My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Menghindar



Dengan menggunakan mobil Adnan, Zeline dan Adnan berangkat bersama. Zeline duduk di samping kiri kursi pengemudi, di mana Adnan tengah mengendarai kendaraannya.


"Tidak ada satupun orang kantor terkecuali Kevin dan Indri yang mengetahui pernikahan kita. Kau harus menjaga pernikahan ini agar tidak diketahui satu orang pun, kau tahu bagaimana Daddymu meminta kita untuk menyembunyikan pernikahan ini bukan?" Ucap Adnan dibalik kemudinya.


Ia bicara tanpa memandang wajah Zeline yang terlihat sedih. Hatinya tercubit karena pernikahan dia dan Adnan harus disembunyikan, terlebih sikap Adnan sangat dingin dengannya. Entah apa maksud sang Daddy meminta mereka menyembunyikan pernikahan ini. Apakah sebenarnya sang Daddy tidak merestui pernikahan mereka? Hingga ia meminta pernikahan ini harus di sembunyikan, karena mungkin saja pernikahan ini akan berakhir dengam cepat. Pertanyaan inilah yang ada di benak Zelin saat ini.


"Iya Pak. Saya paham." Jawab Zelin singkat dengan suaranya yang lirih.


Adnan dengar jelas suara zeline yang begitu lirih menjawab pertanyaannya,bukannya ia tak memiliki rasa kasihan ataupun empati pada sang istri. Namun ini sudah peraturan yang ditetapkan oleh Tuan Antoni. Lagi pula dia pun belum memiliki rasa sedikitpun pada Zeline. Pernikahan ini pun dilangsungkan karena sebuah tragedi dan keterpaksaan. Hanya karena rasa tanggung jawab yang harus Adnan laksanakan membuatnya harus menikahi Zeline.


Saat mobil Adnan hampir mendekati perusahaan, Adnan menghentikan laju mobilnya di sebuah halte yang berjarak kurang lebih dua ratus meter dari gedung perusahaan.


"Turunlah di sini Zeline! Kau tidak bisa ikut denganku sampai di perusahaan. Mereka akan curiga dengan hubungan kita yang terlalu dekat dan mengetahui pernikahan kita nantinya." Pinta Adnan pada Zeline.


Lagi-lagi Adnan berbicara tanpa menatap wajah Zeline yang kini terpengangah dengan permintaan Adnan. Dengan berat hati Zeline pun turun dari mobil Adnan. Ia turun tanpa berkata-kata. Saat pintu mobil Zeline tutup dengan kencang, Adnan langsung saja melajukan kendaraannya kembali. Melihat mobil Adnan menjauh dari pandangannya, Zeline pun menitikan air matanya.


"Sedingin itukah sikapmu padaku? Meski aku sudah menyerahkan harta paling berharga di hidupku ini Pak Adnan, suami ku." Ucap Zeline pada dirinya sendiri dengan lirihnya.


Dengan langkah gontai dan masig merasakan sedikit nyeri dibagian intinya. Ia pun berjalan menuju gedung perusahaan yang berjarak kurang lebih 200 meter dari halte, di mana Adnan menurunkannya.


"Selamat pagi Nona Zelin tumben jalan kaki? Sapa seorang satpam begitu ramah pada Zeline. Panggil saja satpam itu adalah Pak Nino, satpam yang selama ini selalu ramah menyapa dirinya.


"Pagi Pak Nino, Mobil saya kan ketinggalan di sini pak, jadi saya kesini naik taksi online tadi dan turun di halte sana." jawab Zelin berbohong. Ia tersenyum tak kalah ramah dengan Pak Nino.


"Oh begitu Non. Saya kira Non habis dianterin sama pacarnya sampai halte, jadi jalan kaki ke sininya?" Seloroh Pak Nino yang membuat Zeline tersenyum kecut.


"Hahahaha.... saya gak punya pacar Pak____" Zeline tertawa, ucapannya terhenti saat ia memberitahukan Pak Nino jika dirinya tak memiliki pacar.


"Tapi punya suami..." sambung Zeline di dalam hatinya.


"Wah. Cantik-cantik masih jomblo." Sahut Pak Nino.


"Hehehe... iya Pak. Maaf Pak Nino lain kali kita ngobrol lagi ya. Saya mau masuk dulu." Pamit Zelien yang sedikit menundukan tubuhnya.


"Oh, iya silahkan Nona." Sahut Pak Nino yang terus memperhatikan Zeline yang melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam perusahaan.


"Sayang sekali sudah cantik ramah tapi gak punya pacar, kalau saya masih muda daln belum punya cucu, saya pun mau memacarinya." Gumam Pak Nino yang kemudian tertawa renyah seorang diri.


Di ruangan kerjanya Zeline sudah ditunggu kehadirannya oleh rekan kerjanya, siapa lagi jika bukan Karin. Karin terus mengamati penampilan Zeline dari atas hingga kebawah. Bahkan tatapan matanya terus menguliti bagian tubuh Zeline yang ia curigai.


"Ahh, tidak. Kamu tumben pakai baju tertutup?Biasanya terbuka lebar." Karin malah balik bertanya pada Zeline.


"Hahaha... karena aku sudah dimarahi sama Pak Adnan. Dia jijik dengan tubuhku ini Mbak. Katanya aku bukan kriterianya dan dia sama sekali tidak tertarik dengan ku." Jawab Zeline dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hah? Benarkah?" Tanya Karin yang tak percaya, namun raut wajahnya terlihat senang mendengarnya.


"Iya benar, buat apa aku berbohong. Pak Adnan juga bilang, setelah masa kontrakku habis. Dia tak akan memperpanjang kontrak kerja ku."


"Bukankah kontrak kerja mu sudah di perbaharui jadi satu tahun?"


"Iya, berarti tinggal tersisa sebelas bulan lagi Mbak. Waktu yang terasa sangat lama, jika kita bersama orang yang tak menyukai bahkan melihat wajah kita pun ia enggan. Jujur aku menyesal menyukainya." Seloroh Zeline yang malah menitikan air matanya.


"Oh, iya Zeline. Boleh aku bertanya?" Karin menatap serius wajah Zeline yang tengah bersedih.


"Tentu boleh. Mbak mau tanya apa?" Jawab Zeline yang mulai menghapus air matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Waktu kemarin kita meeting di luar dan aku pergi terlebih dahulu karena anak aku sakit. Pak Adnan pulang sama siapa? Apa kamu pulang bersama dia?" Tanya Karin yang malah mengundang kecurigaan Zeline, karena tumben-tumbennya rekan kerjanya ini banyak bicara dengannya.


"Iya, dia pulang bersama ku. Tapi di pertengahan jalan, ia menurunkan ku. Katanya ingin bertemu mantan istrinya Mbak." Jawab Zeline berbohong.


"Apa? Dia masih bertemu dengan mantan istrinya?" Tanya Karin yang terlihat terkejut.


"Tentu saja mereka pasti akan sering bertemu. Karena 'kan ada anak diantara mereka, Mbak." Jawab Zeline yang ada benarnya.


"Apa mereka akan kembali rujuk, jika terus ada kesempatan bertemu seperti itu? Apalagi jika mereka masih menyimpan rasa?" Tanya Karin lebih mendetail.


"Aku gak tahu Mbak. Aku gak mau nyampurin urusan pribadi bos kita yang dingin itu." Kilah Zeline yang tak ingin menuruskan pembicaraan mengenai suaminya.


"Hah jika dia rujuk dengan mantan istrinya, bagaimana nasibku?" Gumam Zeline di dalam hatinya, saat ia mulai menyalakan layar komputer di meja kerjanya.


Melihat tak ada yang dapat ia curigai dari diri Zeline, Karin pun kembali bekerja.


"Line, tolong mintain tanda tangan dong sama Pak Adnan! Biar orang lapangan bisa cepat kerjain proyek kita." Ujar salah satu staff produksi yang mendatangi meja Zeline.


"Aduh Mas, minta sama Mbak Karin aja. Soalnya Pak Adnan lagi sensi sama aku." Tolak Zeline yang malah mulai menghindari Adnan.


Rupanya rasa sakit hati dengan sikap dingin Adnan yang terus ia dapatkan dari kemarin, membuatnya memilih menjaga jarak dengan sang suami demi menjaga hati dan kesehatan jiwa sendiri.