
Pagi hari di ruang makan Villa yang berada di kawasan puncak. Kedua keluarga yang kini sedang menikmati waktu sarapan pagi mereka. Pagi hari ini Tuan Brandon dan Nyonya Miranda menyesuaikan menu sarapan mereka dengan keluarga Abimanyu yang langsung memakan menu makanan berat yaitu memakan nasi dengan lauk pauknya. Diantaranya ada pepes tahu, tempe goreng, telur mata sapi, sayur asem, sambal, lalapan sayur mentah yang tentunya ada Jengkol muda kesukaan Anaya dan ikan asin jambal roti sebagai pelengkapnya. Tidak ada kesan mewah di menu sarapan pagi mereka pagi ini, namun terasa begitu nikmat karena kebersamaan. Hingga Tuan Brandon pun tanpa sadar sudah berkali-kali menambahkan nasi ke dalam piringnya.
"Dad, doyan apa lapar? Ini sudah kali ketiga Mommy lihat Daddy menambahkan nasi ke dalam piring makan Daddy. Ingat gula Dad, kita sudah tuwir loh." Tegur Nyonya Miranda pada suaminya.
"Sesekali makan begini gak apa-apa Mom, lagi pula habis ini Daddy dan Abi mau main bulu tangkis. Ya kan Bie?" Jawab Tuan Brandon tanpa melihat sang istri, ia sibuk menuang kembali lauk-lauk penambah nafsu makannya.
Sementara Abi hanya manggut-manggut tak berani bersuara karena belum menghabiskan sarapan paginya. Peraturan yang ia buat sendiri dan tak boleh ia langgar, jika sampai ia langgar dapat dipastikan kemurkaan istrinya yang menganggap dirinya tak konsisten.
Usai sarapan, Barra menggendong Nathan yang sudah dimandikan Arumi untuk berjalan-jalan di sekitaran villa, ia memberikan waktu untuk Arumi mandi terlebih dahulu dari dirinya. Arumi dan Barra tak menggunakan jasa baby sister dalam mengurus Nathan. Karena dilarang oleh Arabella.
Jika Arumi mengalami kerepotan. Arabella siap membantu Arumi menjaga cucunya yang bebas ia sentuh kapan saja ini, tidak seperti putra Adnan dahulu. Ia hampir tak pernah merasakan nikmatnya menjadi seorang nenek karena tak diizinkan untuk menyentuh ataupun menggendong Riski terlalu lama oleh Septi maupun kedua besannya. Banyak alasan yang panjang jika dijabarkan, namun yang pasti Arabella merasa Septi dan juga keluarganya tak sudi jika Riski disentuh oleh dirinya yang tak selevel dengan mereka.
Seusai mandi, Arumi menyiapkan keperluan mandi Barra dan juga pakaian ganti yang akan dikenakan oleh suaminya itu. Keduanya hidup begitu harmonis dengan kesederhanaan. Berbeda dengan Barra yang terlihat santai. Steve dan Adnan sudah terlihat rapi dengan setelan jas kerjanya. Hari ini adalah hari pertama mereka menjabat posisi yang baru diberikan Barra pada mereka.
Barra memang sudah memberikan jabatan baru pada keduanya, tapi jangan harap dia akan memberikan sambutan pada keduanya di perusahaan. Karena dia sudah enggan untuk menginjakkan kakinya di perusahaan milik sang Daddy. Ia sudah tak mau terlalu stress memikirkan roda pertukaran perusahaan lagi. Itulah sebabnya Barra menunjuk Adnan dan juga Steve untuk menjalankan perusahaannya.
Tadinya Barra menunjuk dan menawarkan Kevin untuk maju menjadi CEO, karena ia anggap Kevin berkompeten dalam menjalankan roda perusahaannya, namun siapa sangka Kevin menolak tawaran Barra. Ia hanya tetap ingin menjadi asisten pribadi Barra, ia tak gila dengan jabatan, bahkan dialah yang mengusulkan Barra untuk mengangkat Adnan sebagai CEO dan Steve menjadi asisten CEO.
Puas mengitari Villa, Nathan pun terlihat tertidur nyenyak di dalam gendongan Barra. Saat Barra berjalan ingin memasuki Villa, dia melihat kembali keributan di teras depan. Dimana Adnan terus mencari masalah dengan Steve. Lagi-lagi anak sulung dari pasangan Abimanyu dan Arabella ini merasa cemburu hanya karena Anaya mencium pipi Steve, di saat Steve berpamitan padanya untuk berangkat bekerja.
"Hei, kalian ini jangan beradegan uwuk-uwuk di depan ku. Sengaja sekali kalian ini menyebalkan." Seru Adnan yang langsung saja menarik tubuh mungil Anaya menjauh dari Steve.
"Ishhh... Kak Adnan apa-apaan sih?" Protes Anaya sambil menghentakan kakinya karena kesal dijauhkan dari Steve.
"Apa-apaan Apa-apaan, kamu tuh belom pantes beradegan kaya gitu. Sana ambil tas ransel mu pergi ke sekolah." Cetus Adnan yang melupakan jika adik bungsunya sudah lulus dari bangku putih abu-abunya.
"Hah, Kak Adnan pikir Nay masih sekolah. Jangan ngelindur Kak, Nay sudah lulus dan otw kawin sekarang." Jawab Anaya sembari menyemburkan bau naga yang dibenci oleh Adnan. Bau apalagi yang di benci Adnan kalau bukan bau jengkol.
Anaya terlihat tertawa melihat Adnan sampai mengeluarkan air mata saking mualnya dia menyium aroma jengkol dari mulut Anaya.
"Tentu betah, apapun baunya, kalau cinta akan terasa wangi," jawab Steve yang selalu pandai menerbangkan hati Anaya.
"Owhh... Om Steve, makin sayang dan cinta deh Nay sama Om." Balas Anaya yang langsung berlari kecil memeluk Steve.
"Ishhhh menjijikan. Sok romantis." Cemooh Adnan yang hati kecilnya merasa nelangsa karena menjadi jomblo akut setelah perceraiannya dengan Septi.
Barra yang sengaja berdiri jauh dari mereka agar Nathan tak terbangun karena keributan mereka pun hanya bisa tersenyum melihat perdebatan mereka. Ia merasa hidupnya lebih berwarna semenjak menjadi anggota keluarga Arumi.
Adnan yang melihat Barra senyum-senyum sendiri dari jauh pun, melambaikan tangannya. Ia memanggil adik iparnya yang merupakan bos besarnya saat di perusahaan tempat ia bekerja untuk datang menghampirinya. Barra yang dipanggil Kakak iparnya pun datang menghampiri.
"Bar, cium tanganku dulu sini." Ucap Adnan sembari menjulurkan tangan kanannya agar Barra mencium punggung tangannya.
Tanpa ingin memancing keributan lagi yang akan mengganggu tidur sang putra, Barra pun mengikuti maunya Adnan. Ia mencium tangan Adnan setelah merubah posisi gendongan Nathan.
"Bagus, adik ipar yang patut di teladani. Ok kalau begitu Kakak pergi bekerja dulu ya. Bar, titip Ayah dan Ibu. Jangan lupa sampai di rumah nanti tangkap ikan untuk di bakar Ibu ya. Aku mau pulang kerja nanti, Ibu sudah memasakan ikan bakar kesukaan ku. Ok Bar." Ucap Adnan yang diakhir kalimatnya malah menepuk-nepuk lembut pipi Barra.
Barra langsung mengerucutkan bibirnya dan menekuk wajahnya dengan sempurna. Ia ingin sekali menghajar sikap seenaknya Adnan terhadap dirinya. Tapi mau bagaimana, ia tengah menggendong sang putra yang terlelap dengan pulasnya.
"Sabar, ini ujian. Bukan Kak Adnan jika dia tak menyebalkan." Ucap Anaya yang malah mengambil Nathan dari gendongan Barra.
"Uwuk-uwuk...tayang-tayang... tayangnya Ante, udah mandi digendong cama Papi campai bobo ya humm... tayang-tayang. Luthu amat cih humm embem-embemm pipi nha kaya bakpau. Lanjutin bobo sama Ante yuk di kamar. Papinya biar dimandiin dulu cama Mami iya... soalnya Papi Nathan bau acem iya-iya hummm." Celoteh Anaya saat menggendong Nathan.
Anaya seolah memberi kesempatan pada Barra untuk berduaan dengan Arumi sebelum pulang ke Jakarta. Dikala Abimanyu dan Tuan Brandon tengah sibuk bermain bulu tangkis, sedangkan Arabella dan Miranda tengah menikmati waktu mereka bersantai berenang sembari bertukar cerita. Saat ini memang waktu yang sangat tepat untuk mereka melakukan bercocok tanam.