My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kebaikan Barra



"Mau kemana kau, bos tengil?" Tanya Adnan yang lagi-lagi kerjanya hanya menonton televisi.


"Kerja, mau apa lagi. Aku ini tidak seperti kau pengacara, pengabgguran banyak acara." Cibir Barra yang sudah rapi dengan setelan jas mahal yang sudah tidak merasakan jasa laundry lagi. Karena jas mahal itu sudah terbiasa dicuci dengan tangan ibu mertuanya yang dengan suka rela mencucinya, siapa lagi jika bukan Arabella.


"Bisa saja kau merendahkan ku. Aku ikut ya? Supaya aku tak jadi pengangguran lagi, aku ingin bekerja di perusahaan mu, jadi apa saja yang penting kerjaannya hanya duduk-duduk santai saja sudah dapat gaji." Pinta Adnan yang langsung bangun dari duduknya.


Ia menghampiri Barra yang sedang menunggu Arabella keluar dari kamarnya. Menantu kesayangan Arabella ini ingin pamit dengan ibu mertua kesayangannya sebelum berangkat bekerja.


"Mana ada pekerjaan seperti itu Kak Adnan?" Sahut Barra dengan mengerucutkan bibirnya dan jangan tanya dengan bagaimana ekspresi wajahnya Barra saat ini. Kesal, tentu saja. Jika Kakak iparnya ikut bekerja dengannya pastinya hidupnya akan semakin pusing dan ribet dengan ulahnya yang tidak-tidak seperti dirumah.


"Ada, kan kau bosnya, tinggal atur saja pekerjaan yang enak untuk kakak ipar mu ini bukan? Tunggu aku ya, jangan di tinggal! Sekarang aku siap-siap dulu. Aku pinjam baju kerja mu ya? Karena baju-baju bagus ku tak boleh di bawanoleh istri durjana ku." Balas Adnan yang langsung masuk ke kamar Arumi yang ditempati Barra dan mengambil jas yang digantung di depan pintu lemari. Ia tak berani membuka lemari pakaian Barra dan kebetulan Arabella baru saja meletakkan pakaian Barra yang baru saja ia setrika.


Barra hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap semena-mena Adnan padanya. Di dalam hati Barra, ia sadar betul. Bagaimana menyebalkannya sikapnya dulu yang suka bertindak semena-mena seperti Adnan saat ini.


"Bu, ibu sedang apa? Aku ingin pamit, mau pergi bekerja dulu." Ucap Barra di depan pintu kamar mertuanya.


"Iya tunggu sebentar Nak." Jawab Arabella dari dalam kamar, tak lama kemudian Arabella pun keluar dari kamarnya.


Ia terkejut melihat Adnan mengenakan pakaian Barra."Adnan, kamu mau kemana? Kok pakai pakaian Barra. Itu pakaian baru saja ibu setrika Nan." Ucap Arabella yang terkejut tapi juga kagum dengan ketampanan Adnan mengenakan pakaian mahal milik Barra.


"Ikut Barra kerja bu, biar ada kegiatan." Jawab Adnan sembari tersenyum melihat sang ibu. Ia tahu sang ibu sedang mengagumi penampilannya.


"Iya, ada kegiatan mengganggu ku." Cicit Barra yang masih bisa di dengar Arabella dan juga Adnan. Keduanya kompak memukul bahu Barra, hingg Barra terkejut dan membulatkan kedua bola matanya.


"Heump, sakit bu," cicit Barra.


"Maaf Nak, Ibu refleks." Ucap Arabella yang segera mengusap bahu Barra.


Saat Arabella mengusap bahu Barra, Adnan yang cemburu langsung menangkupkan wajah ibunya.


"Bu, apa aku tampan dan keren menggunakan baju ini?" Tanya Adnan yang dijawab anggukan kepala dari Arabella.


"Benarkah,bu? Apa penampilan ku sudah seperti bos-bos besar?" Tanya Adnan lagi yang dijawab anggukan kepala dari Arabella.


"Dia bukan Bos bu, tapi bosen." Ledek Barra yangbkembali mendapat pukulan dari keduanya.


"Ibu sakit arghh..." rintih Barra dengan wajah merengutnya.


"Maaf Nak, ibu kelepasan." Ucap Arabella lagi.


"Arggghh, sudahlah, Ibu memang begitu, selalu memukul ku. Aku berangkat kerja dulu sampai nanti malam Bu, jika bisa pulang lebih cepat aku akan segera pulang." Balas Barra yang tahu Arabella tidak mau ditinggal sendirian di rumah.


"Aku ikut adik ipar ku dulu ya bu, siapa tahu aku dapat posisi keren di perusahaannya." Pamit Adnan yang mengharapkan doa dari sang ibu.


"Doa ibu menyertaimu Nan," balas Arabella yang mencium kening sang putra yang sengaja merundukkan kepalanya, agar Arabella bisa mencium keningnya.


Keduanya pun berangkat kerja ke perusahaan Barra dengan diantarkan oleh Akri yang memang sengaja tinggal di dekat kediaman kedua orang tua Barra. Barra membeli beberapa pintu kontrakan untuk di tempati Akri dan keluarganya tinggali. Ia sengaja membelinya, tidak menyewanya karena ia tidak tahu sampai kapan ia tinggal di kediaman kedua orang tua Arumi.


"Kau benaran mau bekerja atau cuma main-main Kak?"


"Menurut mu?" Adnan balik bertanya dan mulai bertingkah menyebalkan.


"Arghhh... aku malas berpikir, jawab saja apa yang kau inginkan, tidak ada ibu dan ayah di sini. Kau tak perlu bersikap munafik lagi. Kau sudah tolak tawaranku, sekarang malah minta pekerjaan di perusahaan ku. Sebenarnya pekerjaan apa yang kau inginkan?"


"Aku masih galau, hati ku masih tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu harus apa dan mau apa. Bercerai bukanlah hal yang mudah. Tapi aku juga butuh uang. Saldo di ATM ku sudah di keruk habis oleh istri durjana ku kemarin. Kau tahu saldo ATM ku hanya tinggal tiga ribu rupiah." Jawab Adnan yang malah mencurahkan isi hatinya.


Adnan menampilkan layar mobile bankingnya yang menunjukkan saldo tabungannya yang hanya berisi saldo tiga ribu rupiah, ia juga menunjukkan dompetnya yang berisi satu lembar uang lima ribu rupiah dan satu uang logam dua ratus rupiah. Barra terperangah sejenak melihatnya dan selanjutnya ia tertawa terbahak-bahak tak henti-hentinya.


Bukannya marah di tertawakan oleh Barra, Adnan pun ikut menertawakan nasibnya. "Keren kan? Kau pernah merasakannya?" Tanya Adnan masih dengan tawanya.


Barra langsung menggelengkan kepalanya, menjawab jika ia tidak pernah tak memiliki uang seperti Adnan. Barra mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi mobile banking salah satu Bank yang ada di ponselnya. Ia menunjukkan saldo yang ia miliki, hingga Adnan sulit membaca nominal saldo Barra yang terlalu banyak angka nol dibelakangnya.


"Semua mobile banking ku saldonya seperti ini, dan ini adalah salah satu mobile banking yang saldonya paling kecil." Ucap Barra sejujurnya, walaupun terlihat sombong.


"Keren, kau ini Sultan yang sesungguhnya." Puji Adnan pada adik iparnya. Ia tak menyangka Barra sekaya ini.


"Sebutkan rekening mu, akan aku transfer sejumlah uang untuk mu bertahan hidup."


"Tidak usah, aku tak mau berhutang dan merepotkan mu. Aku ikut bekerja dengan mu suapaya Ibu tak sedih melihatku tak ada kegiatan."


"Sudah jangan munafik, hidup itu butuh uang, jika ibu melihat mu melarat seperti ini, dia pasti bersedih. Jika ibu bersedih aku pasti akan kelaparan. Dia tak akan memasak dan mengurung dirinya di kamar. Masakan diluar sana tak ada yang seenak masakan ibu."


"Iya baiklah. Kau memang menantu yang baik, tapi bukan suami yang baik, hingga adikku pergi meninggalkan mu." Puji Adnan tapi ujungnya menjatuhkan Barra.


"Ya terserahlah apa kata mu."


Adnan pun memberikan nomor rekening tabungannya pada Barra dan Barra segera mentrasfer uang pada kakak iparnya. Betapa terkejutnya Adnan saat melihat Barra mentrasfer uang sebesar dua milyar untuk dirinya.


"Kau gila, sebanyak ini kau memberi uang pada ku." Adnan memukul-mukul bahu Barra, karena ia tak menyangka Barra akan mengirimkan uang sebanyak ini.


"Itu tak banyak, belilah mobil untuk akomodasi mu, mobil yang biasa kau gunakan sudah tak ada juga bukan? Beli juga baju dan sepatu kerja yang bagus dan bermerek. Jangan kau gunakan baju ku lagi! Aku paling tidak suka barang ku dipakai orang lain selain istriku."


"Baiklah aku akan menuruti perintah dari mu, besok aku akan berbelanja, diantar Akri ya?"


"Hemm... tapi kau harus kembali sebelum makan siang, karena Akri harus mengantarku ke perusahaan setelah jam makan siang."


"Baiklah, terus bagaimana dengan pekerjaan untuk ku?"


"Urus saja perasaan mu yang galau itu, setelah bisa move on kau baru boleh minta pekerjaan denganku. Aku tak mau perusahaan ku bangkrut karena mu."


"Ok. Terus sekarang tugas ku apa? Kau kan sudah membayarku."


"Aku ada tugas penting untuk mu, ini berkaitan dengan adikmu Arumi." Jawab Barra dengan senyum penuh artinya.