
Setelah habis-habisan memukuli Steve hingga babak belur dan tak berhasil memaksa kaki tangan kedua orang tuanya itu, untuk memberi tahu dimana istri dan calon anaknya berada, apalagi hanya sekedar untuk menghubungi Aki-aki tua bangka yang sudah menyembunyikan istrinya saat ini, membuat Barra menjadi stress dan terus merasa lapar ketika stress menyerang dirinya. Namun, disaat ia menghilangkan rasa laparnya dengan makan, ia juga merasakan mual yang tak tertahankan.
Di perusahaan dia tak lagi bekerja dengan baik, rumor dirinya dicampakkan Arumi dengan cepat menyebar. Tak ada karyawan yang tak menggunjingkan dirinya. Hampir seluruh karyawan dan karyawatinya kehilangan rasa simpatiknya terhadap Barra. Pasalnya, ia dicampakkan karyawati teladan diperusahaan itu dengan status seorang istri yang disembunyikan.
Barra tidak marah dengan sikap yang diambil seluruh karyawan dan karyawatinya. Ia menganggap ini adalah sebuah hukuman yang pantas baginya. Dibenci dan tidak disukai oleh banyak orang karena telah menyia-nyiakan istri yang baik bahkan yang terbaik.
Satu bulan berlalu begitu cepat, Barra hampir kehilangan akal untuk mencari cara agar bagaimana bisa ia menemukan dimana persembunyian Arumi. Ia ingin sekali meminta maaf pada istrinya itu, mengatakan betapa ia menyesal telah menyakiti dan menyia-nyiakan dirinya selama ini. Ia juga ingin mengatakan jika ia sangat menyayangi istrinya itu dan menyadari terselip rasa cinta di dalam hatinya selama ini untuk Arumi.
Pagi ini, Kevin merasa terganggu dengan keberadaan Barra yang terus ada di ruang kerjanya. Setidaknya jika tak ingin bekerja seharusnya Barra tidak menggangunya dengan kegalauan tak jelasnya dia diruangan kerjanya ini.
"Hai, Tuan Barra yang terhormat, aku ini sedang bekerja, bisakah kau menyinkir dari ruangan ku. Kehadiran mu di sini hanya mengganggu konsentrasi diriku saja. Setidaknya jika kau ini tak mau bekerja, tolong jangan ganggu aku! Istriku tidak mau terus-menerus aku lembur karena ulah mu ini." Tegur Kevin pada Barra yang tak pernah berhenti mengganggunya dengan mengetuk-ngetuk meja kerja Kevin ataupun merobek-robek kertas dan melemparkannya ke wajah Kevin.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi untuk menemukan istriku, aku sudah mendatangi kedua mertuaku, mereka malah tak tahu menahu dimana keberadaan putrinya, tapi aku merasa aneh dengan cara adik bungsunya menatapku, dia terlihat sangat membenciku, dari tatapannya aku mengira dia tahu masalah permasalahan rumah tanggaku." Ujar Barra yang mulai mencurahkan isi hatinya pada Kevin.
"Maksudmu adiknya yang bernama Anaya?" Tanya Kevin sembari menatap dan membaca dokumen-dokumen penting yang berada di atas meja kerjanya.
"Kau mengenal nama adiknya? Aku saja kakak iparnya tidak tahu namanya."
"Itu karena kau terlalu bodoh menjadi Kakak ipar."
"Sepertinya kau banyak tahu tentang istriku."
"Tentu saja, aku dan istriku sering membahas curhatan istrimu dengan ku."
"Apa? Arumi suka curhat dengan istrimu?"
"Ya tentu saja, tak perlu seterkejut itu, bagi wanita bertukar cerita adalah hal yang wajar, tapi jika kau bertukar cerita dengan istriku itu namanya kurang ajar." Ungkap Kevin yang tak ingin Barra sampai curhat ataupun bertanya-tanya mengenai Arumi secara langsung pada Indri, istrinya. Walau bagaimanapun Kevin harus berhati-hati karena dulunya Indri memiliki hati pada Bosnya ini.
"Si4lan kau! Kau tak perlu takut aku akan mengambil istri mu, dia bukan tipe ku, jika aku mau dengan istri mu, seharusnya sudah dari dulu saja, sebelum dia menjadi bekas mu." Sahut Barra dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Ya-ya... Tapi berhati-hati lebih baik daripada hatiku patah karena kelalaian ku menjaga keutuhan rumah tanggaku, seperti dirimu." Sindir Kevin yang serasa mencubit ginjal Barra.
"Asisten Si4lan! Cepat katakan aoa yang kau tahu tentang adik iparku itu!" Umpat Barra dengan perintahnya.
"Anaya adalah adik kesayangan istri mu. Sebagian besar uang yang ia keruk dari kartu Blackcard mu, untuk membiayai kuliahnya di luar negeri, untuk lebih jelasnya di negeri mana adik ipar mu itu akan menimba ilmu, aku tidak tahu begitu pula dengan istri ku, yang pasti Arumi akan meminta tolong pada Dokter Alex mengenai pendidikan adiknya. Pasalnya adiknya ini ingin menjadi seorang Dokter seperti Dokter Alex."
"Lagi-lagi Dokter busuk itu, kenapa dia harus minta bantuan dari Dokter busuk itu? Dia kan bisa meminta bantuan pada ku?" Umpat Barra yang tak suka Arumi meminta tolong pada Alex.
"Cih, memangnya kemarin-kemarin kau perduli dengannya? Kerjaanmu hanya menyakiti dan menyia-nyiakan dirinya saja." Jawab Kevin dengan tatapan tak sukanya pada Barra.
"Ahh... Sudahlah jangan singgung kesalahan ku terus. Sekarang ceritakan lagi apa yang kau tahu tentang adik iparku itu!" Sahut Barra yang tak ingin Kevin menguliti kesalahannya pada Arumi.
"Dasar egois, jika orang yang salah kau pasti akan terus mengungkitnya hingga orang itu hapal dengan apa yang kau ucapkan."
"Kevin! Aku menyuruhmu menceritakan tentang adik iparku bukan membahas yang lain." Tegur Barra pada ocehan Kevin yang menurutnya unfaedah.
"Ishhh... Kau ini menyebalkan!" Umpat Kevin yang kesal dengan sikap Barra yang tak mau mendengarnya bicara yang lain dulu, sebelum ia menceritakan tentang adik iparnya.
"Ya, aku memang menyebalkan. Untuk itu aku minta maaf." Balas Barra dengan senyum sok manisnya pada Kevin. Ia tahu jelas Tuan mudanya ini sangat penasaran dengan cerita tentang adik iparnya yang bisa dia jadikan clue dalam pencarian istrinya.
Kevin pun kembali menceritakan tentang Anaya yang ia tahu. Dari mulai cita-citany sampai kisah cinta segitiga antara istrinya dan adiknya sendiri, yang sama-sama mencintai satu pria yaitu Dokter Alex. Saat ia mengetahui tentang cinta segitiga diantara mereka, jangan tanya bagaimana ekspresi Barra. Dia sudah kesal dan marah. Ingin ia hancurkan ruangan kerja Kevin. Namun Kevin sudah menatap tajam dirinya.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan Anaya." Cetus Barra pada Kevin.
"Temuilah, jika kau mau menemuinya kau akan kembali berhadapan dengan asisten Daddy mu. Hahahaha... Sepertinya kau sedang berperang melawan Daddymu yang sudah matang dengan strateginya Barra." Sahut Kevin yang membuat Barra terkejut.
"Apa?? Dasar Aki-aki tua bangka, sepertinya ia ingin menghukum dan menguji kesungguhan ku. Akan aku buktikan aku sungguh-sungguh mencintai istri ku." Ucap Barra yang malah mendapatkan tatapn remeh dari Kevin.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Aku serius dengan ucapan ku, aku benar-benar mencintai istri ku, Arumi."
"Aku tidak percaya, kau saja belum menyelesaikan kisahmu dengan kekasih terindah mu itu. Dia masih bolak-balik datang ke perusahaan ini bukan?"
"Tapi aku mengabaikannya,"
"Mengabaikannya bukanlah sebuah tindakan yang tepat, segala sesuatu harus ada keputusan dan kejelasan. Pintu mu mendapatkan Arumi tak akan terbuka jika kamu belum menutup buku akan kisah cintamu dengan keoasih terindah mu itu." Ucap Kevin memberikan saran pada Barra.
"Ya, kau benar. Aku akan memutuskannya setelah aku menemui adik iparku itu." Jawab Barra yang lagi-lagi mendapatkan senyum remeh dari Kevin.
"Ishh... Kenapa kau masih saja meremehkan ku Kevin?"
"Aku harap kau tak mengganggu ku setelah menemui adik ipar mu itu. Berhati-hatilah. Dia tak selembut kakaknya. Sana pergi! Semangat! Oh ya jam segini dia masih ada di sekolahnya. Sekolahnya tak jauh dari kediamannya, kau tahu Sekolah SMA favorit di kota ini kan?"
"Ya aku tahu."
"Dia sekolah di sana, dia adalah satu atlet taekwondo di sekolah itu, berhati-hatilah. Hubungi Dokter Alex jika ada salah satu gigimu yang tanggal karenanya." Goda Kevin yang langsung mendapatkan lemparan buku tebal dari Barra.