My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kondisi buruk Arumi



Cittt!! [Suara rem mendadak dari mobil Kevin].


"Tuan. Mobil sudah siap," ucap Kevin pada Barra yang masih berusaha membangunkan Arumi.


Mendengar ucapan Kevin Barra langsung mengangkat tubuh mungil Arumi yang telah ia gagahi pagi ini.


"Bangun Arumi! Kamu belum boleh mati dan pergi meninggalkan aku," gumam Barra yang menatap dalam Arumi yang masih saja memejamkan matanya.


Kevin membukakan pintu mobil bagian belakang. Barra masuk dan membaringkan Arumi di sana. Tak melihat adanya keberadaan Indri, akhirnya Barra kembali masuk dan membiarkan kepala Arumi tidur di atas pangkuannya.


Di sepanjang jalan Barra terus meminta Kevin agar cepat sampai di rumah sakit terdekat, ia juga tak lepas memandangi wajah Arumi yang sudah mulai terlihat putih memucat. Arumi hampir mati lemas


"Arumi, bertahanlah! Kita hampir sampai." Ucap Barra yang mengusap lembut kepala Arumi.


Sungguh hati terdalamnya begitu takut kehilangan sosok Arumi yang baru mengisi hari-harinya kini. Mengobati rasa hampa dan kegelisahannya saat Pinkan meninggalkan dan mencampakkan dirinya tanpa kejelasan hubungan mereka.


Sesampainya di rumah sakit. Barra langsung saja menggendong Arumi ke ruang IGD, padahal Kevin sedang memanggil para medis untuk membantu keadaan Arumi. Lagi-lagi Kevin dibuat terperangah dengan sikap tak biasa Barra pada Arumi.


"Dokter tolong! Tolong bantu is----- " pekik Barra yang terhenti, hampir saja ia keceplosan mengakui Arumi sebagai istrinya di depan orang banyak termasuk Kevin yang barada di sana.


"Tolong bantu karyawan saya Dokter, dia tertidur di dalam mobil yang terkunci dari dalam sampai tak sadarkan diri seperti ini." Ucap Barra lagi pada seorang Dokter pria bernama Alex.


Manik mata Dokter tampan itu melihat Arumi yang di dalam gendongan Barra. Betapa terkejutnya ia melihat wanita yang ia cintai terlihat pucat dalam gendongan seorang pria tampan yang begitu mencemaskan dirinya.


"Arumi!" Cicit sang Dokter di dalam hatinya.


"Letakkan dia di sana Tuan!" Pinta Dokter Alex pada Barra.


Barra segera keluar dari bilik Arumi di baringkan olehnya. Ia memberi kesempatan sang Dokter untuk menyelamatkan istrinya.


"Arumi, ada apa dengan mu? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Alex di dalam hatinya sembari terus melakukan observasi dan penanganan pada Arumi.


Detak jantung Arumi melemah dan tubuhnya hampir mati lemas. Alex memasangkan banyak alat bantu ditubuh Arumi, mengecek keadaan Arumi lewat monitor yang terhubung dengan tubuh Arumi.


"Dok, tekanan darah pasien rendah, detak jantungnya menurun, saturasi oksigen di tubuh pasien di bawah lima puluh persen," ucap salah satu tim medis yang juga melakukan penangan pada Arumi.


Alex segera melakukan tindakan pada Arumi, ia memperjuangkan hidup wanita yang sangat ia cintai di masa sekolah SMA dulu, disaat Alex sedang memperjuangkan agar Arumi tetap hidup, di luar ruang IGD, Barra terlihat tidak tenang, ia terus berjalan bolak-balik seperti setrikaan.


Bagaimana Arumi tetap sabar menerima caci maki Barra terhadap dirinya. Hanya karena tidurnya terusik oleh suara klakson mobil dari pengguna jalan, Barra kembali menyakiti Arumi dengan kata-kata kasarnya.


Alih-alih marah atau pun menangis, Arumi malah memberikan senyuman terbaiknya pada Barra. Senyum yang seketika membuat amarah Barra mereda, senyum yang mencubit relung hati Barra, senyum yang menyadarkan Barra, jika istrinya sudah sangat tersakiti hingga sudah tak tahu harus melakukan apa lagi selain tersenyum manis pada hidupnya yang begitu pahit dan getir.


Saat Arumi melihat suaminya berhenti bicara, berhenti memgumpatinya, berhenti melakukan kekerasan verbal padanya, ia merubah senyum manis itu. Ya. Senyum manis itu hilang, pudar di wajah cantik Arumi, berganti dengan senyum getir dan gerakan bibir yang gemetar. Sebegitu kuat Arumi menahan sakit hatinya, sebegitu kuat ia menerima pahitnya kehidupan yang belum berpihak pada dirinya. Dia seperti orang yang sudah kehilangan harapan untuk merasakan indahnya hidup dengan kebahagiaan.


Jika di rumah sakit Barra sedang dilanda kecemasan dan kekhawatiran. Sedangkan di kediaman Arumi, tiba-tiba Adnan datang ke rumah kedua orangtuanya tanpa melanjutkan kembali kendaraannya, bayang-bayang wajah sang adik mengusik relung hatinya.


Ya. Adnan tiba-tiba terbayang wajah sang adik yang tengah menangis, mengharapkan pelukan dari sang Kakak yang membencinya terlalu lama, hanya karena tak mau menanggung rasa malu akan perbuatan keluarga Bowo terhadap dirinya.


"Bu, bagaimana pernikahan Arumi?" Tanya Andan yang baru saja tiba di kediaman orang tuanya. Ia menghampiri sang ibu yang tengah melamun di tepi kolam ikan.


"Astagfirullah Adnan, kamu mengagetkan ibu saja, kalau datang ucapkan Assalamualaikum dulu nak," ucap Arabella sembari mengusap dadanya karena keterkejutan dirinya.


"Maaf Bu, jika Adnan menganggetkan Ibu. Bagaimana pernikahan Rumi Bu? Apa berjalan lancar?" Tanya Adnan lagi yang begitu penasaran dengan adiknya.


"Lancar Nak, sepertinya suami dan keluarga suaminya sangat menyayangi Arumi, terlebih di adalah anak sahabat Ayah mu sekaligus atasan Ayah mu." Jawab Arabella yang membaca raut kecemasan di wajah putranya.


"Benarkah bu? Tapi kenapa hati ku berkata tidak ya Bu. Aku datang ke sini karena terbayang dia yang sedang tak baik-baik saja, dia tengah menangis meminta pertolongan ku." Balas Adnan yang menceritakan apa yang ia rasakan.


Feeling seorang kakak yang begitu kuat terhadap adiknya, namun karena istri dan keluarga istri yang dicintainya tak menyukai sang adik karena kejadian itu. Ia harus membenci dan menjauhi sang adik demi kelangsungan rumah tangganya bersama sang istri. Sungguh ironi namun inilah adanya.


"Itu hanya perasaan mu saja Adnan, mungkin karena kamu tak bisa datang di pernikahannya, kamu jadi bisa berpikiran seperti itu." Sahut Arabella yang menampik perasaan Adnan.


Sejujurnya dari saat ia membuka matanya dini hari hingga saat ini, Arabella pun sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya, terlebih ia bermimpi yang tidak-tidak tentang putrinya itu.


"Bu, apa boleh aku masuk ke kamar Arumi, untuk mengobati kerinduan ku padanya?" Adnan meminta izin pada Arabella untuk masuk ke kamar adiknya.


"Masuklah, pintunya tidak dikunci Nak, barang-barang adikmu sudah tak ada satupun di rumah ini. Dia sudah membawa pergi semua barang-barangnya di bantu adik mu,Anaya. Sewaktu dirimu menginap di sini kemarin. Ibu memintanya untuk tinggal di luar, agar kamu bisa leluasa datang kerumah ini dan menginap dengan keluarga kecilmu." Jawab Arabella sembari menitikan air matanya.


"Bu, maafkan aku," ucap Adnan yang memeluk tubuh Arabella dari belakang.


"Sudah, tidak apa-apa. Adik mu sangat mengerti keadaan mu, dia tidak marah sama sekali pada mu dan ibu. Pergilah ke kamarnya, jika kamu ingin melapaskan kerinduanmu pada adikmu." Ara bella mengusap tangan Adnan yang memeluk tubuhnya.