emosi, mendengar istrinya akan pergi meninggalkan dirinya. Kembali ingatan Barra berputar di dalam pikirannya, tentang bagaimana penderitaan terberat di dalam hidupnya, yang ia jalani dengan susah payah dan terseok-seok kala itu.
"Bagaimana Aku tidak marah kau bilang istri kita akan pergi. Aku sudah cukup merasakan penderitaan berbulan-bulan ditinggalkan istriku dan aku tidak mau kembali ditinggal oleh istriku yang kini tengah mengandung anak kedua kami. Kau tahu Adnan aku sudah kehilangan moment berhargaku di saat Nathan berada di dalam kandungan istriku, dan untuk anak kedua kami ini, aku tidak mau kembali kehilangan momen berhargaku." Tukas Barra dengan tegas
"Hai, Barra. Dengarkan baik-baik! Para istri kita memang akan pergi, tapi bukan untuk meninggalkan kita tapi memang untuk berlibur bersama dengan ibu. Apa kau berani melawan ibu dengan membatalkan kepergian istrimu?"
"Apa??" Barra terperanjat dari kursinya.
Dua kali sudah Adnan membuatnya nampak terlihat bodoh.
Pagi harinya, Arumi bangun seperti biasanya tepat pukul 04.00 pagi. Ia mulai membantu Bi Ipah memasak di dapur sebelum ia bersiap untuk mandi.
"Kok banyak banget gelas Bi? Apa semalam suamiku ngopi bareng bersama dengan kedua iparnya?" Tanya Arumi yang memperhatikan banyak gelas kotor yang sedang Bi Ipah cuci.
"Iya Nyah," jawab Bi Ipah sambil senyum-senyum tak jelas.
Bagaimana Bi Ipah tidak senyum-senyum tidak jelas seperti ini. Dia ingat betul bagaimana Tuan mudanya merajuk seperti anak kecil, saat dibuat terkejut dan diledek oleh kedua iparnya ini.
Jujur Bi Ipah yang selama ini setia bekerja dengan keluarga Tuan Brandon, Baru kali ini melihat Tuan mudanya sangat menikmati hidupnya. Bi Ipah ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kini Barra rasakan bersama istrinya.
"Pagi," sapa Barra yang baru bangun, tampa dibangunkan oleh istrinya.
"Masih sangat pagi Papi sayang. Kenapa kau sudah bangun Papi, padahal aku belum selesai memasak menu sarapan kita?" Tanya Arumi yang tak sama sekali menghentikan aktivitasnya di dapur.
"Aku terbangun karena tak bisa tanpamu." Jawab Barra dengan tatapan sendunya dan menahan rasa kantuk yang berat.
Karena ia baru satu jam memejamkan matanya yang sangat perlu beristirahat.