
Alex pergi sedikit menjauh dari Arumi dan Anaya. Ia memberikan waktu kedua kakak beradik ini untuk bicara lebih serius tanpa didengar atau pun dicampuri oleh dirinya.
"Anaya, apa kamu serius ingin menjadi seorang Dokter?" Tanya Arumi yang menatap serius wajah sang adik dari balik kaca mata hitam yang ia kenakan. Kaca mata yang berhasil menutup dengan sempurna luka yang diukir Barra hari ini.
"Aku serius ingin, tapi keuangan keluarga kita sudah tiarap sebelum berjuang Kak, mengandalkan beasiswa, sama saja bunuh diri. Harus sekeras apa adikmu ini akan belajar nantinya. Pastinya kepala ku akan botak jika dipaksa terus untuk belajar tiada henti, hingga hilang sudah masa muda ku yang indah, yang tak akan bisa aku cicipi nanti." Jawab Anaya dengan menghembuskan nafas kasarnya.
"Kakak akan biayakan kamu sampai menjadi seorang Dokter. Tapi kamu harus bisa Kakak ajak kerja sama, Naya." Arumi berkata sembari meremas tangan adiknya. Ia berusaha meyakinkan Anaya dengan perkataannya.
"Jangan bercanda Kak! Dapat duit darimana Kak? Bukannya Kak bilang waktu itu pernikahan kakak---" ucapan Anaya terpotong.
"Jangan pikirkan darimana uangnya! Yang kamu perlu tahu, kakak akan membantu mu mencapai cita-cita mu, termasuk cita-cita menjadi istri pria yang tengah berdiri di samping mobilnya itu." Ucap Arumi sembari menatap Alex yang tengah berdiri di dekat mobilnya. Ia sangat mengetahui dengan pasti, jika Anaya sangat mencintai Alex.
Anaya tersenyum sinis menatap sang kakak yang tengah menatap Alex dengan tatapan sendunya, ia tahu kakaknya dulu sangat mencintai Alex, namun Alex seperti pria yang memberikan harapan palsu pada kakaknya itu, memberikan perhatian,kasih sayang layaknya seorang kekasih namun tiba-tiba pergi dan menghilang begitu saja tanpa kabar. Dan bodohnya dirinya juga mencintai pria yang sama, parahnya lagi sang kakak mengetahui perasaan cintanya itu.
"Kenapa Kakak selalu tahu isi hati aku, sedang aku gak pernah bisa tahu isi hati kakak? Jangan terus berkorban Kak, karena kakak bukan sebuah lilin, sudah cukup Kak Adnan, aku tidak ingin menyakiti hati Kakak," ucap Anaya sembari menangis sesenggukan.
Anaya dapat merasakan kepedihan hati sang kakak. Jika ia menjadi Arumi, mungkin lebih baik mati bunuh diri dari pada terus mengalah dan hidup tersakiti. Jujur saja Anaya tak akan bisa berdamai dengan hatinya, jika ia berada di posisi Arumi. Terlebih Anaya sudah mengetahui masalah rumah tangga sang kakak yang tak baik-baik saja, sebelum Barra mengucapkan ijab kabul.
"Kakak sudah tidak mencintainya Nay, dia hanya masa lalu, tidak baik terus menatap masa lalu, meskipun masa lalu itu begitu indah untuk dikenang, tapi Kakak tidak mau terjebak di dalamnya. Semoga kamu tetap ingat, jika kriteria untuk menjadi istri Dokter Alex harus seorang Dokter pula. Apa kakak mu ini seorang Dokter? Apa mungkin kedua orang tuanya akan menerima menantunya yang berstatus janda? Cukup sudah kakak merasakan penolakan Nay. Kakak sudah tidak mau lagi." Tutur Arumi.
Anaya segera memeluk kakaknya, tanpa mampu menjawab ataupun menimpali ucapan sang kakak.
"Aku harus lakukan apa lagi untuk mu, kak?" Tanya Anaya dalam pelukan Arumi.
Arumi melepaskan pelukan sang adik, ia memberikan sebuah tas besar yang berisi tiga set perhiasan mewah dan beberapa ratus gram logam mulia yang ia beli tadi.
" Bawa tiga set perhiasan berlian ini, simpan di lemari Kakak. Tuliskan surat di masing kotaknya untuk Ayah, Ibu dan Kak Adnan. Biarkan mereka menemukan sendiri perhiasan ini saat kita pergi nanti. Sedangkan logam mulia ini, simpan baik-baik, ini adalah modal kita untuk pergi nanti. Kakak akan menemani mu kuliah di New York, tempat dimana Pria yang kamu cintai menuntut ilmu kedokterannya, hingga selesai."
"Tapi itu akan memakan banyak biaya Kak? Ini tak akan cukup." Anaya masih meragukan Arumi.
"Kamu tidak perlu khawatir Anaya, percayalah uang yang kakak miliki nanti akan cukup menunjang kehidupan kita, hingga kamu selesai menuntut ilmu di sana, bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan." Jawab Arumi dengan wajah meyakinkan.
Ia akan terus menguras uang Barra demi masa depan sang adik. Setelah ini dia akan membeli beberapa aset yang dapat menghasilkan uang setiap bulannya. Biarkan hanya dia yang menjadi wanita yang tidak beruntung di dunia ini, asal tidak dengan adiknya. Jangan sampai nasib buruk ini sampai menimpa pada sang adik.
"Benarkah? Tapi Kak, dia mau menemani kita karena tujuannya ke Kakak, bukan ke aku." Ucap Anaya lirih dengan penilaiannya.
Meskipun penilaian Anaya itu benar tentang Alex. Tapi menurut Arumi semua masih bisa berubah, asal Anaya mau berusaha mencuri perhatian dan hati Alex.
"Semua itu bisa di atur Anaya, jangan pesimis. Tidak mungkin dia mau dengan wanita bersuami seperti kakak ini, Nay. Bukankah cinta akan tumbuh karena terbiasa? Kamu buat dia terbiasa dengan mu, kakak yakin dia akan mencintai mu nanti."
"Tunggu! Kalau kakak pergi bersama ku ke sana? Lalu bagaimana dengan rumah tangga kakak dengan Kak Barra? Jangan bilang kakak mau melarikan diri?" Tanya Anaya yang baru tersadar. Ia menebak dengan pasti jalan pikiran Arumi untuk melarikan diri.
Dengan ragu, Arumi melepaskan kaca mata hitam yang ia kenakan, menyingkap rambutnya, menghapus make up tipisnya yang menutupi jiplakan tangan Barra di wajahnya, ia juga menghapus lipstik merah yang ia kenakan sejak tadi, yang berhasil menutupi sudut bibirnya yang terluka. Sontak saja apa yang Anaya lihat membuatnya terkejut dan tercengang.
"Aa-aaa...kakak...Kak Arumi," Anaya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu dengan ragu meraba wajah sang kakak yang terluka. Air mata yang sudah berhenti mengalir, kini kembali membanjiri pipi Anaya dan Arumi.
Arumi tersenyum pias dan menunduk. "Kakak ingin pergi, memulai hidup yang baru bersama mu di sana Anaya, meskipun kelak kita akan kembali lagi ke negara ini, tapi setidaknya kakak sudah memiliki banyak waktu untuk melupakan rasa sakit ini." Ucap Arumi dengan air mata yang berderai.
"Kita akan selalu bersama kak, Kak Arumi jangan khawatir, jika kakak tidak siap untuk kembali, aku pun akan tetap bersama kakak di sana. Jangan merasa sendiri lagi, masih ada aku kak, adik mu." Balas Anaya yang kembali menitikan air matanya. Anaya memeluk tubuh Arumi.
"Perintah saja aku, katakan apa yang harus aku lakukan untukmu, agar hidup mu bahagia kak, walau hanya sekali saja. Sudah cukup semua ini. Aku tak mau melihat mu menderita terlalu panjang." Ucap Anaya lagi.
Arumi kembali mengurai pelukannya, ia menatap wajah sang adik, menghapus air mata Anaya yang terjun begitu deras dari kelopak mata indahnya.
"Banyak hal yang kamu harus lakukan nanti untuk kakak, sekarang kamu pulanglah Anaya. Fokuslah belajar demi masa depanmu, cita-cita mu. Kakak harap kamu bisa menyembunyikan semua ini dari keluarga kita." Ucap Arumi yang meminta adiknya itu untuk pulang.
"Iya, kakak bisa percayakan semuanya pada ku, Kak. Kalau begitu aku pamit dulu. Jaga diri kakak sampai tiga bulan ke depan ya. Karena aku baru akan lulus tiga bulan ke depan." Balas Anaya yang mulai beranjak dari kursi taman yang ia duduki.
"Hati-hati Nay, kabarin kalau sudah sampai di rumah ya!"
"Hemmm pasti. Kakak juga hati-hati, jangan lupa berkabar ya kak,"
"Iya, kita akan terus berkabar Naya." Jawab Arumi yang melambaikan tangannya ketika Anaya mulai pergi menjauh darinya, dan ketika motor yang dikemudikan Anaya hilang dari pandangan Arumi, tiba-tiba saja tubuh Arumi limbung, ia jatuh ke rerumputan. Alex segera berlari dan menolong Arumi.
"Arumi...Arumi bangun, ada apa dengan mu?" Ucap Alex yang terus berusaha membangunkan Arumi yang jatuh pingsan.