My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Minta cerai



Arumi tersenyum getir saat melihat hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Tolong berikan saya tisue Pak," ucap Arumi yang terduduk di atas lantai.


"Apa? Apa kamu sedang menyuruh saya? Siapa kamu berani-beraninya menyuruh saya?" Sahut Barra yang kemudian berjongkok di depan Arumi.


"Saya tidak menyuruh Bapak, saya hanya minta tolong," ucap Arumi yang akhirnya menatap wajah Barra yang tengah berjongkok di hadapannya.


Barra melihat jelas darah mengalir deras dari hidung Arumi, dan melihat dengan jelas pula bola mata Arumi yang ia tutup-tutupi dari dirinya sejak pagi tadi.


"Arumi," cicit Barra yang melihat hidung dan mata Arumi begitu menyedihkan.


"Bapak sudah lihat? Jika sudah saya minta maaf, karena mata saya seperti ini, mata saya bisa seperti ini karena suami saya menampar saya seperti yang Bapak lakukan tadi." Ucap Arumi yang seakan tak menganggap Barra sebagai suaminya,saat mereka berada di kantor.


Arumi bicara seakan menyindir apa yang dilakukan Barra terhadap dirinya, setelah puas bicara Arumi segera berdiri, ia mencari tisue yang ada di ruang kerja Barra. Ia menyumpal hidungnya dengan tisue dan membersihkan darahnya yang menetes di lantai dengan menggunakan tisue. Apa yang dilakukan Arumi tak lepas dari pandangan mata Barra.


Setelah selesai membersihkan lantai ruang kerja Barra dengan tisue, Arumi mencari kaca mata hitamnya, ia kembali mengenakannya saat menemukan kaca mata hitam itu, kemudian ia undur diri dari ruang kerja Barra, tanpa mendapati sahutan dari Barra. Barra hanya diam mematung, ia tak tahu harus berbuat apa, yang pasti ia kembali menyesal telah membuat Arumi terluka karenanya. Lebih tepatnya karena tak bisa mengontrol emosinya sendiri.


"Kak Indri, aku ke toilet dulu ya? Mau pipis," ucap Arumi berbohong pada Indri sewaktu ia sudah keluar dari ruangan Barra, ia ingin ke toilet karena ingin menumpahkan air matanya yang tak terbendung lagi.


"Ya, hati-hati jalannya ya, jangan tergesa-gesa nanti jatuh! Makanya kalau makan buburnya jangan pedas-pedas jadi kebeletkan," sahut Indri sembari tertawa. Ia bicara seperti itu karena tak tahu apa yang telah terjadi di ruang kerja Tuan mudanya itu. Hingga ia beranggapan Arumi ingin ke toilet karena sakit perut terlalu banyak makan sambel di buburin. Suatu ciri khas para wanita pecinta pedas seperti dirinya.


Di dalam toilet, Arumi menumpahkan air matanya sembari meraba pipinya yang masih terasa panas dan perih karena buah tamparan yang kedua dari tangan Barra. Sementara itu, Barra yang tersadar akan kesalahannya pun keluar mencari keberadaan Arumi.


"Dimana Arumi, Indri?" Tanya Barra yang terlihat begitu khawatir.


"Di toilet Tuan," jawab Indri dengan tatapan terkejutnya. Bagimana Indri tak terkejut, ia melihat ekpresi rasa bersalah di wajah Barra. Ekpresi yang tak pernah ia lihat sebelumnya, selama ia bekerja di perusahaan ini.


"Drama rumah tangga pun di mulai sepertinya," gumam Indri di dalam hatinya. Ia segera menghubungi sang suami yang merupakan asisten bossnya itu.


"Sayang, sepertinya mereka habis ribut di ruangan Tuan muda kita yang menyebalkan itu, dan Tuan muda bodoh kita itu sekarang sedang menyusul istrinya ke toilet, " ucap Indri yang mulai bergosip dengan suaminya sendiri.


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita susul mereka, jangan lupa bawa semua barang Arumi, pasti manusia bodoh itu akan membawa istrinya pulang. Sudah saatnya kita pergoki mereka. Bisa-bisanya menutupi ini dari kita." Balas Kevin sembari mengulum senyum.


"Pasti sikap cemburu dan over protektif mu ini, sudah membuat istrimu sakit hati, Tuan Barra," gumam Kevin yang sudah bersiap menyusul keberadaan Barra.


"Sakit sekali hiks..." rintih Arumi dalam tangisnya.


"Sakit sekali Bu, Ayah... ini lebih menyakitkan dari penolakan keluarga Bowo pada ku, hiks... pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi, aku menyesal Bu, Ayah. Ini terlalu menyakitkan hati dan seluruh jiwa raga ku," gumam Arumi lirih dalam tangisnya.


Barra yang mendengar rintihan dan penyesalan Arumi langsung saja mendobrak bilik pintu toilet itu, dan menarik tubuh Arumi dalam pelukannya.


"Maafkan saya, maafkan saya sudah menyakiti mu. Saya janji tidak akan melakukannya lagi. Maafkan saya Arumi.. maafkan saya," Ucap Barra saat memeluk tubuh mungil Arumi dan tangis Arumi pun pecah di dalam pelukan Barra.


"Ceraikan saya, saya sudah tak sanggup lagi," ucap Arumi yang malah membuat Barra makin mempererat pelukannya.


"Tidak, kamu tidak boleh meminta cerai dari saya, kamu tidak boleh meninggalkan saya, Arumi." tolak Barra yang tanpa sadar menitikan air matanya dan memeluk erat tubuh sang istri. Istri yang sudah mengobati insomia yang ia derita karena perbuatan Pinkan padanya.


Permintaan Arumi ini sama sekali tak pernah terbayangkan oleh Barra. Permintaan yang berhasil membuat ia menitikan air mata. Rasa tak ingin kehilangan Arumi yang pernah ia rasakan satu bulan yang lalu kembali ia rasakan, karena mendengar permintaan istri yang tersakiti oleh sikapnya yang kasar dua hari ini.


Saat mereka sama-sama sedang menangis di dalam bilik toilet. Di luar toilet sudah berdiri Kevin dan Indri, menunggu keduanya keluar dari toilet wanita itu.


"Tak sanggup kehilangan tapi tak sanggup mengakui Arumi istrinya sendiri. Mau Anda sebenarnya apa Tuan Muda, egois sekali," gerutu Kevin yang didengar istrinya.


"Sayang, jangan bicara seperti itu, walau bagaimana pun kita tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi mereka." Ucap Indri sembari menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.


"Ayo kita pulang, saya akan membawa mu ke Dokter untuk mengobati semua luka di wajah mu itu, dan sebaiknya kamu istirahat di apartemen saja." Ucap Barra lagi yang sama sekali tak di tanggapi oleh Arumi yang masih menangis di dalam pelukannya.


Ketika Barra menuntun Arumi keluar dari toilet, Barra dikejutkan dengan Kevin dan Indri yang sudah berdiri menanti kehadirannya di muka pintu toilet wanita itu. Kevin mengambil tas Arumi yang ada di tangan Indri dan memberikannya kepada Barra.


"Tak perlu menjelaskan apapun pada kami, kami sudah tahu dan akan tetap tutup mulut." Ucap Kevin saat ia menyodorkan tas Arumi pada Barra.


"Kunci mobil?" Tanya Barra singkat yang kemudian langsung dijawab oleh Indri. "Di dalam tas Arumi Tuan,"


"Terima kasih," ucapan terima kasih Barra untuk pertama kalinya yang di dengar oleh Indri.


Indri sampai-sampai terperangah mendengar Barra bisa mengucapkan terima kasih padanya, karena biasanya Bosnya ini hanya bisa memerintah tanpa ingin atau pun sempat mengucapkan kata terima kasih pada semua orang yang ia beri perintah.