
Arumi yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, berusaha membangunkan Barra dari tidurnya.
"Pak, Pak Barra. Bangun Pak! Sudah pukul 07.30 pagi. Hari ini Bapak jadi masuk kantor tidak?" Ucap Arumi saat membangunkan Barra.
"Hemmm..." Sahut Barra yang masih enggan membuka matanya.
"Pak, jadi masuk kerja tidak?" Tanya Arumi yang mulai mengguncangkan tubuh Barra tiada henti sampai Barra bangun dari tidurnya.
"Arumi!! Apa begini cara mu membangunkan suami mu hum? Owhhh... Pusing sekali di guncangkan seperti ini," omel Barra yang bangun karena terpaksa karena Arumi menggoncangkan tubuhnya dengan kasar tanpa perasaan.
Dengan mata yang masih lengket Barra beranjak dari ranjang tidur Arumi. Dia berjalan sempoyongan keluar dari kamar Arumi. Alih-alih membantu jalan suaminya yang sempoyongan, Arumi malah merapikan ranjang tidurnya sebelum keluar dari kamarnya.
Barra yang merasa diacuhkan Arumi pun membalikkan tubuhnya guna melihat aktivitas sang istri yang tidak menghampiri dirinya.
"Secepat itu kamu berubah, setelah mengeruk uang ku dalam sehari, kamu tidak berhak marah pada ku, Arumi. Tidak berhak." Gumam Barra saat menatap Arumi yang tengah merapihkan ranjang tidurnya.
Selesai merapikan ranjang tidurnya, Arumi masuk ke dalam kamar Barra, ia menyiapkan segala keperluan Barra untuk berangkat ke kantor, setelah itu ia pergi ke dapur. Dilihatnya Bi Ijah tengah menghangatkan makan pagi mereka.
"Pagi Bi," sapa Arumi dengan senyum manisnya saat ia menghampiri Bi Ijah.
"Pagi Non, mau buat apa Non? Biar Bibi buatkan, Non duduk saja dikursi meja makan." balas Bi Ijah yang terus memperhatikan pergerakan Arumi yang mengambil gelas susu yang cukup tinggi.
"Mau buat susu Bi, mulai sekarang aku mau minum susu, biar tambah sehat." Jawab Arumi yang mulai menuangkan beberapa sendok susu ke dalam gelas susunya.
"Biar bibi lanjutkan Non duduk saja!" Pinta Bi Ijah yang merebut gelas susu Arumi. Arumi tersenyum manis melihat perhatian Bi Ijah begitu besar padanya.
"Ok, baiklah. Makasih ya Bi." Jawab Arumi yang kemudian berjalan menuju kursi meja makan.
Tak lama Arumi duduk di kursi meja makan Barra keluar dari kamarnya. Aroma parfum maskulin yang digunakan Barra sungguh memanjakan indra penciuman Arumi.
"Hemm, wangi sekali Ayah mu Nak. Ingat-ingatlah wangi aroma parfum ini sayang, jika suatu saat nanti kita sudah pergi dari kehidupannya dan bertemu orang yang menggunakan aroma parfum ini, mungkin saja orang itu Ayah mu. Kita hanya cukup memandanginya dari jauh, tanpa harus menghampirinya, karena hidupnya bukan untuk kita." Ucap Arumi sembari mengelus-elus perutnya.
Barra duduk tepat di samping Arumi, sebisa mungkin Arumi menghindari kontak mata dengan Barra. Ia tak mau memperlihatkan wajahnya yang lebam apalagi matanya yang terlihat memerah.
"Bi, berikan obat yang harus Arumi minum!" Perintah Barra saat ia melihat Arumi sudah menyelesaikan sarapannya.
"Tidak usah Bi, saya mau minum susu dulu. Nanti saja saya akan meminumnya." Tolak Arumi saat Bi Ijak mulai membuka kotak obat Arumi.
"Sejak kapan kamu minum susu?" Tanya Barra yang menatap keanehan pada diri Arumi.
"Sejak hari ini." Jawab Arumi singkat tanpa menoleh sedikit pun pada Barra, yang terus saja memperhatikan Arumi. Wajah Arumi yang menggunakan make up tak seperti biasanya sangat mencuri perhatian Barra.
"Saya hanya sedang memanjakan diri saya saja Pak. Jika tidak ada yang mau memanjakan diri saya, maka saya sendirilah yang harus memanjakan diri saya sendiri." Cetus Arumi yang lekas berdiri dari duduknya.
Ia ingin meninggalkan Barra yang belum menyelesaikan makan paginya. Belum sempat kaki Arumi melangkah pergi dari meja makan. Barra menarik kasar tubuh Arumi hingga kembali terduduk.
"Eughhhh...." Rintih Arumi yang mengelus perutnya yang sedikit sakit.
"Kuatlah Nak, kamu harus kuat seperti ibu. Tetaplah bertahan di rahim ibu sayang," ucap Arumi di dalam hatinya.
"Hapus make up berlebihan mu! Jangan berusaha menjadi wanita penggoda di perusahaan saya." Perintah Barra pada Arumi yang tak mau menatap dirinya.
Arumi hanya diam tak menjawab, membuat Barra makin emosional.
"Hapus make up mu!!" Pekik Barra sembari menarik kasar tangan Arumi yang ia cengkram kuat.
"Tidak. Saya tidak mau." Jawab Arumi pada akhirnya. Ia menjawab perintah Barra dengan membuang pandangannya.
"Apa kamu bilang? Tidak mau? Lihat saya Arumi, katakan sekali lagi jika kamu tidak mau menuruti perintah saya!" Ucap Barra dengan geram, ia menarik kasar wajah Arumi. Sontak Arumi langsung memejamkan matanya.
"Bi, ambilkan tisue basah!" Perintah Barra pada Bi Ijah.
Bi Ijah langsung memberikan tisue basah pada Barra dengan tangan bergemetar. Ia sangat sedih melihat sikap Tuan mudanya yang begitu kasar pada Arumi.
Dengan kasar Barra menghapus make up yang digunakan Arumi dengan menggunakan tisue basah. Arumi terlihat menyeryitkan alisnya, saat Barra menyentuh pipi kirinya dengan kasar dan luka lebam di sudut bibirnya yang pecah karena tamparan keras yang ia dapati kemarin.
Setelah make up itu terhapus, Barra malah diam mematung, ia melihat dengan jelas wajah Arumi yang Arumi tutupi dengan make up-nya tadi. Arumi melepaskan tangan Barra yang mencengkram wajahnya. Rasa bersalah bergelayut pada diri Barra. Baru kali ini ia memukul seorang wanita sampai terluka seperti ini. Terlebih wanita ini adalah istrinya sendiri.
"Tunggu sebentar, jangan pergi dulu, saya akan menutupinya lagi." Ucap Arumi saat ia membuang kembali pandangannya dari Barra. Satu luka yang masih Arumi sembunyikan dan belum Barra lihat dari mahakaryanya pada wajah sang istri. Yaitu bola mata sang istri yang terlihat ada gumpalan darah.
Arumi berjalan kembali ke kamarnya, ia kembali memoles wajahnya dengan peralatan make upnya. Tak berapa lama Arumi keluar dari kamarnya dengan make up yang lebih tipis namun sudah dapat menutupi luka lebam dan jiplakan tangan Barra.
Barra yang sejak tadi hanya duduk termenung di meja makan dan tak melanjutkan sarapannya, di hampiri oleh Arumi yang telah selesai menutup semua bagian wajahnya yang lebam dan terluka.
"Saya sudah siap Pak, ayo kita berangkat." Ucap Arumi yang kemudian berjalan lebih dahulu keluar dari apartemen.
Barra turun di lantai dasar, sedangkan Arumi turun di basemen. Ia mengendarai mobil dan menjemput Barra yang sudah berdiri di lobby menunggu kedatangan mobil Arumi. Arumi turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk suami sekaligus bosnya. Barra masuk ke dalam mobil, matanya terus memperhatikan Arumi yang mengunakan kacamata hitam, tidak seperti biasanya.
Di sepanjang perjalanan Arumi dan Barra tidak ada yang bersuara. Mata Barra sesekali memandangi Arumi yag terlihat duduk tak nyaman di balik kemudinya. Beberapa kali Arumi merasa perutnya keram, kehamilan seakan membuatnya tak sanggup mengendarai mobil yang sedang ia kemudikan kini.