My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tertidur dan pingsan



Tepat puku 07.00 pagi, Arumi kembali membersihkan dirinya, setelah Barra membangunkan dirinya yang tertidur begitu lelapnya dengan posisi meringkuk ke arah jendela kamar.


"Bangun!! Bangun Arumi, kita harus bekerja, saya ada meeting dengan perusahaan Baja hari ini," ucap Barra sembari mengguncangkan tubuh Arumi yang berada di dalam selimutnya.


"Hemm... iya," jawab Arumi dengan suara paraunya.


Arumi membuka matanya dengan mengerjap-ngerjap matanya, saat matanya terbuka, ia lihat suaminya sudah terlihat segar dengan rambut yang basah dan wangi sampoo miliknya.


"Cepat bangun, ambilkan saya pakaian!" Perintah Barra yang berdiri sambil berkacak pinggang.


Dengan mata yang masih lengkat dan terasa berat, Arumi bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia berdiri dengan sekuat tenaga, menahan rasa sakit di daerah intinya.


"Mmmmphhh sakit sekali," rintihnya dengan wajah menahan kesakitan.


Alih-alih membantu ataupun mengasihani Arumi, Barra nalah meminta Arumi untuk segera mengambilkan pakaiannya di kamar pribadinya.


"Cepat Arumi! Kamu bisa membuat saya masuk angin." Perintah Barra lagi yang membuat Arumi tersenyum getir.


Jika di dalam cerita novel kebanyakan, sepasang suami istri yang baru saja melakukan penyatuannya, suaminya akan memanjakan sang istri yang masih merasa sakit didaerah intinya. Tapi tidak dengan Arumi. Barra malah terus memerintah dirinya tanpa rasa perduli sedikitpun dengan apa yang Arumi rasakan saat ini.


"Kuat Arumi, kuat! Tak ada yang menyayangi dan mengasihi diri mu! Jangan manja! Dunia ini tak seindah yang ada di pikiran dan angan-angan mu." Ucap Arumi di dalam hatinya, ia menyemangati dirinya untuk menahan segela rasa yang kini ia rasakan.


Arumi bangun dan mengambil handuknya. Ia melilitkan handuk itu ke tubuhnya dan keluar hanya memggunakan handuk, ia berjalan menahan segela rasa sakit dan mengganjalndi area intinya.


"Arghhh.... sakit sekali Tuhan," rintihnya di dalam hati sembari tersenyum getir pada dirinya sendiri.


Ia mengambil baju kerja Barra di lemari pakaiannya, lengkap dengan pakaian dalam untuk suaminya itu. Ia kembali ke dalam kamarnya dengan membawa pakaian untuk suaminya.


"Lama sekali! Jalanmu seperti keong." Umpat Barra pada Arumi.


Arumi hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya yang cukup mencubit hatinya itu. Alih-alih menanggapi dan membantu Barra mengenakan pakaiannya, Arumi malah masuk ke kamar mandi dan membanting pintunkmar mandi dengan kerasnya.


Ia mandi dengan waktu yang tak berapa lama, karena waktu sudah mengejarnya dan Barra terus saja menggedor pintu kamar mandinya.


Arumi keluar dan segera mengenakan pakaiannya, lagi-lagi Barra sengaja tidak keluar dari kamar Arumi, ia dapat melihat dengan jelas Arumi yang sedang mengenakan pakaiannya. Arumi yang cukup kesakitan sangat kesulitan mengenakan segitiga berenda miliknya.


Alih-alih membantu, Barra malah tersenyum menyeringai. Dengan susah payah Arumi mengenakan pakaiannya seorang diri, ia mulai merias tipis wajahnya setelah selesai berpakaian. Ia menutup bercak merah di lehernya dengan Foundation yang senada dengan warna kulitnya.


Di perjalanan Barra kembali tertidur dengan begitu pulas, sementara Arumi berusaha menahan kantuk yang mendera dirinya. Sering kali Arumi mendapatkan klakson panjang dari mobil di belakangnya, karena ia sempat-sempatnya terpejam di saat ia menunggu lampu merah berwarna hijau kembali.


Sesampainya di perusahaan Arumi menghentikan laju kendaraannya tepat di depan Lobby perusahaan. Melihat mobil Barra yang di kemudikan Arumi datang, Barra yang sudah terbangun karena seringnya mendengar klakson mobil dari pengendara lain itu pun dibukakan pintu oleh security yang bertugas hari ini.


Arumi kembali melajukan kendaraan milik Barra, yang digadang-gadang Barra sudah diberikan untuk istrinya itu, saat ia menukarnya dengan sehelai roti selai coklat.


Dengan susah payah dan berusaha berkonsentrasi tingkat tinggi, Arumi berhasil memarkirkan kendaraannya ini dengan luris dan benar. Lelah dan mengantuk, itulah yang saat ini Arumi rasakan. Alih-alih keluar dari mobilnya setelah mematikan mesin mobilnya. Arumi malah memejamkan matanya yang sudah terasa berat jika dipaksakan untuk terus terjaga, meskipun perutnya terasa begitu lapar.


Ia pun tertidur dengan begitu cepatnya di dalam mobilnya itu. Rasa ngantuk berat membuat Arumi belum sempat membuka sedikit jendela mobil, agar ada sirkulasi udara masuk ke dalam mobilnya itu. Dua jam sudah Arumi tertidur di dalam mobil, tanpa orang lain tahu apalagi Barra, suaminya yang terlihat tak perduli dengan Arumi, meskipun mereka sudah melakukan penyatuan mereka hari ini.


Panik, perasaan itulah yang kini Mahmud rasakan ketika melihat Arumi tertidur di dalam mobil yang terkunci tanpa ada celah udara yang masuk ke dalam mobilnya. Mahmud adalah salah seorang Security yang tengah berpatroli di area parkiran mobil hari ini.


Ia segera menghubungi rekannya untuk melakukan pertolongan, berita Arumi yang tertidur dan pingsan di mobil membuat heboh seluruh karyawan. Berita heboh ini pun terdengar di telinga Barra yang baru saja menyelesaikan meetingnya bersama perusahaan Baja.


"Apa? Dimana dia sekarang?" Tanya Barra pada Kevin yang memberitahukan dirinya.


Rasa khawatir dan bersalah kini hinggap di diri Barra saat ini, kenapa ia bisa melupakan keberadaan istrinya yang baru saja ia gauli pagi buta tadi. Barra melangkahkan kakinya begitu cepat ke parkiran mobil dimana Arumi belum bisa di evakuasi. Karena mereka takut merusak mobil Bos besar mereka yang harganya setinggi langit. Miris, nyawa Arumi tak semahal mobil milik Barra ini.


"Minggir! Kenapa belum di buka?" Ucap Barra yang terperangah melihat Arumi masih berada di dalam mobil.


"Kami bingung bagaimana cara mengeluarkannya, kami takut merusak mobil Tuan muda," jawab kepala security itu dengan jujurnya.


Barra melepaskan jas yang ia kenakan dan menggulungnya di tangannya hingga kelengannya. Ia berjalan ke sisi kiri mobil dan Bughhh!! Barra meninju kaca mobil itu hingga pecah. Ia membuka pintu mobil dan langsung saja masuk ke dalam mobil. Ia berusaha membangunkan Arumi yang sudah bernafas dengan lemah. Ia hampir kehabisan oksigen.


"Arumi!! Bangun Arumi!! Arumi!! Hai bangun!!" Pekik Barra yang terus mengguncangkan tubuh Arumi yang tak merespon panggilannya.


"Arumi!! Arumi!! Hai!!" Pekik Barra lagi yang sudah memukul pipi Arumi dengan kencangnya hingga pipi itu terlihat memerah, namun Arumi tidak juga merespon.


Rasa cemas dan takut kehilangan obat tidur dan penenang dirinya pun mulai mendera diri Barra.


"Jangan diam saja bodoh! Siapkan mobil, kita harus membawanya kerumah sakit." Ucap Barra melirik kearah Kevin yang tengah memperhatikannya.


Tak hanya Kevin yang melihat keanehan pada diri Barra yang terlihat begitu mencemaskan keadaan Arumi yang merupakan sekertaris barunya itu, tapi juga para karyawan lain yang menonton aksi heroik Barra menyelamatkan Arumi.